Pergi adalah Jalan Terbaik
Di satu sisi, menjadi seseorang yang selalu ada adalah hal yang diinginkan. Meskipun terkesan tidak peduli dengan diri sendiri, dapat berbuat banyak kepada orang lain adalah suatu hal membuat hati lega. Dapat memberikan kebahagiaan, hati ini juga ikut bahagia. Tidak ingin rasanya, melihat penderitaan di depan mata. Inginnya, semua bahagia, tertawa dan tidak saling memendam duka, lara dan emosi jiwa. Namun, kenyataan memberikan pelajaran bahwa kebaikan tidak selalu dibalas dengan kebaikan. Impian tertinggi sudah direlakan, namun dibalas dengan kenyataan yang menyakitkan. Mungkin lebih dari satu impian yang lepas. Impian bukan sembarang impian. Mimpi yang ingin diwujudkan sejak lama, harus kandas.
Tiada waktu untuk menyesali. Masih banyak hal yang patut disyukuri.
Mungkin kalimat itulah yang menjadi penguat lahir dan batin hingga detik ini. Ribuan hari yang sudah dilewati, diharapkan tidak menjadi hari-hari yang terlewati begitu saja oleh hal yang sia-sia. Jika sudah begini, apakah memang benar bahwa ini adalah takdir terbaik? Semua bentuk ujian yang terlewati, apakah dapat mengantarkan diri menuju kebahagiaan kekal setelah mati? --- Jutaan do'a dan harapan terus dirapalkan setiap hari. Harap hidup dapat menjadi baik dan selalu baik. Namun kenyataan, seringkali menyiksa diri. Dan iman adalah kunci untuk dapat melewati semua ini. --- Tuhan...
Jika dapat memilih, pilihan hidup itu sudah terangkai sejak dahulu. Pilihan hidup yang sesungguhnya sederhana dan jauh dari kata ingin menggenggam dunia. Namun ternyata, jalan hidup masih berada pada garis ujian lama yang tak berkesudahan. Hati dan langkah rasanya lelah, terus berhadapan dengan hal tersebut berulang kali. Ingin lari, tapi kaki harus tetap berada disini. --- Pergi adalah jalan terbaik, itu yang menjadi harapan kini. Namun, hidup ini begitu misteri. Dan keputusan terakhir, tetap berada pada tangan-Nya. Hanya bisa berserah diri, semoga akhir cerita nanti dapat terwujud dengan indah.
1 Juni 2023











