Memoar Ben Anderson: Perihal Politik Bahasa, Alih-bahasa dan Bahasa Nasional
Ahli Asia Tenggara (khususnya Indonesia, Filipina dan Thailand) ini menyumbangkan banyak warisan pengetahuan sejarah, kebahasaan dan antropologi untuk kita. Dia meninggal Desember, 5 tahun lalu.
DI SEBUAH pertandingan lokal, hari itu Romelu Lukaku mendapat serangan rasis. Saat itu, ia masih berusia 11 tahun dan bermain di akademi Lierse. Para orang tua dari tim lawan berupaya agar Lukaku yang tinggi-besar dibanding sebayanya, tidak bermain. Salah seorang dari mereka bertanya, “Berapa umur anak ini? Mana KTP-mu? Darimana kau berasal?”
Lukaku membela diri. Dia mengambil tasnya dan menunjukkan KTP-nya ke semua orang tua. Mereka memeriksanya dengan seksama. Tentu saja Lukaku adalah warga Belgia. Dia lahir di Antwerpen. Pengalaman di-lain-kan itu memaksanya untuk belajar bahasa. Beberapa tahun setelahnya, penyerang yang saat ini membela Inter Milan itu menjadi polyglot. Lukaku menguasai tujuh bahasa.
Rasisme terus memburunya. Setiap kali Lukaku bermain buruk, ia diserang dengan ejekan: “Pesepakbola Belgia keturunan Kongo”. Dalam retrospektifnya, Lukaku yang dongkol mengatakan, “Jika kau tidak menyukai cara saya bermain, tidak apa-apa. Tapi saya lahir di sini. Saya dibesarkan di Antwerp, Liège, dan Brussel. Saya bermimpi bermain untuk Anderlecht. Saya bermimpi menjadi Vincent Kompany. Saya akan memulai kalimat dalam bahasa Prancis dan menyelesaikannya dalam bahasa Belanda, serta saya akan memasukkan beberapa bahasa Spanyol atau Portugis atau Swahili Kongo--didapat dari kedua orangtuanya yang lahir di Kongo, tergantung di lingkungan mana kami berada.”
Masalah ras pula, membuat Benedict Anderson risih ketika melakukan kerja-kerja lapangan di Indonesia. Berbeda dengan Lukaku, Ben merasa ditinggikan oleh orang-orang Jawa. Ia kurang sreg dengan panggilan “Tuan” dan kelakuan beberapa orang yang terkesan menunduk-nunduk hormat pada mahasiswa asing yang tak penting ini, semata-mata karena warna kulit. Oleh karena itu, Ben memperkenalkan sebutan “bule” bagi orang berkulit albino seperti dirinya. Sebutan yang kemudian digunakan dan dipopulerkan oleh penulis dan jurnalis Indonesia sejak tahun 1963.
Ben Anderson adalah seorang Indonesianis. Sejak 1960an, ia fokus dalam studi kajian wilayah Asia Tenggara, khususnya Indonesia, Filipina, dan Thailand. Ben kerap menulis kajian sejarah, politik, dan kebahasaan. Salah satunya adalah catatan penting tentang pembunuhan massal di Indonesia tahun 1965-66, biasa disebut Cornell Paper (Anderson & McVey, 1971).
Ben Anderson juga polyglot, ia belajar hampir selusin bahasa. Sebagai peneliti yang berfokus pada kajian Asia Tenggara, Ben merasa perlu mengetahui bahasa ibu dari subyek-subyek yang akan ia cermati. Jika Lukaku menguasai banyak bahasa sebagai bentuk perlindungan diri, motivasi Ben ialah untuk wawancara penelitian. Namun, antara keduanya ada persamaan mendasar: sebagai pesepakbola dan peneliti yang kerap berpindah-pindah tempat, ada keperluan beradaptasi pada lingkungan baru.
Akan menjadi sukar jika tak memahami bahasa setempat. “Ketika kau mulai tinggal di sebuah negara yang bahasanya nyaris tak kau pahami sama sekali,” sebut Ben dalam memoarnya, “Kau akan merasa tercerabut secara linguistik, kesepian dan bahkan terkucil, dan kau akan mencari-cari sanak sebangsa untuk bergaul. ... Namun lantas, jika kau mujur, kau tembus tembok bahasa itu, dan mendapati diri berada di dunia lain. Kau seperti penjelajah, dan mencoba mencermati dan memikirkan semuanya dengan cara yang tak pernah kau lakukan di tempat asal.” (Benedict Anderson, Hidup di Luar Tempurung, 2016, hlm. 128).
