Tadi malam kita bertemu. Kamu masih tetap tampak mempesona dan selalu membuat aku jatuh cinta walau tidak satupun kata yang kamu ucap. Kamu hanya duduk sambil menatapku. Aku berprasangka bahwa kamu masih marah atau canggung, sehingga bingung untuk memulai percakapan. Karena kerinduan yang begitu dalam, akhirnya aku mulai membuka percakapan dan kamu masih diam. Apakah aku menyerah? Tidak akan, Tuan. Aku tetap berusaha mengajakmu bicara, mengingat hal konyol yang pernah kita lakukan dan bercerita tentang hari indah yang pernah kita lalui. Aura dinginmu perlahan hilang. Perlahan tapi pasti, aku mulai melihat senyummu mulai hadir. Senyum yang selama ini sangat aku rindukan. Terimakasih untuk senyum indahmu itu. Terimakasih sudah hadir di mimpiku. Aku (sangat) rindu kamu.















