"Ya Allaah bagus banget pemandangannya"
"Sukak bangettt liat yang ijo-ijoo, berpadu biru langit, dan lembutnya awan putih"
"Pengen bangettt ada di puncak gunung itu"
Dan yappp, sesuatu yang bagus terlihat dari kejauhan emang bener-bener memanjakan mata sekalii. Semangatnya rasa ingin sampai ada di puncak itu tuh bener-bener membara. Pengen segera sampai pada puncak dan merasakan langsung betapa indahnya dunia di atas puncak.
Dan siapa yang tau, ternyata saat menjalani perjalanan menujunya. Menyusuri jalan-jalan menanjak yang seperti gak ada ujungnya, penuh peluh keringat, tak jarang juga dihadapkan dengan kanan kiri jurang yang curam, penuh tantangan. Sangat menguji kesabaran apa diri mampu untuk sampai di sana. Atau justru balik kanan karena tak sabar dengan jalan-jalan yang seharusnya dilalui.
Sama halnya kayak tiap-tiap rakaat shalat kita. Kita yang selalu meminta pada-Nya untuk diberi petunjuk jalan yang lurus, jalan orang-orang terdahulu, jalan-jalan penuh kenikmatan.
Dan pada saat Allah sudah memberi apa yang kita minta. Iya, jalan yang lurus itu. Berkelok dan menikung, menanjak dan melongsor, curam dan terjal, deras dan gemuruh, keras dan runcing. Jalan-jalan para nabi dan rasul. Jalan menuju kecintaan yang abadi.
Sebab pangkal kelurusan itu ada di dalam keyakinan. Ialah hati yang tak pernah berbelok dari Allah sebagai sesembahan yang haq. Lurus, sebab hanya pada Allah tunduknya, patuhnya, taatnya, dan tentramnya. Lurus, sebab hanya untuk Allah yakinnya, pasrahnya, dan kebajikannya. Lurus, sebab hanya bersama Allah gigil takutnya, gerisik harapnya, dan getar cintanya.
Sesungguhnya jalan itu bukan jalan yang lurus tanpa berkelok. Tanpa halangan dan rintangan. Bukan. Jalan lurus itu adalah jalan yang mendaki juga sukar. Jalan membebaskan manusia dari segala hal perbudakan, kelaparan, dan kesengsaraan yang mencengkram diri karena nafsu yang terlalu mendominasi.