Bahasa dan Kuasa
Bagi Lukaku, bahasa adalah sarana bagi dirinya untuk menyatakan sikap politiknya terhadap rasisme. Dia takkan mampu ‘mengedukasi’ sebagian pendukung Cagliari dengan bahasa Inggris. Sedang orang-orang di pojokan Manchester emoh mendengar keluhan Lukaku, kalau ia ngoceh pake bahasa Prancis. Menjadi masuk akal kemudian, belajar bahasa, bukanlah semata-mata mempelajari sarana komunikasi linguistik. Melainkan juga mempelajari cara berpikir dan cara merasa dari suatu kelompok manusia yang bicara dan menulis dengan bahasa yang berbeda dengan kita. Berarti juga mempelajari sejarah dan budaya yang menjadi landasan pemikiran dan perasaan mereka, dan dengan demikian, belajar berempati pada si empunya bahasa.
Kombinasi empati dan rasa penasaran, bisa jadi, membuat kita bertungkus lumus mempelajari kuasa-kuasa yang membentuk bahasa menjadi sedemikian rupa. Sebuah laku perjuangan dalam melawan penyalahgunaan bahasa yang disebut George Orwell sebagai bentuk arkaisme sentimental. Mempermasalahkan kepercayaan bahwa sebuah bahasa adalah sesuatu yang tumbuh alamiah, dan bukan sebagai alat yang kita gunakan untuk memberi bentuk pada tujuan-tujuan kita (George Orwell, Politik dan Bahasa Inggris, 1946).
Belakangan, topik ini menjadi fokus Ben. Saripati pemikiran Ben Anderson tentang kekuasaan atas bahasa selanjutnya ditulis oleh Joss Wibisono dalam sebuah buku. Terbit Maret 2020, dengan judul: Maksud Politik Jahat: Benedict Anderson tentang Bahasa dan Kuasa. Sebelumnya, pada tahun 1990, Ben telah menerbitkan buku bertema sama, berjudul Language and Power: Exploring Political Cultures in Indonesia.
Menurut Ben Anderson, ada tiga masalah serius dalam diskursus politik kebahasaan di Asia Tenggara. Pertama ialah ejaan; kedua, pengkultusan bahasa Inggris; dan ketiga, pengalihbahasaan--menyasar pula terhadap kualitas terjemahan yang, meniru ungkapan tersohor Rusdi Mathari, buruk saja belum.
Menjadi masalah besar karena secara tidak disadari, pengaruh politik yang mendominasi sebuah negara berkontribusi atas pemikiran si pengguna bahasa, yaitu masyarakat itu sendiri. Bisa berdampak pada keengganan mereka belajar sejarah, tak mau membaca teks-teks lawas, hingga melanggengkan budaya dan cara pikir kolonial—sebagian negara di Asia Tenggara bekas jajahan Eropa.
Pada 1972, Orde Baru—Joss Wibisono seringkali menyebutnya dengan orde bau (tanpa “r” dan tanpa pakai kapital)—mengganti ejaan Suwandi dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Penggantian ini, sebut Ben, adalah upaya politik Soeharto memberangus segala hal mengenai kebahasaan era Sukarno. Soeharto ingin menegaskan perbedaan antara Indonesia di bawah dirinya yang ‘lebih modern’ dengan Indonesia di masa sebelumnya yang ‘lebih jadul’. Lebih dari itu, ini menjadi upaya rezim untuk membujuk generasi muda agar tidak tertarik membaca buku-buku ejaan lama karena dianggap sulit dipahami.
Dengan menguasai bahasa, otomatis Orde Baru menguasai alam pikir masyarakatnya. Praktik eufemisme adalah gejala kekuasaan merumuskan bahasa. Eufemisme dipakai untuk memanipulasi kesadaran warga saat memandang dan menilai kebijakan-kebijakan pemerintah. Sehingga tidak heran pada masa Orde Baru masyarakat cenderung statis, homogen dan hampir tidak pernah timbul gejolak sosial.
