Diam tak selalu berati kalah. Mereka bilang lebih baik pasrah. Sebagian memaksa menyerah.
Tidak, aku hanya sedang menghitung langkah. Mungkin benar semua tak luput dari rasa gundah. Tak bermaksud serakah.
HIDUP MEMANG PERLU ARAH
-skrizka, 5 Mar 26

seen from Argentina
seen from China

seen from T1

seen from France

seen from Brunei
seen from Bangladesh
seen from Azerbaijan
seen from China
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from Germany
seen from United States
seen from United States
seen from Ukraine
seen from Belgium

seen from Germany
seen from United States

seen from Russia
Diam tak selalu berati kalah. Mereka bilang lebih baik pasrah. Sebagian memaksa menyerah.
Tidak, aku hanya sedang menghitung langkah. Mungkin benar semua tak luput dari rasa gundah. Tak bermaksud serakah.
HIDUP MEMANG PERLU ARAH
-skrizka, 5 Mar 26
melangkah sendiri
ternyata selama ini aku hanya melangkah sendiri. tertipu pikiran bahwa jarak selalu dapat dirapatkan.
ternyata selama ini aku hanya melangkah sendiri. tertipu khayal bahwa ada tempat bernama masa depan.
ternyata selama ini aku hanya melangkah sendiri. tertipu kenangan yang masih bisa mencipta senyum.
kenapa aku tidak juga lelah?
Semoga Mendapat Pasangan yang Suka Berdiskusi dan Mencari Solusi Bersama
Sebagai manusia yang memiliki rasa penasaran yang cukup banyak. Aku memiliki keinginan untuk membersamai seseorang yang suka belajar, berkomunikasi dengan asik, punya keterampilan pemecahan masalah dengan bijak.
Aku senang berbicara, pun aku senang mendengarkan. Keterampilan untuk mendengar menurutku lebih sulit dari pada berbicara. Dan memang tidaklah mudah.
Jadi aku harap, semoga pasanganku bisa mendengarkanku dan akupun mendengarkannya. Saling komunikasi tanpa perasaan terhakimi. Menerima satu sama lain, dan tahu kapan untuk realistis dan kapan harus menggunakan rasa.
Hidup ini singkat, maka aku ingin satu yang benar-benar membawa kata selamat. Selamat di dunia, dan selamat di akhirat.
Untuk permasalahan yang akan menghampiri, semoga kita temukan solusi yang tepat dan diiringi keridhoan Allah di dalamnya.
Ia boleh bermimpi setinggi-tingginya. Akupun juga.
Ia boleh meraih pencapaian yang ia idam-idamkan, akupun juga.
Tapi yang tak boleh kita lupa, atas segala hal yang kita dapat semoga selalu berlandas pada Agama dan Sunnah-Nya. Berlandas pada aturan-Nya. Semoga dibanyaknya ucapan yang kita ucapkan, selalu teduh dan selalu memuji kebesaran-Nya.
Sholat 5 waktu itu bukan bare minimum. Karena itu wajib. Sering kali terlupa, dan kagum pada laki-laki yang menjalankan sholat berjamaah di masjid. Padahal, bukankah Rasullah memang selalu berjamaah di masjid ya?
Semoga Allah memudahkan langkahmu untuk selalu sholat di masjid ya mas?
Walau aku kapan kita akan bersama. Semoga itu waktu yang tepat, dan dalam kesiapan yang terbaik pula. Semoga tak pernah hilang rasa syukurmu, dan tak hilang pula rasa syukurku. Saat tiba waktunya untuk beribadah bersama. Entah siapapun dirimu mas, semoga segala hal baik yang sedang kita upayakan berbuah manis atas izin-Nya.
Boyolali, 1 Januari 2025
23.40
Tidak usah membuang banyak waktumu untuk berdamai dengan diri sendiri atau berdamai kepada sesuatu yang sifatnya tidak dapat diubah seperti penilaian orang lain tentang dirimu.
Sekuat apa usahamu, kamu tidak akan mampu menutup penilaian orang lain tentang dirimu. Baikmu terlebih burukmu.
