Ketika semua orang berbicara atas nama rakyat, ini rakyat, itu rakyat dan semua untuk rakyat. Ketika itu pula rakyat sedang menjerit karena penindasan yang terus dibuat dengan kebijakan yang membabi-buta.
Kisah pilu itu ketika rumah sakit tidak lagi untuk mengobati namun sebaliknya tempat untuk ‘melilit tali dileher sendiri’ karena utang sendiri yang tidak mampu lagi dilunasi akibat biaya yang terus melambung tinggi. Kisah ketika rakyat hanya bisa merintih dengan sembako yang kian menjadi-jadi harganya. Inilah permainan bung, kata teman saya.
Ironi memang, semua pejabat sedang melakoni permainan ini atas nama dan atas nama. Selalu saja atas nama. Ketika berbicara ekonomi, atas nama disuarakan dengan corong akrobatik berbau kebenaran berproses dengan pembenaran dan berujung dengan kebohongan. Semua orang boleh membantah teori ini, namun faktanya begitulah yang terjadi di negeri ini.!















