The Magic Castle : Sklohrad (Glass Castle) | PROLOG
Seoul, South Korea, June, 2030
Bel sekolah berbunyi tepat pada saat aku baru saja menutup sebuah buku tebal berwarna hijau tua, yang menceritakan tentang mitologi Yunani, semua ini karena seorang gadis yang beberapa hari lalu dengan seenak jidat memintaku mengerjakan semua misi yang berada di dalam virtual-reality game. Nama gadis itu Jung Soo Ra, dia adalah ketua OSIS di sekolah ini, tempat kelasnya hanya berbeda dua kelas dariku, dia termasuk gadis yang cukup pandai, namun semua kepintarannya berubah saat dia sudah memasang amusphere di kepalanya. Berubah dan itu drastis.
Maksudku, bukan berubah seperti hal yang tidak-tidak, melainkan menjadi sosok lain namun wajahnya tetap sama, dan seharusnya dia beruntung kalau di game itu ada tipe wajah yang serupa dengan kenyataannya. Dan satu lagi, dia juga harusnya merasa berterimakasih padaku karena menawarinya game itu serta mengajarkannya. Tapi, kenapa dia malah memberiku tugas sesulit ini?
Mitologi Yunani? Oh, ayolah, aku baru tiga hari bermain game itu, dan harus mencapai level 50 ke atas untuk bisa mengerti serta bertarung dengan yang namanya mitologi Yunani. Dasar Soo Ra payah! Kesalku dalam hati. Aku memutuskan untuk bangkit dari duduk karena perutku sudah berbunyi minta di isi sesuatu. Aku tidak sengaja menoleh ke arah jendela kelasku yang bersebrangan dengan lapangan basket, dan aku melihat laki-laki yang tidak asing lewat kedua iris mataku.
Aku memperhatikannya lama, sampai aku tidak sadar kalau laki-laki itu menoleh ke arahku dan membalas tatapanku. Awalnya aku diam tidak bergeming, tapi begitu senyuman manisnya terukir, aku baru sadar kalau diriku menahan napas, sialan. Umpatku dalam hati. Aku mendengus dan bergegas keluar kelas, hampir saja aku menabrak seseorang kalau tidak buru-buru menghentikan langkah cepatku.
“Hati-hati kalau jalan!” Serunya, aku mendongakkan kepala ke atas dan langsung mengerucutkan bibirku ketika tahu siapa orang yang hampir aku tabrak itu.
“Ya! Kim Rae Kyung! Kau yang harusnya hati-hati!” Balasku. Dia menyeringai.
“Sudahlah, seringaianmu itu jelek, kau tahu! Awas, aku mau lewat!” Aku bergeser sedikit ke arah kanan dan segera berjalan, tapi belum sempat selangkah aku capai, lenganku sudah ditarik olehnya. Aku menggertakkan gigi pelan.
“Putri dewi Hera seharusnya tidak seketus itu.” Ucapnya.
“Bukan urusanmu, dan apa kaubilang tadi? Ya! Kim Rae Kyung! Itu hanya dalam sebuah game.” Ketusku lagi, lalu cepat-cepat melepas tangannya di lenganku dan bergegas mengambil langkah lebar-lebar. Rasanya aku ingin teleportasi langsung ke lapangan basket, tepat di depan Ji Woon berada seperti di dalam game, tapi Yah... tentu saja itu hal yang sangat mustahil!
Aku memajukan bibirku hingga membentuk kerucut memikirkan tingkah laku Rae Kyung tadi, kenapa dia dengan seenaknya mengatakan bahwa aku putri dari dewi Hera dalam mitologi Yunani? Padahal dalam peraturan game tidak boleh sekalipun orang-orang tahu karakterku, apalagi saat ini aku bukan saja solo player. Aku mendengus dan menghentakkan kakiku kesal. Awas kalau aku bertemu dengan Ji Woon! Aku akan mengadu padanya!
Aku mempercepat langkah kakiku di koridor yang menuju lapangan basket, berharap kalau Ji Woon masih berada di sana dan bisa diajak makan siang bersama. Awal aku bertemu dengan Ji Woon benar-benar bukan awal yang pernah aku bayangkan sebelumnya, jika orang-orang normal bertemu dengan orang baru, pastinya hanya karena berpapasan, bertabrak pundak, ataupun tidak sengaja menginjak kaki. Tapi, aku dan dia berbeda.
