28th of March 2016, 21:37 K.S.T. Galleria Foret Apartment, Seongdong-gu, Seoul, South Korea Hyo Yeon bersandar pada dada bidang Jong Woon dengan nyaman di sebuah sofa berwarna putih yang berada di sudut kamar luasnya. Memanfaatkan waktu luangnya bersama laki-laki yang katanya tidak jadi menikahi dirinya itu karena akhir-akhir ini ia sibuk untuk mempersiapkan segala sesuatu mengenai comeback stage-nya yang akan dilaksanakan awal bulan depan nanti. Tepatnya bulan April. Kedua iris mata cokelat tuanya terlalu fokus memperhatikan apa yang ditampilkan layar datar ponsel mahal Jong Woon. Tidak, Hyo Yeon tidak bermaksud untuk memeriksanya dan memarahinya karena mungkin saja ia mendapati foto-foto selca laki-laki itu bersama beberapa gadis yang ia sendiri tidak peduli kenal atau tidak. Hyo Yeon hanya sedang memperhatikan foto-foto dirinya dan juga laki-laki itu. Kadang-kadang, ia memang mengambil selca lewat ponsel Jong Woon. Dan itu bukan hanya sekali ataupun dua kali. Karena terlalu serius, Hyo Yeon tidak sadar kalau rambutnya yang baru beberapa hari ia ganti warnanya itu dibelai lembut oleh Jong Woon. "Na-ya," panggil Jong Woon pelan. "Hmm..." Hyo Yeon menjawab panggilan itu dengan gumaman tidak jelas tanpa menoleh dan tetap fokus. "Aku tidak menyukai modelnya." Mata Hyo Yeon mengerjap. "Model apa?" ia menoleh dan mendapati jarak wajahnya dengan laki-laki itu hanya dua senti saja. "Oppa..." rajuknya pelan. Jong Woon menyengir, ia mencuri sebuah kecupan di pipi Hyo Yeon, lalu berkata, "Model rambutmu. Aku menyukai model yang di teaser ini." Jong Woon menunjuk salah satu foto teaser untuk mini album terbaru Hyo Yeon di ponselnya. Sebuah foto yang sederhana. Gadis itu memakai baju kodok sepaha, rambutnya blonde kecokelatan dikepang dua, dan memegang sebuah balon berwarna merah. Teaser itu baru saja dirilis tepat tengah malam tadi. Ah, Jong Woon hampir melupakan sesuatu, gadis itu bahkan terlihat nyaman dengan sneakers putih! Sungguh, itu adalah hal yang tidak mungkin terjadi pada seorang Hyo Yeon. "Kau memakai sneakers?" Jong Woon mengerjap-ngerjapkan matanya, seakan baru sadar. "Apa tidak sakit?" "Oppa..." Hyo Yeon mengangkat tangannya dan hampir mencubit pinggang laki-laki itu kalau laki-laki itu tidak cepat-cepat memeluk pundaknya. "Waktu itu kau mengatakannya padaku kalau memakai sneakers kakimu akan terasa sakit." Balas Jong Woon. Hyo Yeon merengut, "Memang," ia menghela napas dan ikut memperhatikan foto teaser dirinya sendiri. "Tapi aku harus apa kalau konsepnya memang seperti itu? Terutama..." ia memutus ucapannya tiba-tiba. "Terutama?" tagih Jong Woon. Hyo Yeon melirik sekilas, "Ah Ra eonni mengancamku." "Jinjjayo?" tangan Jong Woon pindah ke pinggang Hyo Yeon. "Uhm," ia menatap Jong Woon dan buru-buru menyingkirkan tangan laki-laki itu di pinggangnya. "Katanya kalau aku tidak mau memakai sneakers dia akan membatalkan jadwal rekaman lagu duet denganmu." Seketika kamar luas Hyo Yeon dipenuhi oleh tawa Jong Woon yang terbahak-bahak. "Sebegitu inginnya kau berduet