Wisuda S1 sudah terlewati. Profesi selama setahun sudah dilalui dengan baik. Alhamdulillah. Wisuda Ners, angkat sumpah, sebentar lagi dilalui Apply lowongan kerja, belum berani untuk mencoba. Namun suatu hari, ada sebuah pintu. Seorang teman mengajak untuk datang ke sebuah rumah sakit spesialis mata di kawasan Setiabudi. Sangat mendadak. Tanpa persiapan,bahkan datang dengan sendal, bahkan tidak bawa CV ataupun berkas2 yg diperlukan, bermodal nekat & untung-untungan, akhirnya datang, mengisi formulir. Tahap berikutnya, wawancara: 1. wawancara oleh bagian SDM, mungkin karena pertama kali secara formal, jadi terasa aneh 2. Wawancara oleh direktur medis, yg anehnya beliau tertarik ttg kehidupan di marching band 3. Wawancara oleh bagian keperawatan (2 orang) menanyakan seputar basic2 keperawatan yg bisa dibilang ada di buku potter perry. Hahha Selanjutnya tes tertulis. dan..... Soalnya bener2. Mungkin karena udah lama ngga sentuh buku. Udah lama ngga ngecul sama brunner, black, potter perry, huber, dll. Blank. Apalagi soal hitung2an dosis, lupa rumus. Alhamdulillah lolos tahap ini. Beberapa hari berikutnya, medical check up. 1. Tes refraksi (pastilah, wong RS spesialis mata). Saya mengerti perasaan pasien2 yg selama ini ngga mau cek kesehatan karena takut akan hasil & perburukan penyakit. Saya mengalami ini. Bukan tahap denial. Bukan juga anger. Mungkin acceptance campur denial dikit. Hasilnya yaaah kurang menyenangkan. Hasil ini memicu saya & membuat saya semakin berharap agar keterima di RS ini demi mendapatkan kesempatan untuk LASIK. (Semoga) 2. Lanjut ke poli 2. Itu ternyata adalah bertemu dengan dokter Sp.M, dan ternyata adalah dokter yg ada di tahap wawancara sebelumnya. Mungkin karena udah basic ners, dokternya malah nanya2 dan ngetes pengetahuan seputar mata. Untungnya bukan ditanya anatomi & fisiologi. Nyerah. Tes pertama: Dr: "kamu tau ini apa?" Me: "tes buta warna dok?" Dr: "hayo namanya apa?" Me: "hehe" Dr: "ini namanya ishihara" Me: "oooh iya dok" ..... Dr: "elu sih ketemunya sama gue, jadi gue tanya2 sekalian tes deh ya" *dst* Tes berikutnya: Menggunakan slim light, untuk melihat jaringan yang ada di bawah mata. Lagi. Lagi-lagi dokternya ngasih kuliah singkat. "Ini kita kasih cahaya, pakai lensa untuk melihat jaringa. Terus diperbesar lihat ke monitor. Kamu lihat itu? Dari celah itu. Nah, itu dia, itu adalah ujung saraf kedua." *awak speechless* Berikutnya, cek lab. Udah diduga bakal diambil darah 10cc. Dan 3 hari setelah tes, hematom nya belum sembuh jugak. Huff Cek selanjutnya, rontgen thorax. Karena ini rs tdk ada rontgen, maka dioperlah ke RS swasta seberang. Dan pihak RS memfasilitasi anter jemput pakai supir pribadi RS. Wow. Rangkaian pemeriksaan berakhir jam 2. tapi, belum bisa pulang,karena harus menunggu dokter penyakit dalam yg baru dateng jam 5. Menunggu dokter. Dan menunggu. Dan terus menunggu. Baru ketemu dokter abis magrib. Dan, sepertinya ada yg aneh dengan cara nya si dokter meng-anamnesa. Huff. Gataulah. Mungkin dia lelah. "150/100. Kamu istirahat 15 menit. Nanti tensi ulang" Tuh, kan, mungkin si dokter yg lelah. Biasanya tuh cuma 100/70 atau dibawah itu. Frustasi. Akhirnya minta perawat yg tensi. Dan hasilnya normal: 120/80 Dok, mungkin dokter lelah. Selanjutnya tinggal tunggu panggilan SDM untuk tanda tangan kontrak. 1 september mulai dinas. Wooooh. Secepat itu liburan berakhir. Tak apalah. Another unlocked door of possibility. Walaupun sama sekali awam seputar indera yg satu ini. Tapi ngga ada salahnya kan untuk memulai belajar? The expert in anything was once a beginner. Semoga hasilnya..........aamiin