Yang pasti untuk kamu lakukan teruslah melangkah teruskanlah perjalananmu, karena semakin jauh langkahmu semakin dirimu belajar banyak untuk menerima keadaan untuk lebih belajar sabar dan ikhlas pada sesuatu yang sudah terjadi.
Hidup itu perlu perjalanan untuk mengevaluasi dirimu, sejauh mana kedewasaanmu dan menerima segala apapun sesuai kesanggupanmu.
Mengaku 'Salah' adalah tindakan yang benar, lalu dengan mengaku benar apa itu tindakan yg 'Salah?'.
Melangkah Lebih Jauh
Apakah kamu tim “hidup mah mengalir aja kaya air”? Membiarkan yang sudah berlalu, biarlah berlalu? Betul sih, yang sudah lewat tak dapat kita perbaiki lagi. Namun dengan melihat yang telah lalu, bukankah kita dapat memperbaiki yang ada di depan? Jadi, mari coba tengok sejenak hari yang telah lalu.
Akhir-akhir ini, circle saya sedang banyak membahas tentang “memaafkan”. Selain manis-manisnya nikmat Allah, pasti ada saja pahit getir kehidupan. Hal itu tentu Allah hadirkan sebagai pelajaran, termasuk: memaafkan. Sudahkah kita memaafkan segala kepahitan itu? Orang-orang yang menyakiti, skenario yang tak sesuai keinginan, apa lagi kira-kira? Hehe.
Semua yang Allah beri itu selalu positif. Negatif hanyalah cara pandang kita.
Kalimat mutiara di atas juga meyakinkan kita untuk menebar maaf. Karena seyogyanya, yang dari Allah, itu pasti yang terbaik. PR kita saja untuk lebih husnudzon dengan segala takdir. Saya jadi teringat pesan menenangkan dari Ustadz Syatori Abdurrauf (semoga Allah merahmati beliau).
“Takdir yang terjadi, adalah rambu yang membimbing kita meraih ridlo Allah. Namun, ia hanya akan menjadi rambu, ketika kita mampu menerima semuanya dengan hati yang lapang.”
“Takdir itu undangan dari Allah agar kita memiliki kesempatan untuk mengenakan pakaian hidup bernama: KEBAIKAN.”
Ustadz Syatori selalu berpesan. Untuk segala hal yang menguji kita, tanyailah diri, “amal baik apa yang bisa kulakukan dengan ujian ini, ya?” Setelah segala maaf dan penerimaan tadi, baru kita melangkah dalam penyelaman selanjutnya: refleksi diri.
Sebenarnya tak ada waktu khusus untuk kita melakukan refleksi diri. Dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja (namun beberapa orang juga butuh momentum). Mungkin ada yang berpendapat bahwa melihat masa lalu, adalah suatu hal yang tak perlu. Namun hei, kata siapa? Bukankah itu adalah kebutuhan kita untuk bertumbuh?
Mundur satu langkah, untuk maju dua langkah.
Sepertinya itu adalah kalimat yang tepat. Mundur dan melihat yang telah lalu, mungkin terlihat tak berguna. Namun itu diperlukan untuk menyiapkan langkah yang lebih mantap kan? Mungkin refleksi berisi diamnya diri. Namun sebenarnya itu adalah momentum untuk recharge dan develop kan?
Sekarang, mari kita simak salah satu materi kuliah Mba Birrul di Edinburgh University. Reflective Thinking: consiously thinking about and analyzing. Wah, yang begini ada mata kuliahnya juga ya, ternyata :D Nah, kita perlu diam sejenak untuk memikirkan beberapa hal berikut: 1) Apa saja yang sudah kita lakukan? Sudah benarkah? 2) Apa pengalaman yang sudah kita dapatkan? 3) Apa pelajaran yang kita dapatkan dari sana? 4) Dan bagaimana kita belajar dari semua itu?
Kehidupan selalu membutuhkan check point. Gunanya? Untuk kalibrasi bagaimana ia telah berjalan. Apakah bekal kita masih cukup? Kalau kurang, kita bisa isi bahan bakar terlebih dulu. Lalu apakah kita bergerak di jalan yang benar? Jika memang mulai melenceng, kita bisa segera membenarkan langkah. Dan begitulah refleksi diri bekerja dalam hidup.
