[Musik] JJF2017: Nostalgila bersama rapper 90-an!
Akhirnya, saya mencetak rekor (untuk diri sendiri). I’ve attended the annual music festival three years in a row! Ya, meski cuma datang sehari dari tiga hari rangkaian acara sih.
Yes, saya menghadiri Java Jazz Festival --salah satu festival jazz terbesar di dunia-- yang baru saja usai digelar selama tiga hari, 3-5 Maret 2017, di JIExpo, Kemayoan, Jakarta, Indonesia.
Dalam tulisan ini, jangan anggap saya nulis review musik, apalagi musik jazz. Siapa juga yang nganggap gitu?
Karena nggak jago musik dan nggak mudeng juga kalo harus mengamati teknik soal musik. Jadi tulisan ini hanya sekadar curhat sepanjang mata memandang. Apa sih maksudnya?!!
Jadi, saya ke #JJF2017 dalam rangka menikmati musik yang pas di hati (nggak usah dipaksakan kalo nggak sreg sama musik Nik West atau Sergio Mendes), menikmati suasana (maklum Saturday night), dan merayakan kebersamaan bareng pacar. Asseekkk!
Penonton Indonesia antusias nonton musisi lokal
Percaya atau tidak, musisi lokal mendapat tempat di hati penonton. Entah karena music director JJF pintar memilih musisi --mengundang musisi yang sedang nge-hits-- atau orang Indonesia memang suka musisi Indonesia atau penonton menghargai dan sadar dengan musisi dalam negeri??? Tapi setiap penampilan Tulus, Tompi, Andien, atau Dira Sugandi, pasti ramai penonton! Bukan berarti penampilan musisi internasional sepi. Panggung Sergio Mendes, DW3, atau Bebel Gilberto juga dipenuhi jazz lover kok.
Musisi Indonesia non-jazz banjir penonton
Nah, ini yang nggak kalah epic! Penonton membanjiri panggung musisi Indonesia non-jazz. Yang saya ingat:
#JJF2015, Sheila on 7 jadi salah satu penampil yang ditunggu-tunggu. Bahkan band jazz yang sedang main --di stage yang sama dengan So7--- disuruh turun penonton! Untung mereka orang luar, nggak ngerti bahasa Indonesia. Jadi mereka nyantai, tetap main gitu. Pas So7 main, penonton langsung berdiri, histeris, & ribut deh, termasuk saya sih. Hehe. Biar ada sentuhan jazz, So7 kolaborasi dengan Ron King Big Band. Pecah deh.
Kalo penampilan Raisa, Isyana Sarasvati, atau Afgan banjir penonton, ya sudah lah ya. Memang musik mereka oks, nge-pop oks, nge-jazz juga oks, fisik dan baju yang aduhai sekali. Nggak usah diragukan lagi deh.
#JJF2016. Barasuara bikin geger! Pecah. Pertama kalinya mereka manggung di Java Jazz Festival dan banjir penonton! Edan.
#JJF2017, mereka tampil lagi dan kolaborasi dengan Ron King Big Band. Sayang, saya nggak bisa lihat. Maklum cuma punya tiket Sabtu, 4 Maret. Tapi bukan berarti di #JJF2017 nggak ada penampil non-jazz yang pecah. Adalah 90's Hip Hop All Stars terdiri dari Sweet Martabak, NEO, dan Iwa K --plus DJ Ethnic-- mampu menggaet penonton, terutama generasi 90an. Mereka --saya juga-- sing along dan goyang waktu Sweet Martabak --penampil pertama-- menyanyikan Cewek Matre dan Tididit. Bahkan ada beberapa fotografer yang sibuk foto pake DSLR, terus update Insta story/status WA pake handphone. Ribet bener, bang?
Penampil selanjutnya, grup rapper NEO disusul Iwa K. Waktu NEO nyanyi lagu baru --nggak baru banget sih, mungkin dua/tiga tahun lalu-- penonton nggak nyanyi, sibuk foto-fotoan, ada yang diam, dan asyik tiduran di beanbags.
Yes, perbedaan #JJF2016 dan #JJF2017 adalah beanbags di beberapa stage. Tapi di mana ada beanbags, di situ ada orang posesif. Penonton selonjoran, sambil dengerin musik, mainin handphone, serasa mereka nggak rela nyerahin beanbags ke orang lain. Ya gitu deh.... Selain itu, perbedaan lainnya: penambahan food truck di sebelah Gazebo stage, layout TKP berubah, dan lapak bir Bintang --yang kecil-kecil itu tuh-- digantikan oleh Djarum Super MLD. Tapi bir Bintang punya lapak besar di tengah-tengah bareng Avrist, Jack Daniel’s, dan lain-lain.
Saya cuma bengong, dalam hati ngomong: ”Ini lagu apaan sih?”. Nah, penonton kembali heboh pas penampilan Iwa K. Tanpa komando om Iwa, kami pun koor Bebas, Malam Ini Indah, sampai Ku Ingin Kembali. Suasana tambah ramai, riuh-rendah. Ceileh bahasanya. Gimana nggak ramai bin epic, kalo om Iwa ngbawain lagu rap 90-an dan penonton rata-rata generasi 90-an.
Nonton Iwa K dkk. serasa nostalgia. Nostalgia atau nostalgila ya? Kayak balik ke masa SD-SMP, nonton tayangan musik di RCTI tiap pukul 09.00 WIB (bukan Dahsyat loh...), baca majalah Mode dan Aneka (punya kakak), dengerin lagu-lagu Iwa K, Humania, Jingga, ME, Andre Hehanusa, apa lagi ya? Duh, kangen masa-masa itu. Iwa K itu benar-benar idola masa kecil gitu deh. Nostalgila! Om Iwa memang rapper idola banget dah.
Salah satu penampil paling akhir hari itu, Soundwave, juga begitu. Pecah! Grup duo DJ-singer ini juga bisa meraup penonton loh. Saya nggak lihat langsung, cuma lihat di Insta story teman. Hoho.
Idang Rasjidi
Entah sudah berapa kali, om Idang Rasjidi tampil di panggung #JJF. Tentunya pakai nama Idang Rasjidi Syndicate, yang ada Ricad Hutapea --salah satu saksofonis muda Indonesia-- itu tuh. Kayaknya sih sering banget. #JJF2016, ketika tampil di panggung, ia sempat mengatakan --kalo nggak salah ingat, soalnya sempat interview-- jadi musisi harus tampil pol dan mempersiapkan segalanya, nggak peduli apapun yang terjadi. Pada hari itu, sebelum manggung, salah satu saudaranya meninggal dunia, tapi karena harus tampil, ia harus menyelesaikan pekerjaannya lalu langsung pulang ke rumah duka.
Pada #JJF2017, om Idang bicara soal hal pribadi. Menurutnya, ia senang tampil di #JJF meski 10 hari sebelum hari H, ia terkena stroke. OMG! Semoga selalu sehat dan bahagia, om. Seperti tahun lalu, om Idang and friends tampil di dua panggung. Panggung Citilink dan Gazebo (tahun lalu Java Jazz Coffee) alias panggung #JJF paling depan.
Sampai segini saja catatan #JJF2017. Nggak usah percaya sama tulisan amatir ini, baca sumber terpercaya yes. Hehe. Sampai jumpa #JJF2018!















