Dua Sahabat #4
Baca sebelumnya 1, 2, 3, 4, 5, 6, Semua
Dua Sahabat #4
"Sama saja, di bawah kuasa raja kita menghadapi kuasa asing; di bawah kuasa republik kita perang saudara."
Sergah Morrisot.
Keduanya mulai ngobrol santai mendiskusikan politik ideal di mata warga negara yang polos. Dari obrolan tersebut ditemukan sebuah garis besar bahwa tidak ada kemerdekaan hakiki di dunia ini. Langit Mont-Valerien bergemuruh, rumah-rumah runtuh terhantam bola meriam, luluh lantak bak bubuk mesiu, tak ada mimpi dan harapan yang dapat menjadi asa. Semua kebahagiaan hancur menyisakan tangis pilu di mata para kaum Hawa dimana tak ada lagi kaum Adam yang dapat melindungi mereka.
“Apa ini yang disebut kehidupan?” tanya Sauvage.
“Kehidupan abadi?” timpal Morissot dengan senyum kecutnya.
Namun kemudian, terdengar suara langkah kaki di belakang mereka yang membuat mereka takut dan gemetar. Setelah menoleh ke belakang, didapati empat orang pria berjanggut, lengkap dengan seragam militer menodongkan senapan ke keduanya.
Saking takutnya, joran pancing yang tergenggam pun terlepas dari kepalan tangan dan hanyut ke sungai.
Mereka berdua pun ditangkap, diikat, dan diangkut menuju Ile Marante menggunakan perahu.
Ternyata, di balik rumah yang mereka pikir tak berpenghuni, terdapat puluhan tentara Jerman yang tengah bersembunyi.
Seorang serdadu dengan perawakan tambun sembari menghisap pipa menginterogasi dengan Bahasa Prancis:
“Apakah umpan anda sudah termakan ikan, Tuan-tuan?”
Serdadu lain kemudian merebut korang berisi ikan hasil tangkapan kedua sahabat pemancing itu. orang Prusia itu lantas tersenyum.
“Lumayan juga hasil tangkapan ikan kalian. Bisakah kita bicara tentang bisnis yang saling menguntungkan? Tentu kalian berdua tidak perlu takut:
“Apakah kalian tidak berpikir bahwa kalian akan dianggap mata-mata yang dikirim untuk spionase dengan berpura-pura memancing. Sekarang aku telah menangkap kalian berdua. Kalian tentu tahu konsekuensi apa yang harus kalian terima, inilah perang!
Lanjut membaca 1, 2, 3, 4, 5, 6, Semua