Pengaburan makna bahasa masih kerap kita jumpai, bahkan setelah dua dekade Orba tumbang. Coba perhatikan, polisi lebih memilih menggunakan frasa ‘diamankan’ ketimbang ‘ditangkap’ atau ‘diculik’ dalam wacana kebijakan teror pemerintah kepada warganya. ‘Relokasi’ dibanding ‘penggusuran’, ‘untuk kepentingan umum’ dibanding ‘kepentingan orang-orang kaya dan korporasi’.
Ben Anderson Emoh Lost In Translation
Selain penting untuk menjaga percakapan sebuah topik tetap hidup, menerjemahkan (harusnya) adalah tindakan politis. Membuat teks tertentu dapat diakses oleh pembaca tertentu dengan membawanya melintasi batas-batas linguistik, haruslah bertujuan. Terjemahan dapat digunakan sebagai instrumen dan medium kekuasaan, atau sebaliknya: gagasan politik alternatif yang, bisa saja, dianggap subversif oleh penguasa.
Tanpa terjemahan, aksi kolektif menjadi tidak mungkin. Semua potensi politik alternatif menghilang. ... Setiap pemberontak-gerakan oposisi harus melakukan penerjemahan dengan sangat baik, jika baik saja belum cukup. Sebagai jalan perjuangan, tidak mungkin melakukan gerakan politik tanpa praktek penerjemahan yang memadai (David Harvey, Spaces of Hope, 2000, hlm. 245).
Ben Anderson mengkritik pedas penyimpangan terjemahan yang, dinilai Ben, dilakukan secara sistematis oleh León María Guerrero. Ini Ben lakukan setelah ia membaca Noli Me Tángere (1887), karya Jose Rizal yang diterjemahkan oleh Guerrero ke dalam bahasa Amerika pada tahun 1950-an. Menurut Ben, terjemahan novel itu punya 7 penyimpangan, yakni; demodernisasi, penyingkiran peran pembaca, penghilangan bahasa Tagalog, pembuangan istilah atau adegan yang dianggap tidak senonoh, penyingkiran lokasi, penyingkiran unsur maupun faktor Eropa, dan yang terpenting: anakronisme. Inilah yang disebut Ben sebagai politik terjemahan (politics of translations).
Seumur hidup, Ben selalu tergugah oleh sulit dan nikmatnya terjemahan. Faktanya, dari tahun 1966 hingga 2011, Ben Anderson menerbitkan sedikitnya 20 artikel di Jurnal Indonesia--pengecualian esai "The Languages of Indonesian Politics" yang diterbitkan pada edisi pertama (April 1966). Hampir semuanya adalah terjemahan dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris, ada pula terjemahan dari serat bahasa Jawa dan satu esai sejarah yang diterjemahkan dari bahasa Belanda. Terjemahan sastra yang paling menantang dan menarik dalam jurnal itu antara lain: “The Suluk Gatoloco” (1981-1982), “Djalan Sampoerna” karya Soetjipto (2006-2007), cerpen Eka Kurniawan "Corat-Coret di Toilet" (Graffiti di Toilet) (2008), "Jimat Sero" (The Otter Amulet) (2010) dan sebuah cerita pendek gubahan Pramoedya Ananta Toer berjudul "Dendam" (Revenge) yang pertama kali diterbitkan dalam kumpulan cerpen “Subuh, Tjerita-Tjerita Pendek Revolusi” (Daybreak, revolutionary short stories) (1950).
Bagi Ben, penerjemahan adalah semacam seni. Bukan sekedar pengalihbahasaan, menerjemahkan adalah menangkap gagasan pengarang asli. Penerjemah perlu memproduksi pesan melalui seleksi ketat setiap padanan kata bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran. Di sinilah pentingnya memahami hal-hal yang, bisa jadi, berkaitan dengan budaya asal pengarang asli, gaya pengarang asli, dan kekhasan sebuah bahasa.
Bergulat dengan bahasa baru, kata Ben Anderson, sangatlah bagus untuk melatih diri melakukan komparasi yang serius, sebab kata-kata asing tidak langsung dengan apik terterjemahkan secara otomatis ke dalam bahasa yang ada di benakmu.