denganku, huh?" "Oppaaa..." kali ini Hyo Yeon berhasil mencubiti pinggang Jong Woon. Laki-laki itu langsung mengaduh kesakitan. "Ini bukti kalau kita memang benar-benar mempunyai hubungan, lagi pula," ia menghela napas, "Aku juga ingin membuktikan bahwa rumorku dengan Ahn Jae Hyun itu tidak benar." Jong Woon berusaha menghentikan tawanya, ia berdehem kecil, "Kalau pun benar juga tidak apa—Astaga, Lee Hyo Yeon!" Jeritnya saat Hyo Yeon tiba-tiba saja mencubit keras pinggangnya dan tanpa sadar ia menghindar, lalu terjatuh di sofa yang menyebabkan gadis itu berada di atasnya sekarang. Kedua pipi Hyo Yeon langsung memerah, "O-oppa..." Ekspresi terkejut Jong Woon berubah, seringaiannya terukir jelas yang membuat Hyo Yeon kembali mencubiti pinggangnya. "Ya! Ya! Ya!" Hyo Yeon terkekeh, "Rasakan!" "Ya! Kau berani padaku, huh?" Jong Woon mendorong tubuh tinggi dan ramping gadis itu sehingga keadaannya berbalik, Jong Woon sekarang berada di atas tubuh gadis itu. "Ya!" Jerit Hyo Yeon ketika Jong Woon mengkelitiki pinggangnya. "Oppa! Ya! Ya!" Teriaknya sambil berusaha melepaskan diri dari Jong Woon dan membalas kelitikannya. "Na-ya! Ya!" Balas Jong Woon. "Oppa! Geli! Hentikan! Hentikan!" Tawa keduanya terdengar keras dan mereka saling mengkelitiki sampai akhirnya Hyo Yeon berhenti, diikuti oleh Jong Woon. "Kenapa menutup wajahmu?" Jong Woon tersenyum manis melihat ekspresi gadis itu. Hyo Yeon menggeleng, "Kau akan mengetahui kedua pipiku memerah, jadi aku menutupnya." Jelasnya dengan nada polos. Jong Woon terkekeh kecil, lalu membenarkan posisinya. "Kau masih saja merasa malu padahal hubungan kita sudah lebih dari empat tahun." Hyo Yeon hanya mengangguk. Ia sudah kehabisan tenaga untuk membalas ucapan laki-laki itu. Jong Woon menarik tubuh gadis itu dan memeluknya erat. "Aku bahagia bisa mempunyai hubungan selama ini denganmu." Bisiknya pelan. Hyo Yeon mengangguk lagi, "Aku akan—Ah, tidak." Keningnya mengerut heran. "Apa? Oppa apa yang ingin kaukatakan?" Hyo Yeon mendongakkan sedikit wajahnya. Jong Woon kembali tersenyum saat melihat pipi gadis itu masih memerah. "Aniya..." ia menghela napas pelan, "Kau akan menggelar pesta untuk merayakan anniversary debutmu?" Hyo Yeon mengangguk. "Kapan?" "Sepertinya awal bulan april. Mungkin tanggal tujuh atau entahlah, yang mengatur jadwalku 'kan Chang Hyun oppa. Kenapa oppa tidak menanyakan langsung padanya saja? Kenapa—" Jong Woon mengecup pelan bibir Hyo Yeon. "Kau cerewet." Ia mengeratkan pelukannya. "Padahal aku hanya menanyakannya saja, hanya ingin tahu." Ia membenamkan wajah di sebelah pundak Hyo Yeon dan menghirup aromanya dalam-dalam. "Aku merindukanmu, sangat." Hyo Yeon tersenyum kecil, lalu mengusap-usap punggung Jong Woon. "Aku hanya pergi sebentar, buktinya aku kembali lagi padamu 'kan?" Jong Woon mengangguk, ia memejamkan matanya perlahan. "Uhm, cinta memang akan selalu kembali." Hyo Yeon tersenyum lagi. "Dan, karena kau adalah cintaku, jadi aku yakin kau akan kembali padaku. Seberapa jauh kau pergi kau akan tetap kembali padaku, Na-ya."