Obituari: JP Coen
“Pada suatu malam, Jakarta bermimpi tentang kelahirannya.”
Kepada pecah ombak, kepada kicau camar di galangan ketika pagi tiba, aku menitipakan sebuah perjumpaan. Waktu yang kupunya dihabisi separuh lingkaran bumi, setelah sepi menusuk-nusuk dada, hingga ia melabuhkan kepergianku di sini. Di tanah ini, ingar-bingar yang kelak kunamai Batavia
Kusulap rawa-rawa menjadi benteng kota yang angkuh. Aku taburkan sisa kembang gula, hingga kapal-kapal dari segala penjuru mengerubuti dermaga. Aku ciptakan pula merdu langkah kaki serdadu, yang menapaki langkah di antara teriakan bayi-bayi mungil - yang tangisanya bercampur dengan bau mesiu.
Kelak, aku adalah antagonis di buku-buku sejarah yang dibaca bangsamu, aku yang akan disalahkan atas segala penindasan - pun yang menjadi kambing hitam kekejaman Mataram.
“Jakarta terbangun dengan segudang tanda tanya.”
Aku tak mungkin mewariskan dendam kepada anakku sendiri. Kalian seharusnya mengerti, manusia tak bisa berharap kepada manusia. “Sebab yang menang, merekalah yang menyitir sejarah. - yang entah benar atau dianggap benar.”
November 2015 - Januari 2016
catatan
Awalnya, ini mungkin bisa disebut puisi, tapi setelah 2 bulan mengendap, saya putuskan untuk merombak total yang menjadikan tulisan ini seperti di atas. Membuatnya sebagai gagasan sebuah cerita pendek.