“Indonesia, misalnya, punya kata ‘gurih’ untuk menyebut rasa nasi (‘deliciously pungent’ menurut sebuah kamus). Bila kau berasal dari Inggris, kau lantas mulai menyadari bahwa rasa nasi tidak bisa dijabarkan oleh satu kata Inggris tertentu. ... Hal yang juga berlaku untuk konsep. Bahasa Jawa punya kata longan, untuk menyebut ruang kosong di bawah kursi atau ranjang, yang tidak dimiliki bahasa Inggris,” tulis Ben (2016: 129).
Setiap kali menerjemahkan, Ben selalu menaburkan banyak catatan kaki dan menyisipkan catatan penerjemah untuk menjelaskan soal definisi, idiom, ungkapan dan/atau informasi sejarah dan budaya suatu tempat yang dianggap asing oleh sasaran pembaca. Dalam “Revenge” karya Pram, ada 37 catatan kaki yang dibuat oleh Ben (Ramon Guillermo, “He was a translator”: Benedict Anderson, Translation and Cosmopolitanism, 2017).
Kerewelan Ben dalam penerjemahan juga terjadi pada bukunya yang legendaris: Imagined Communities. Diceritakan, Ben tak sreg dengan terbitan pertama terjemahan bahasa Indonesia yang berjudul “Komunitas-komunitas Imajiner: Renungan tentang Asal-usul dan Penyebaran Nasionalisme”, terbitan Pustaka Pelajar dan Insist Press, 1999. Dia melihat banyak kekeliruan definisi di dalamnya.
Dari terjemahan Intan Naomi tersebut, Ben menyadari bahwa banyak konsep dan kejadian dalam sejarah dunia tidak dikenal oleh mahasiswa (dan sarjana) Indonesia. Terjadi lost In translation. Oleh karena itu, Ben memutuskan untuk menerjemahkan sendiri Imagined Communities, dan menambahkan catatan kaki yang ditujukan untuk pembaca Indonesia—catatan kaki yang jumlahnya lebih banyak dari catatan kaki dalam Bahasa Inggris. (Terjemahan bahasa Indonesia suntingan Ben ini diberi judul “Imagined Communities: Komunitas-komunitas Terbayang”. Dicetak (ulang) oleh Pustaka Pelajar dan Insist Press pada 2001).
Bahasa Nasional dan Obsesi Globalisasi
Pada tanggal 4 Maret 1999, Ben Anderson hadir pada ulang tahun Tempo yang ke 28 dan berpidato tentang nasionalisme. “Nasionalisme bukanlah sebagai “kejayaan nenek moyang yang begitu agung” dan tak bisa diotak-atik lagi, melainkan lebih kepada sebuah proyek bersama (common project) untuk kini dan di masa depan,” ucap guru besar Universitas Cornell di New York, Amerika Serikat tersebut di Hotel Borobudur, Jakarta.
Proyek nasional yang bisa kita kerjakan kini, salah satu usul Ben adalah membebaskan bahasa Indonesia, bahasa nasional kita, dari belenggu Hukum Pidana Kebudayaan yang dijuluki Soeharto cs sebagai “bahasa yang baik dan benar”. Ben menggugat EYD sebagai ejaan yang membosankan bukan kepalang, kaku, tanpa mutu, penuh dusta dan serba seragam. Setali tiga uang, Ben sekaligus mengusulkan kita untuk membebaskan diri sendiri untuk memakai bahasa atau ejaan apa saja yang cocok dengan pribadi-pribadi kita, maksud-maksud kita, dan pergaulan-pergaulan kita masing-masing.
Namun, alih-alih memulai proyek nasional dengan mempelajarinya, tak banyak orang punya kebanggaan pada bahasa Indonesia. Bahasa sendiri dianggap lebih rendah daripada bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Pejabat pemerintahan, anggota DPR, atau tokoh masyarakat seringkali memakai bahasa “gado-gado” dalam komunikasi publiknya. Padahal, seharusnya merekalah suri teladan pengguna terbaik bahasa kita.
Saat pandemi COVID-19, pemerintah rezim Jokowi menggunakan istilah-istilah berbahasa Inggris. Tentu saja istilah-istilah itu asing bagi sebagian kalangan masyarakat. Belakangan, mereka memakai padanan dalam bahasa Indonesia; ‘kebiasaan baru’ menggantikan ‘new normal’, ‘hindari kerumunan’ menggantikan ‘social distancing’, ‘uji usap’ menggantikan ‘swab test’ dan sebagainya.
