Me at a protest against dutch culture celebrating a genocide

seen from France

seen from United States
seen from Ireland
seen from China
seen from Türkiye
seen from Italy

seen from United States

seen from Italy
seen from United States

seen from Spain

seen from Denmark
seen from Germany
seen from Brazil

seen from Brazil

seen from France

seen from Russia
seen from Hungary

seen from United States
seen from China
seen from United Kingdom
Me at a protest against dutch culture celebrating a genocide
Raad betrekt burgerinitiatief verplaatsing Coen in stadsgesprekken
Raad betrekt burgerinitiatief verplaatsing Coen in stadsgesprekken
Hoorn – Op dinsdag 15 september besloot de Hoornse raad unaniem om het burgerinitiatief voor de verplaatsing van het standbeeld van Jan Pietserszoon Coen te betrekken bij het eerder aangekondigde stadsgesprek.
Het burgerinitiatief werd met steun van 64 inwoners uit Hoorn en 1799 steunbetuigingen vanuit een online petitie voorgelegd aan de raad. De initiatiefnemers willen dat de raad beslist…
View On WordPress
J.P. Coen, Gubernur Jenderal Belanda Terkejam yang Dibenci di Negerinya Sendiri
J.P. Coen, Gubernur Jenderal Belanda Terkejam yang Dibenci di Negerinya Sendiri
Mulai tahun 1610 hingga 1949, Belanda pernah menempatkan setidaknya 72 Gubernur Jenderal yang ditugaskan memerintah Hindia Belanda (Indonesia). Dari sekian banyak Gubernur Jenderal itu ada beberapa orang yang dikenal sangat hebat. Bahkan di Belanda sendiri mereka dianggap sebagai pahlawan yang sangat berjasa. Orang-orang itu antara lain Johannes van den Bosch yang memulai kerja rodi, lalu ada…
View On WordPress
Obituari: JP Coen
“Pada suatu malam, Jakarta bermimpi tentang kelahirannya.”
Kepada pecah ombak, kepada kicau camar di galangan ketika pagi tiba, aku menitipakan sebuah perjumpaan. Waktu yang kupunya dihabisi separuh lingkaran bumi, setelah sepi menusuk-nusuk dada, hingga ia melabuhkan kepergianku di sini. Di tanah ini, ingar-bingar yang kelak kunamai Batavia
Kusulap rawa-rawa menjadi benteng kota yang angkuh. Aku taburkan sisa kembang gula, hingga kapal-kapal dari segala penjuru mengerubuti dermaga. Aku ciptakan pula merdu langkah kaki serdadu, yang menapaki langkah di antara teriakan bayi-bayi mungil - yang tangisanya bercampur dengan bau mesiu.
Kelak, aku adalah antagonis di buku-buku sejarah yang dibaca bangsamu, aku yang akan disalahkan atas segala penindasan - pun yang menjadi kambing hitam kekejaman Mataram.
“Jakarta terbangun dengan segudang tanda tanya.”
Aku tak mungkin mewariskan dendam kepada anakku sendiri. Kalian seharusnya mengerti, manusia tak bisa berharap kepada manusia. “Sebab yang menang, merekalah yang menyitir sejarah. - yang entah benar atau dianggap benar.”
November 2015 - Januari 2016
catatan
Awalnya, ini mungkin bisa disebut puisi, tapi setelah 2 bulan mengendap, saya putuskan untuk merombak total yang menjadikan tulisan ini seperti di atas. Membuatnya sebagai gagasan sebuah cerita pendek.