Padang-Rapid Earthquake VS Unhuman human without humanity-made super comlpex Disaster (Palestine, Syiria, etc.)
Masih terasa flashback gempa menjelang maghrib kemarin sore (Senin, 9 Januari 2017). Padang diguncang 5,5 SR. Panik cari sesuatu yang bisa jadi penutup (IYKWIM), padahal di depan mata. Lari sprint gedebag-gedebug, turun tangga hampir ngejungklek. Sekilas mata celingak-celinguk ya satu gang panik keluar rumah, berhamburan. Ekkeh aja sampe takikardi, kaki lemes serasa gak sanggup bediri. Wah ini takut mati atau apa...Alhamdulillah berakhir dalam hitungan detik, gak sampe 30 detik, rasanya. Soalnya, gak sempet ngitung dan gak sempet nyari jam juga.
Jadi actual-topic gitu, apalagi temen kuliah. Soalnya siangnya kita abis ujian management bencana. Seandainya masuk kriteria bencana gempa itu, duh rasanya masih belum bisa langsung apply. Tapi, jangan sampe Ya Allah. Naudzubillah...
Kalau menurut sumber kuliah jadi gini...kalo rapid earthquake kemungkinan tsunami itu minor/1meter (ini terlintas pas lagi lari keluar rumah). Jadi pas lari mencoba meyakinkan diri kalo ini rapid earthquake dan InsyaAllah gak tsunami dan yang penting menjauh dari bangunan berpotensi runtuh. Berhubung ekkeh tinggal di salah satu kelurahan di Padang yang masih masuk zona merah kalo untuk tsunami. Jadi mikirin tsunami mulu kalo udah gempa.
Emang gak bisa disamain. Gak sebanding banget...dari berbagai aspek juga. Antara gempa 5,5 SR sama man-made disaster. Or unhuman-human-made disaster? The subjects are human but without humanity. So what should we call it? Human without humanity-made disaster? Kalo digabung, unhuman human without humanity-made super complex disaster?
Soalnya, itu dampaknya mengancam-mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat iya, korban jiwa banyak sekali, cacat fisik sangat banyak, dampak mental-psikologis sudah jelas, kerusakan lingkungan-infrastruktur nyata, semua sudah memenuhi aspek bencana sesuai defenisi bencana menurut UU no. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Kenapa bencana complex? Ya karna udah ada ancaman keamanan juga.
Mungkin kesamaan gempa sama Human without humanity-made disaster mungkin lebih rasa “terancam secara keamanan dan keselamatan”...menurut ekkeh siiih
Wah gak kebayang...bukan bukan...gak sanggup membayangkan mereka saudara seiman di Palestina dan Suriah khususnya. Kalau bukan bom roket-rudal dari langit, ranjau granat dari daratan, dan tak hinggu peluru dari segara penjuru siap menembus sisi tubuh manapun. Gak sebanding...ketakutan mereka yang bersembunyi khususnya para anak dan wanita. Betapa susahnya hidup dibawah ancaman keselamatan dan keamanan.Ancaman itu melekat di kehidupan sehari-hari, menyatu dengan raga, sepanjang hari, setiap waktu. Sedangkan ekkeh dan kita semua yang mengalami gempa kemaren hanya beberapa detik, gak sampe satu menit. Abis itu? Ya bubar, ngerjain apa yang perlu dikerjain minus ancaman dan ketakutan sebelumnya. Memang, mungkin masih terasa flashback, atau perasaan was-was beberapa jam setelah gempa atau kalo kayak ekkeh masih suka kaget kalo ada bunyi berdentum, ya tergantung mekanisme “coping” masing-masing. Adakah kita bersyukur?
Ekkeh juga gak bisa bantu apa-apa, tapi bisa kasih channel buat yang mau memberikan sebagian hartanya (percayalah, disebagian harta kita ada sebagian rezeki mereka, hak mereka yang termasuk golongan yang lebih mebutuhkan). Ini salah satunya...
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1075357115844196&set=a.714685288578049.1073741830.100001097546858&type=3&theater