Bagaimana nih, diri? Sudah sejenak hening untuk melejit lebih jauh? Yuk ambil jedamu! Berdiam, merenungi apa yang telah terjadi, dan mengencangkan sabuk untuk masa depan yang lebih indah. Namun saya tak pernah bosan mengingatkan (diri sendiri). Kita boleh membuat rencana terbaik versi kita. Tapi versi Allah, itu yang paaling baik. Karena Allah pencipta kita, jadi pasti Allah yang paling tahu kita. Ya kan?
Selamat hening!
------------------------- Jogja Istimewa, 12/01/2023 | 9:02 WIB
Pada Waktunya
Anda mungkin pernah membaca kisah remaja atau artis muda yang bunuh diri gegara depresi. Ketika diusut, alasannya banyak yang terdengar sederhana. Pernahkah Anda bertanya, "Gitu doang kok sampe bunuh diri ya?"
Dahulu saya pun mempertanyakan hal yang sama. Mengapa hal-hal kecil seperti putus cinta, ditolak pujaan hati, atau dikucilkan teman-teman sekolah dapat membuat orang dengan mudahnya mengakhiri hidup? Apakah mereka tidak punya rasa cinta pada diri sendiri? Apakah mereka tidak memikirkan perasaan keluarga yang ditinggalkan?
Seperti biasa, saya melakukan kilas balik pengalaman sendiri ketika SMP dan SMA. Kala itu, masalah yang saya hadapi juga remeh; nilai ujian jelek, dimarahi orang tua, atau berseteru dengan teman sekelas. Hal-hal tersebut sudah membuat saya stress dan bad mood. Ketika diingat lagi, sekarang hal itu terasa sangat receh. Batin pun berpikir, "Astaga, saya pernah ya selemah itu?"
Kemudian saya menjadi sadar bahwa di kala itu, kapasitas seorang Lila yang masih SMA memang hanya sebesar itu. Permasalahan receh itu sudah bisa membuat saya sedih. Kapasitas orang lain mungkin lebih besar atau lebih kecil, tergantung dari kepribadian dan pengalaman hidup masing-masing. Karena itulah orang-orang yang memiliki hidup keras biasanya menjadi dewasa dengan cepat. Bagaimana tidak, mereka dipaksa untuk berhadapan dengan masalah-masalah besar yang biasanya baru dialami orang ketika sudah dewasa.
Menyadari hal ini membuat saya memahami bahwa setiap masalah datang sesuai porsi dan pada waktunya. Apa yang kita alami kini adalah beban yang sesuai dengan kemampuan saat ini. Jika kita mendapatkan masalah berat, berarti diri sedang diuji dan diminta belajar untuk naik ke level selanjutnya.
Meski jatuh, terluka, dan kadang menangis, kita mesti terus berjuang untuk hidup dengan baik. Tidak selalu harus berlari. Kadang berjalan, kadang merangkak, kadang berhenti sejenak pun tak mengapa. Hidup adalah tentang mau terus belajar, yang penting jangan menyerah. Dalam setiap kepahitan pasti ada pelajaran manis yang bisa diambil.
Hidup rasanya memang tak pernah bertambah mudah. Baik Anda muda atau tua, miskin atau kaya, semua punya tantangannya masing-masing. Dalam tahap hidup apapun, kita semua punya cerita dan problem unik yang belum tentu bisa dipahami orang lain.
Mari kita berjuang bersama, menjalani tantangan masing-masing. Mungkin hari ini terasa berat, tapi inilah yang namanya hidup dan berproses. Yakinilah bahwa di suatu waktu di masa depan, kita akan menengok ke belakang dan tertawa, "Astaga, saya pernah ya selemah itu?"
2022
"Dulu kelasku di sebelah sini."
Jariku menunjuk ke deretan jendela yang ada di sisi depan gedung.
"Kalau waktu kelas sebelas, kelasku di situ--yang bangunannya terpisah itu. Pas kelas sepuluh masih rolling class jadi nggak ada ruang kelasnya yang tetap. Eh, mau keliling dulu nggak?" Tiba-tiba sebuah ide terbersit di benakku.