Kim Ji Woon memang berbeda, itu adalah pikiran yang aku tangkap saat pertama menatap kedua iris mata hitam sipitnya. Aku tidak berkenalan secara nyata dengannya saat pertama kali bertemu. Saat itu kami hanya melempar senyuman setelah dia menolongku yang hampir terjatuh dari atas bangunan tinggi di kota Lyon, lantai satu Sklohrad–tentu saja di dalam game–dia sosok laki-laki yang sangat baik.
Memikirkannya membuatku merasa beruntung bisa mengenalnya, dia banyak membantuku di dunia nyata ataupun dalam dunia virtual yang diam-diam telah menjadi hidup kedua untukku. Tanpa sadar senyumanku terukir dan terasa tidak pernah bisa pudar. Sampai pada Soo Ra yang sepertinya sengaja menabrak sebelah bahuku hingga aku terhuyung ke belakang dan kembali menabrak sesuatu–tepatnya seseorang.
“Sudah kubilang ‘kan? Dia sedang tidak waras hari ini.” Ledek Kim Rae Kyung yang sudah berdiri di samping Soo Ra. Aku mencibir sebal.
“Kau benar-benar tidak waras, Se Jeong-ah?” tanya Soo Ra, meski raut wajahnya mengatakan kalau dia mengkhawatirkanku, tapi... Mengingat sifat evilnya yang bisa muncul kapan saja itu membuatku mengurungkan sikap simpatiku padanya.
“Tidak usah peduli padaku, aku terlalu sibuk dengan buku mitologi itu.” Balasku, lalu cemberut.
Seketika gadis tinggi bernama Jung Soo Ra itu terbahak keras-keras sampai-sampai Na Young dan Yeon Ji yang sedang bercakap di bangku panjang yang dekat dengan kantin itu menoleh. “Kenapa semua orang menyebalkan sih?”
Soo Ra berusaha menghentikan tawanya ketika mengetahui ada sinyal marah dalam diriku, pada nyatanya, aku tidak benar-benar marah, hanya saja kesal, kenapa hari ini semua orang seperti meledekiku? Atau, apa memang benar-benar meledekiku?
Soo Ra berdehem kecil, “Oh, jam empat sore nanti kita kumpul di base camp, jangan sampai telat ya! Jangan lupa ajak Kim Ji Woon-mu itu, tidak seru kalau tidak ada sepasang manusia aneh di dalam rapat!” Setelahnya dia tertawa lagi.
“Aku baru akan menemuinya.” Ucapku, menghiraukan kalimat terakhir yang dia katakan.
“Oh, bukannya Ji Woon sudah selesai latihan basket ya?” Hae Jin yang datang entah dari mana pun berucap. Aku menoleh dan menatapnya dengan tatapan horror. Ia memeriksa jam berwarna perak yang melingkar di tangannya. “Sudah hampir jam satu.” Ia membalas tatapanku, “Kenapa kau melihatku seperti itu? Hmm... Kurasa Ji Woon sudah berada di kantin.” Ia menunjuk ke salah satu meja bundar berukuran sedang di dalam kantin, aku baru sadar kalau kami berhenti tepat di depan kantin. “Itu...”
Aku refleks menolehkan kepala dan kedua mataku langsung membulat mendapati Ji Woon duduk bersebelahan di satu meja dengan seorang gadis. “Sialan.” Umpatku telak. “Kim Ji Woon aku tidak akan memaafkanmu!” Teriakku sampai beberapa siswa dan siswi di dalam kantin itu menoleh. Aku menghela napas meredakan amarah serta rasa maluku, lalu berbalik dan berlari menjauh dari sana.
Apa yang sudah kaulakukan Jeon Se Jeong? Kenapa kau mempermalukan dirimu di depan banyak seperti itu? Gumamku dalam hati setelah sampai di dalam toilet wanita lantai tiga. Aku memutuskan untuk membasuh wajahku beberapa kali dengan air yang mengalir di keran. Sial. Sial. Sial. Gerutuku dalam hati.