Tak hanya pejabat negara, para penggiat literasi Indonesia pun masih malu menggunakan bahasa sendiri. Sebutlah Indonesia International Book Fair (IIBF), Jogja Literary Festival (JLF) dan Jakarta International Literary Festival (JILF) yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Kenapa tak memakai bahasa Indonesia: Pameran Buku Indonesia, Festival Literasi Jogja dan Festival Literasi Jakarta?
Alih-alih menunjukkan kelas dan keakbaran acara tersebut, penempatan label ‘internasional’ malah secara gamblang memperlihatkan cara berpikir yang masih mengikuti negara tuan, sebut Anindita S. Thayf dalam esainya, Para pegiat literasi keminggris ini, tulis Anindita, selain terlena oleh iming-iming prestise dan naik kelas, mereka punya obsesi yang membabi-buta pada globalisasi.
Dan ‘globalisasi’ jenis ini yang ditentang oleh Ben Anderson. Ben melihat fenomena keminggris ini di lingkungan akademis. Makin banyak peneliti yang merasa harus menerbitkan penelitian dalam bahasa Inggris-Amrik. Hal yang lumrah asalkan tidak memengaruhi kesadaran kita. Tapi dampaknya, kata Ben, adalah makin lama makin banyak peneliti di berbagai negara yang berbeda merasa bahwa bila mereka tidak menulis dalam bahasa Inggris-Amrik, mereka tidak akan dikenal secara internasional. Dan pada saat yang sama cendekiawan Amerika sendiri makin malas mempelajari bahasa asing, kecuali mereka yang harus melakukan kerja lapangan.
Di lain sisi, Ben Anderson juga memperingatkan bahwa nasionalisme bikin kau cupet jika kau malas mempelajari bahasa asing. Seperti katak yang mendekam dalam tempurung yang kelam. “Nasionalisme dan globalisasi memang punya kecenderungan untuk membatasi pandangan kita dan menyederhanakan perkara,” tulisnya.
Sebelum meninggal pada 13 Desember di Kota Batu lima tahun silam, Ben memberi satu pedoman agar kita hidup di luar tempurung: “Itu sebabnya yang kian diperlukan adalah percampuran serius dan canggih dari kemungkinan-kemungkinan emansipatif nasionalisme dan internasionalisme.” (2016: 197).
“Pada suatu malam, Jakarta bermimpi tentang kelahirannya.”
Kepada pecah ombak, kepada kicau camar di galangan ketika pagi tiba, aku menitipakan sebuah perjumpaan. Waktu yang kupunya dihabisi separuh lingkaran bumi, setelah sepi menusuk-nusuk dada, hingga ia melabuhkan kepergianku di sini. Di tanah ini, ingar-bingar yang kelak kunamai Batavia
Kusulap rawa-rawa menjadi benteng kota yang angkuh. Aku taburkan sisa kembang gula, hingga kapal-kapal dari segala penjuru mengerubuti dermaga. Aku ciptakan pula merdu langkah kaki serdadu, yang menapaki langkah di antara teriakan bayi-bayi mungil - yang tangisanya bercampur dengan bau mesiu.
Kelak, aku adalah antagonis di buku-buku sejarah yang dibaca bangsamu, aku yang akan disalahkan atas segala penindasan - pun yang menjadi kambing hitam kekejaman Mataram.
“Jakarta terbangun dengan segudang tanda tanya.”
Aku tak mungkin mewariskan dendam kepada anakku sendiri. Kalian seharusnya mengerti, manusia tak bisa berharap kepada manusia. “Sebab yang menang, merekalah yang menyitir sejarah. - yang entah benar atau dianggap benar.”
November 2015 - Januari 2016
catatan
Awalnya, ini mungkin bisa disebut puisi, tapi setelah 2 bulan mengendap, saya putuskan untuk merombak total yang menjadikan tulisan ini seperti di atas. Membuatnya sebagai gagasan sebuah cerita pendek.