Tepat setelah itu, terdengar sebuah suara dari speaker yang sepertinya diletakkan di setiap sudut. "Gerbang sekolah akan ditutup pukul sebelas TEPAT! Para murid yang akan pulang diharap segera meninggalkan gedung sekolah. Bagi yang akan melaksanakan salat Jumat di sekolah ..."
Bahuku terkulai, seiring dengan semangatku yang melesak turun. Terbayang sudah tumpukan kegiatan yang menanti untuk ditunaikan setelah ini. Tidak akan ada cukup waktu kalau aku harus berputar-putar selama--setidaknya--satu jam di sini.
"Ya udah, pulang aja deh," putusku. Adikku--yang mengantar atas permintaanku dan karenanya berprinsip 'ngikut aja'--langsung mengiyakan.
Dengan menggenggam erat map berisi ijazah dan SKHUN yang baru saja aku ambil, aku menoleh ke arah sekolahku untuk terakhir kalinya. Dalam sekejap kepalaku dipenuhi memori masa putih abu-abuku. Kapan lagi aku bisa kembali ke sini?
Saat motor yang kami naiki melewati gerbang, aku merasakan satu ikatan putus dalam diriku. Ikatan yang selama ini menyiksaku, namun juga mati-matian kujaga.
###
Dengan ini kami kirimkan nama mahasiswa yang telah memenuhi syarat untuk dinyatakan lulus yudisium periode wisuda Maret 2022 sebagai berikut:
1. ...
2. ...
3. ...
Mataku menelusuri daftar nama yang kuterima dan mendapati namaku ada pada nomor tiga belas. Urutan terakhir. Tapi siapa peduli? Aku lulus yudisium. AKU LULUS YUDISIUM!
Anehnya, meskipun aku merasa bahagia, euforia itu seketika surut, secepat pasangnya. Air mata haru, lelah, dan lega yang aku pikir akan tumpah ternyata tidak ada. Ucapan-ucapan selamat yang mengikuti setelahnya aku tanggapi sekenanya, ditambah dengan seulas senyum supaya tetap terlihat bahwa aku menghargai.
Aku kembali merasakannya. Terputusnya satu ikatan lagi. Meninggalkanku dengan kehampaan yang berusaha aku pahami sebabnya.
###
Lalu ia datang. Perasaan yang kukenal baik, karena hampir selalu mengisi setiap hariku beberapa tahun ke belakang.
Takut.
"Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?"
"Lulus kuliah, bangga? Memangnya mau jadi apa?"
"Kalau bukan mahasiswa, lalu apa statusmu? Pengangguran?"
"Kamu masih berpikir kalau kamu punya tempat di dunia ini?"
Iya, rasa takut yang selalu membombardirku dengan pertanyaan dan pernyataan yang memojokkan. Dan sayangnya, sejauh ini, selalu berhasil menahanku, membuatku mempertanyakan dan meragukan diriku hingga memutuskan untuk tidak bergerak.
"Aku tidak ingin berjalan maju."
"Aku tidak mau meninggalkan saat ini."
Aku mendengar teriakan putus asa dari dalam diriku. Aku melihat diriku memohon hingga bercucur air mata. Dan hatiku sakit karena tahu aku tidak bisa menyanggupi permintaanku sendiri. Aku tidak boleh menyanggupinya.
"Waktu terus bergerak ke depan, tidak peduli apapun yang kita lakukan."
"Akan lebih menyakitkan untuk terus diam daripada mengambil satu langkah maju."
Adalah pesan yang dikirimkan semesta kepadaku. Pesan untuk menguatkanku ketika ketakutan mulai menyebarkan bisanya lagi ke dalam pikiranku. Pesan yang coba kuhidupi, karena aku tahu tidak ada cara lain yang lebih benar, atau lebih baik untuk menjalani hidup.
Sambil tetap berurai air mata, aku menoleh ke belakang. Pada saat-saat yang menyenangkan. Pada saat-saat yang tidak menyenangkan. Pada saat-saat yang sudah berada di masa laluku. Aku tidak akan membuangnya, janjiku dalam hati. Tapi aku juga tak akan terus tinggal di dalamnya.
Aku menutup kotak berisi setiap kenangan dalam hidupku.
Selamat tinggal, masa kanak-kanak.
Selamat tinggal, masa remaja.
Halo, dunia orang dewasa yang menakutkan.