Kim Ji Woon menyebalkan. Lihat saja nanti.
Aku menyeret kedua kakiku yang terasa lemas keluar dari toilet dan kembali menghela napas. Mengingat bahwa guru yang mengajarku setelah istirahat makan siang selesai itu tidak mengajar, aku pun melangkah ke arah base camp ruang OSIS yang berada di dekat tangga darurat di ujung kanan lantai tiga. Suasana sekitar yang sepi tidak bisa menakuti diriku karena aku sudah terbiasa berteman dengan kesepian, kesendirian.
Aku langsung membuka pintu ruangan itu, tapi anehnya tidak bisa terbuka. “Terkunci?” gumamku, aku mendengus lagi. Pasti Soo Ra atau Na Ra yang menguncinya, kemarin mereka yang terakhir keluar ruangan. Sebagai anggota OSIS, kami sering mengadakan rapat di ruangan bercat biru tua itu. Sering bukan berarti hanya beberapa kali dalam seminggu, tapi setiap hari. Ya, kami rapat setiap hari, setiap kami mendapat anggota baru. Aku terpaksa kembali ke kantin untuk meminta kunci yang dipegang oleh Soo Ra. Padahal sejak kejadian tadi, aku jadi kesal setiap bertemu dengannya. Apalagi di kantin tadi... Sudahlah, Jeon Se Jeong! Jangan terlalu dipikirkan!
“Dia meninggalkan buku catatannya di salah satu meja di perpustakaan.” Jelas Jung Hyun sambil meletakkan sebuah buku yang tidak tebal berwarna hijau toska di tengah-tengah meja berukuran segi panjang warna cokelat kayu. “Dan saat aku mengambilnya, sebuah foto terjatuh dan membuatku terkejut.” Dia duduk di kursi terdekat dan membalikkan sampul buku itu. Mataku membulat saat melihat sebuah foto yang tidak asing di pikiranku. Aku yakin berbelas orang yang berada di ruangan ini pun kebanyakan berpikiran sama seperti diriku.
“Sklohrad, berdiri tanpa ditopang apa pun di tengah-tengah keindahan awan. Lebih tepatnya, kastil kaca yang melayang di langit tidak berujung, seolah ikut berteman dengan awan.” Jelas Soo Ra sambil memperhatikan foto itu. Dia menoleh ke arah seorang gadis dengan rambut panjang berwarna hitam dikuncir kuda. Dia gadis baru, maksudku, baru terlihat, baru kukenal meski tidak tahu namanya siapa. “Aku... Aku menyimpannya ke dalam memori internal amusphere-ku dari game.”
“Game apa yang tengah kaumainkan?” Soo Ra tersentak dengan gebrakan tangan Yeon Ji.
“Tentu saja dia memainkan SAEMO! Eonni, apakah kastil ini tidak bisa menjelaskan semuanya? Huh,” Yeon Ji kembali duduk setelah menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Aku yakin dia bosan dengan ucapan Soo Ra yang selalu seperti itu setiap ada siswa ataupun siswi yang ketahuan bermain SAEMO.
“Kau beta tester?” tanya Jung Hyun langsung. Tapi gadis itu diam, tidak mengangguk, ataupun menggeleng. Hanya menundukkan kepalanya sedikit, aku merasakan ada rasa takut dalam dirinya. Atau... Apa karena dia tidak tahu apa itu beta tester?
“SAEMO baru akan dirilis bulan depan,” ucap Ji Woon, namun tidak berhasil mengalihkan perhatianku, lebih tepatnya aku sengaja mendiamkannya, biar saja dia berbalik marah padaku, tapi kenyataan bahwa gadis ini adalah gadis yang tadi bersamanya membuatku merasa ingin keluar dari ruangan ini secepatnya!
“Dan hanya orang-orang yang terpilihlah yang bisa memainkannya sejak tanggal satu bulan ini.” Jelasnya. Aku menundukkan kepalaku, menatap foto kastil kaca yang terlihat megah tidak jauh dari arah pandangku. Foto itu, dan ucapan Ji Woon membuatku kembali mengingat kali pertama aku mengenal game bernama SAEMO, berasal dari singkatan Sword Adventure Ele-Myth Online. Saat pertama kali aku mengakui ada yang lebih sempurna dari dunia nyata, dan lebih indah, serta lebih mengerikan dari dunia nyata.
