Hari ini tersentil kembali mengenai pertama kali kenal dakwah. Saya tersenyum simpul. Dalam forum itu, nyaris semua orang mengenal dakwah sejak usia belia. Saya? Genap dua tahun pun belum. Masalah ilmu dan pengalaman, tentu saya masih jauh tertinggal, saya pun menunduk malu. Masalah semangat? Saya tidak mau kalah semangat, lebih ingin semangat dari mereka semua, para senior yg sudah lama terjun dan malang melintang di dunia dakwah sekolah maupun kampus.
Menelusuri beberapa langkah ke belakang, saat dimana saya antipati terhadap dakwah. Lucu memang. Tatkala itu saya masih SMA. Sebenarnya saat itu semangat saya membara, pertama kali 'paham' dan peduli tentang jilbab, dengan keteguhan hati aku menutup auratku, se-'pemahamanku' tentu, kerudung gaul dan tanpa kaos kaki *astaghfirullah*
Nah, ketika bara menyala di hati, mata tertuju pada dua sosok teman saya yang bersahabat dan berkerudung lebar. Kaget memang, di sekolah saya dahulu (di suatu kota kecil di Sumatra Utara) banyak berkerudung, tapi tidak berjilbab lebar. Keren. Itu pertama kali yang saya pikirkan, lalu terlintas di kepala saya, yang benar memang seperti apa ya. Entah cuek atau pikiran lain lebih mendominasi, kekaguman itu menguar. Toh mereka bukan anak rohis, lagi pula banyak anak rohis yang pacaran (ini faktor individu, bukan organisasi, bukan untuk digeneralisasi).
Hati sebenarnya tergugah dengan perempuan yang aneh menurut saya itu. Hingga suatu hari tepatnya kelas 2 SMA saya pindah ke SMA di kota Bandung dan melihat begitu banyak perempuan dengan penampilan itu. Saya sinis kepada mereka, rasa itu timbul karena iri, belum mampu dan mau seperti mereka.
Konyol memang, saya bilang semua perempuan kerudung lebar itu batman (paraah -.-) dengan rasionalisasi bahwa yang berkerudung lebar itu tertutup rapat tapi kerudungnya yang lebar dan panjang berkibar kalau jalan seperti jubah batman. Ini analogi yang kami hasilkan dari perbincangan seputar jilbaber, oleh saya dan beberapa teman sekelas yang iseng. Namun dalam lubuk hati, saya penasaran juga dengan teteh dan teman-teman yang rajin kajian keputrian setiap jumat. Pernah beberapa kali ingin ikut tapi banyak yang menghalangi dan menjadi alasan, mulai dari makan siang yang kelamaan, ngerjain tugas hingga alasan paling klasik: malas, belum niat. Meskipun begitu, saya belum pernah mendengar mentoring di SMA, alhasil selama dua tahun berkelana di SMA, belum jua bermuara di dakwah. Masih saja gemar mengolok batman dan hanya sholat saja di masjid setiap dhuha dan dzuhur, berharap lulus SNMPTN dan melirik para jilbaber di sudut masjid, tanpa mencoba berbaur dan bertanya.
