Berani untuk Percaya Diri
Diam dan mengurung diri disini adalah membatasi segala ruang yang ada pada diri, cara melihat, mendengar, menyimak, dan berlaku. Meski terkadang aku merasa begitu nyaman untuk satu sisi, tapi lama-lama membosankan dan aku menyadari untuk mendewasakan diriku aku tak bisa terlalu lama disini seperti ini. Aku tak bisa terlalu lama lagi membiarkan segala macam bentuk permasalahan dengan diriku sendiri terus muncul dan hanya membiarkan saja dan menghindar untuk diselesaikan. Karena aku tak berinteraksi dengan banyak orang. Aku bukan anak-anak yang masih pantas mendapatkan perlindungan. Bukan lagi mengenai rasa sakit soal jatuh karena berlarian lalu aku menangis. Bukan lagi untuk menghentikan tangisku aku diberi permen, balon, atau mainan, maka aku berhenti menangis. Tapi, kini lain. Fase ini memang pernah aku jalani, tapi semakin umurku bertambah, aku pun tahu permasalahan yang ada pada diriku atau ketika aku menangis tak bisa hanya selesai dengan seperti itu.
Aku sudah bertumbuh, tumbuh begitu cepat. Hampir seperempat abad kujalani kehidupana ini, aku harus lebih kuat dari sebelumnya. Walaupun, aku masih merasa kebingungan, selanjutnya aku harus bagaimana, seperti apa, apa yang harus aku lakukan sekarang. Kini sedikit demi sedikit aku mulai tahu, seperti apa aku seharusnya. Satu jawaban yang baru kutemukan adalah aku harus berani. Berani mengatasi diriku sendiri, mengatasi segala rasa takutku, melangkahkan kakiku untuk memulai, bertemu sesuatu yang lebih luas dari ini, menghalau rasa lelahku, melawan rintangan, dan berani mengakui diriku sendiri.
Aku tak ingin lagi seperti kemarin, yang setelah kurenungkan lagi, aku hanya membuat diriku lemah dan tak percaya diri, menganggap suatu kesulitan adalah salah satu halangan yang tak mungkin dapat aku atasi. Sehingga akhirnya pikiranku berkata aku tak mampu, aku pesimis, dan aku sudah mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku akan kalah dan aku akan gagal. Segala sesuatu ku anggap sulit, segala sesuatu tak akan berhasil karena aku sudah mengatakan sendiri bahwa aku kalah dan gagal. Aku tak mau punya pikiran seperti itu lagi. Posisiku sama dengan semua orang, bukan berarti dengan keadaanku saat ini, aku berada jauh di bawah orang lain. Aku punya posisi yang sama untuk menempatkan keberanian untuk percaya diriku. Aku punya peluang yang sama untuk berhasil, menang, dan menjalani hidupku menjadi lebih baik dan semakin baik.
Meski suatu tempat tak mungkin dihuni oleh semua orang, tapi bagaimana cara kita menjalani keadaan, menikmati kebahagiaan, tegar dalam kesedihan, serta kuat dalam menghadapi tantangan adalah milik semua orang. Dimanapun, jika kita sudah berjuang, kita akan tahu tempat yang membuat keadaan kita menjadi baik, lebih, dan semakin baik. Tanpa mengusik tempat orang lain, kita punya suatu tempat yang tepat untuk kita. Maka untuk diriku sendiri, berani untuk percaya diri. Aku dan diriku sendiri mari berjuang bersama-sama!