Saat pertama kali aku bertemu dengan laki-laki itu.
“Pemirsa, akhirnya setelah sebulan lalu diumumkan game terbaru hanya untuk beta tester, bulan ini game tersebut akan dibuka untuk semua kalangan dengan sistem solo player. Game bernama Sword Adventure Ele-Myth Online yang menggabungkan mitologi Yunani serta elemen-elemen dasar dunia akhirnya dirilis secara resmi baik dalam online ataupun offline. Game yang bersifat VRMMORPG ini hanya bisa dimainkan dengan amusphere dan hanya tersedia dua puluh ribu kopi untuk hari...”
Aku langsung mematikan siaran televisi yang membuatku bosan setengah mati. Bagiku, aku sudah mendapatkan game itu, walaupun dengan mendaftar dan tidak membayar sepeser pun, tapi buktinya aku menjadi beta tester pertama untuk game itu. Setelah suasana sepi menyergap ke beberapa ruangan di dalam kamarku, aku duduk di atas kasur dan menghela napas.
Aku menoleh sedikit ke arah meja nakas yang berada tidak jauh dari tempatku terduduk, di atasnya terdapat amusphere berwarna putih yang sudah kupakai untuk memainkan game SAEMO selama sebulan. Ya, aku sudah menjadi beta tester selama sebulan, tanpa ada rasa bosan. Benda berwarna putih itu berbentuk seperti bandana yang terbuat dari mika lembut, di dalamnya tedapat kabel-kabel yang salah satunya dipakai untuk dihubungkan pada colokan listrik. Sebenarnya, amusphere juga memiliki baterai cadangan di dalamnya, tapi selama aku memakainya, aku lebih nyaman dengan apa yang telah aku lakukan sebelumnya. Amusphere termasuk perangkat keras yang dapat terlihat dan diraba langsung oleh indera manusia. Benda itu juga aman dari berbagai bahaya pada kepala serta otakmu saat kau memakainya.
Amusphere adalah benda yang kupakai pertama kali untuk bermain game, meskipun ada joystick untuk playstation, tapi aku tidak pernah memainkannya. Dan juga, SAEMO adalah game pertama yang aku mainkan, dan aku langsung menjadi beta tester. Awalnya memang cukup sulit untuk beradaptasi karena di dalam dunia virtual tubuhku bertarung melawan monster-monster untuk menyelesaikan level sedangkan di dunia nyata tubuhku berbaring diam dengan keadaan mata tertutup.
Tentu saja hal itu dikarenakan SAEMO adalah game yang berjenis VRMMORPG, amusphere yang aku gunakan untuk memainkan game itu akan memancarkan sinyal ke dalam otak serta semua indera manusiaku. Sehingga aku dapat menggerakkan tubuhku, menunjukkan berbagai ekspresi, dan tentunya bertarung di dalam dunia virtual yang diciptakan oleh Mark Steberton. Game master dari permainan Sword Adventure Ele-Myth Online.
Amusphere adalah benda yang menjadi teman hidupku setelah dua bulan lalu ayah memutuskan untuk bercerai dengan ibuku dan membawa pergi Jeon Woo Jung, kakak kandungku yang aku tidak tahu ada di mana sekarang. Ayah memisahkanku darinya, padahal dia tahu kalau aku sangat dekat dengan pria yang sering kusebut Nemo itu. Tanpa sadar, rasa ingin memeluknya kembali muncul dalam jiwaku.
Aku mengusap wajahku, berusaha mengubah air muka yang kuyakin sudah berubah menjadi raut kesedihan dan segera berbaring, mencari posisi yang nyaman di atas kasur setelah memakai amusphere kesayanganku. Aku menatap langit-langit kamarku yang terdapat gambar Yuki–nama karakterku di game–lalu, perasaan tidak sabar ingin melihat pemain-pemain baru yang sudah log in ke dalam game ini pun muncul.
Membuatku langsung menutup mata dan mengatakan, “Let’s Start!”