Entah kenapa saya benar-benar iri terhadap pria macam Soe Hok Gie. Bukan karena ia (hanya) menulis catatan harian yang lalu dibukukan dan ternyata laris dipasarkan. Bukan juga karena ia pandai dalam mendaki gunung. Bukan..bukan itu, tetapi saya iri terhadap kemampuannya dalam hal agitasi. Khususnya mengagitasi –merayu –lawan jenis. Agitasi yang baik serta romantis. Setelah menonton film “Gie” di tahun ketiga Sekolah Menengah Atas (saat itu dengan bodohnya saya kira film tersebut adalah sekuel kedua AADC –karena dibintangi Nikolas Saputra), saya baru ngeh siapa Soe Hok Gie itu. Dalam film tersebut, Gie digambarkan merupakan sosok yang kritis, keras kepala, pemikir, romantis, dan lelaki kaku yang gagap terhadap perempuan. Tunggu dulu, sepertinya mas Riri Riza salah jika membuat Gie ialah sosok yang gagap terhadap perempuan, saya pikir Gie adalah keterbalikannya. Gie adalah penggoda perempuan yang senang dan lihai menggebet banyak perempuan di kampusnya. Karena tercatat dalam buku berjudul Soe Hok Gie, Sekali Lagi: Buku, Pesta, dan Cinta di Alam Bangsanya, ada nama-nama perempuan seperti Yayuk Sutiati, Kartini Pandjaitan, Luki Sutrisno Bekti, dan juga Nessy Luntungan yang pernah dekat dengan Gie. Sederet nama perempuan itu dulu katanya adalah beberapa kembang kampus yang berhasil digebet sama Gie ini. Namun, dari perempuan-perempuan itu, tak ada yang diakui oleh Gie sebagai pacar hingga kematiannya di Gunung Semeru sana. Berengsek sekali bukan? Dari sini saja terlihat, bahwa Gie adalah pria yang senang nggebet perempuan. Dan di sisi lain, terlihat pula bagaimana ia sebenarnya sesosok pria yang lihai membuat banyak perempuan merasa nyaman sehingga akan tetap di sisinya. Dan salah satu kelihaiannya ialah merayu. Kepandaian Gie dalam merayu banyak perempuan yang membuat saya iri terhadapnya. Karena saya bukanlah pria yang pintar merayu perempuan, saya tak punya gebetan lebih dari satu. Stuck pada satu nama saja. Jika sudah cukup intens komunikasinya –antara saya dan gebetan saya itu. Saya akan langsung menembaknya. Walaupun hasilnya seringkali (dan selalu) nihil akan sorai sebuah penerimaan. Kenapa sih Gie kok hanya nggebet saja? Tahu kan rasanya nggebet dan digebet? Saat ketika sebuah ketidakpastian dan rasa penasaran bercampur menjadi satu. Menurut saya, seorang Gie sangat menginginkan kebebasan, salah satunya ialah kebebasan bergaul dengan siapapun –seenak udelnya . Karena mungkin saja jika ia telah berpacaran, pasti akan ada batasan pergaulan untuk menjaga hati si pasangan. Gie sepertinya tak mau ada batasan pergaulan. Atau karena Gie juga seorang aktivis? Karena saya melihat muncul kecenderungan bahwa seorang aktivis lelaki ialah seperti ini, pintar merayu perempuan dan lalu menggebetnya, namun untuk mengakui perempuan itu sebagai pacar, hal itu susah dilakukan, seperti ada tembok besar yang menghadang dan susah dilewati. Tembok yang memisahkan kebebasan dan batasan. Adakah seperti itu? Ada.. John Maxwell saja dalam penelitiannya untuk disertasi doctoral di Australian National University juga pernah secara khusus menyoroti hubungan Gie dengan gebetannya.“Kondisi emosi Soe Hok Gie dinodai oleh ambiguitas dan kebingungan selama berbulan-bulan ini ketika ia berjuang mengatasi perasaannya terhadap ketiga gadis yang telah menjadi bagian penting dari kehidupannya,” kata Maxwell ini. Gie bangga akan kejombloannya sekaligus kedekatannya dengan teman-teman perempuannya. Sebenarnya, dengan kepandaian merayu dan membuat nyaman perempuan, mudah saja bagi Gia untuk memacari satu, tiga atau keempat perempuan tersebut sekaligus. Namun Gie tak melakukannya. Gie, manusia yang bersyukur bisa mati muda itu meninggalkan kisah asmaranya hanya secuil. Namun, perlu diketahui dari memoar yang saya tulis ini bahwa Gie ialah sosok yang teguh pada aksioma “Jomblo adalah pilihan”. Dan tak pernah ditulis dalam biaografinya, bahwa Gie pernah ditolak oleh seorang perempuan. Tak pernah ada!! Gie pun (mungkin) tak akan pernah kesepian di Sabtu malamnya sebagai jomblo. Ia dengan brutal dapat membongkar mitos malam Minggu-nya. Entah itu dengan diskusi, naik gunung, ataupun ngedate dengan salah satu gebetannya. Dan saya iri akan hal itu (juga). *) Tulisan saya ketika saya (masih) jomblo
PADA hari ketika teman-teman mengucapkan selamat ulang tahun buat saya, 25 Desember (2011) lalu, pada hari yang sama Lan Fang berpulang. Ia kawan baik saya, penulis produktif, ibu tiga anak kembar, dan orang yang selalu ingin membaktikan diri kepada orang banyak. Sebenarnya ia kawan baik siapa saja yang kenal dengannya. Dan ia kawan yang cerewet. Mungkin karena itu kami menjadi dekat. Karena cerewet, ia rajin menyapa teman-temannya.