Allah mendengarkan doa dan memberkahi usaha saya dengan lulus pada pilihan pertama, cita-cita sejak umur 10 tahun untuk kuliah di psikologi Unpad. Subhanallah, di kampus makin sering bertemu dengan para batman dan suatu ketika mendapatkan undangan untuk mentoring. Apa itu mentoring, tanya hati, masih polos, maklum mahasiswa baru. Allah memang belum berkehendak, saya selalu menghindari mentoring, anti, takut kena aliran sesat. Padahal belum mencoba. Saya selalu mangkir dan tidak pernah memenuhi undangan mentoring yang biasanya diadakan pagi hari jam 8 itu. Malas, itu sebagian besar yang dirasakan. Hati masih penasaran sebenarnya, mengapa batman-batman itu begitu tenang dan cantik ya? (Parahnya, hingga detik ini saya sama sekali tidak tahu mantan teman mentoring saya kala itu siapa dan teteh pementornya siapa -______-)
Dua tahun hidup penuh warna dan nuansa ceria remaja hingga suatu ketika saya memutuskan memakai rok dan menjauhi kegiatan hura-hura karena merasa takut sekali dengan Allah. Saya ingat sekali, itu adalah awal tahun ketiga saya kuliah. Malu karena celana begitu terasa membelit dan melekuk di tubuh. Kampus gempar, melihat Ajeng yang sangar memakai rok. Beberapa ekspresi ikhwan-ikhwan DKM seperti kaget dan berkata 'tumben' 'Wah ga salah liat' (aneh ya, bukannya di doain dan dikasih selamat :| ) Bahkan beberapa teman dekat bercanda bertanya 'Ajeng kesambet 'apa'. Miris. Seperti apa ya image saya di mata mereka, ketika memakai rok dipertanyakan. Tomboy? Galak? Ga lembut? Ga kaya perempuan? Wallahu'alam. Lagi-lagi Allah belum memberikan hidayah itu seutuhnya. Rok cantik yang menggemparkan kampus itu hanya bertahan seminggu. Lalu dalam jangka waktu sebulan setelah memontem itu saya kembali metal dan galau.
Suatu waktu di bulan mei, saya berdiskusi serius dengan seseorang yang mengingatkan saya akan hakikat hidup, mau dimana diri setelah mati, amalan apa yang sudah diperbuat, dan sudah dihabiskan apa saja sisa hidup? Klise, itu kalimat ke-sekian ratus yang saya dengar. Sebelumnya kalimat-kalimat itu terasa basi dan hambar. Namun kali itu, Allah sedang memberikan sebuah cahaya terang, kata-kata itu begitu membius hati dan membuat saya berderai air mata, bukan sekedar menitikkan saja. Iya, Allah akhirnya berkenan memperlihatkan saya makna hidup, secara visioner hingga menancap dihati, bukan sekedar mengawang di telinga.
Tak lama setelah itu, dengan mata sipit dan dada sesak, setelah shalat isya, saya membongkar lemari, mencari rok dan baju yang cukup longgar, mematut diri di kaca dengan kerudung lapis dua, berencana untuk berubah dengan mengucap basmalah. Keteguhan hati, menjalin janji dengan Allah. Rasa teguh, takut, membuncah jadi satu. Keesokan harinya, pagi yang cerah, Ajeng berubah. Voila: saya jadi batman jubah ukuran M.
Banyak yang bertanya-tanya Ajeng kenapa, sudah dua minggu pake rok dan berjilbab yang dijulurkan. Bukan Ajeng yang praktis dengan kaos dan celana skinny dengan kerudung yang disampirkan kebahu tanpa peniti. Saya hanya tersenyum, ingin berubah, ujar saya. Memang, rasanya malu berpakaian ketat meskipun baju saya belum memadai karena masih banyak yang pas di badan tapi tidak melekat ditubuh. Saya pun tergelitik ikut mentoring, setelah tiga bulan bertanya dengan frekuensi yang tinggi (saya rese' juga ketika itu) saya mendapatkan kelompok mentoring pertama saya. Senang! Akhirnya kenal mentoring juga for the first of my life.
Belajar tiada henti, bertanya sepanjang hari, hingga akhirnya mengganti isi lemari, singkat cerita (ada episode lainnya), saya akhirnya mendapatkan pakaian yang -alhamdulilllah banget-layak dan longgar semakin menutupi tubuh saya dengan kerudung yang cukup panjang lebar hingga akhirnya saya semakin menjadi batman seutuhnya. Subhanallah. Banyak yang mencaci. Lah dulu anti ama batman, sekarang jadi batman. Saya hanya bisa tersenyum simpul. Terlepas dari menjilat ludah sendiri atau tidak, ini adalah bentuk cinta Allah pada saya. Tidak ada kata terlambat untuk belajar kan? :)