Hampir tiap pekan akan nongol pesan singkatnya di ponsel saya, biasanya hari Minggu pagi seusai ia membaca tulisan saya di harian ini. Kadang-kadang kami akan berbalas pesan singkat sampai siang—itu jenis percakapan yang membikin jempol saya pegal-pegal. Sekarang, saya harus rela kehilangan SMS Minggu pagi darinya, harus terima bahwa untuk seterusnya ia tidak akan mengirimi saya SMS, pada hari apa pun.
Pada akhir November 2011 kami bertemu terakhir kali. Mas Leak Kustia, PemredJawa Pos, memberi tahu ketika saya mampir ke kantornya bahwa Lan Fang sakit. “Cukup serius,” katanya. Ia sudah membezuk satu hari sebelumnya dan memberi tahu saya di ruang mana Lan Fang dirawat, juga arah yang harus ditempuh untuk sampai ke sana dari pintu depan. Saya baru sadar saat itu bahwa dalam tiga pekan terakhir tidak ada pesan singkat yang saya terima dari Lan Fang.
Keluar dari kantor Jawa Pos, saya langsung menuju rumah sakit. Karena gagal mengingat nama ruangannya, saya menemui bagian informasi dan mengatakan bahwa saya hendak membezuk Lan Fang. Petugas menanyakan nama lengkapnya. Saya bilang itu sudah paling lengkap menurut ingatan saya. Ia mengetikkan nama yang saya sebutkan di komputernya.
“Go Lan Fang?” tanyanya.
“Ya,” jawab saya.
“Tionghoa, ya?” tanyanya lagi.
“Jawa,” kata saya. “Namanya memang begitu.”
Lan Fang ngakak ketika saya sampaikan kepadanya tanya jawab singkat ini.
“Terus dia bagaimana?” tanyanya.
“Tidak ada terusannya,” kata saya. “Dia mungkin tidak percaya, tetapi urusanku kemari adalah menemukan ruanganmu. Jadi tidak usah kupikirkan kepercayaan atau ketidakpercayaan petugas itu.”
“Dasar.”
“Dan sebetulnya aku keliru juga. Kau bukan Jawa, tapi NU.”
Ia tertawa lagi, dan setuju.
Selain mengenalnya sebagai penulis, saya tidak tahu persis urusan sehari-harinya. Ia ada di mana-mana dan terlibat dalam berbagai kegiatan untuk mengungkapkan solidaritasnya terhadap orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Yang menakjubkan, ia tetap produktif melahirkan buku-bukunya. Sepertinya ia tidak ingin membiarkan tubuhnya beristirahat.
Ketika kami, dan sejumlah penulis lain, diundang oleh LSM Demos dan Voice of Human Rights untuk membahas penerbitan kumpulan cerita pendek bertema demokratisasi (2009), Lan Fang menjadi peserta diskusi yang sangat bergairah. Ia bisa menceritakan sampai hal-hal terkecil, misalnya, bagaimana para politisi tega memanfaatkan upacara pemakaman untuk berkampanye.
Belakangan saya tahu ia dekat dengan K.H. Shalahuddin Wahid dan mengajar di pesantren. Ia juga datang bersama Koko, salah satu dari ketiga anak kembarnya, ke Pondok Pesantren Raudlatuth Thalibien Rembang ketika Gus Yahya Cholil Staquf mengadakan pertemuan Terong Gosong. Dalam perjalanan pulang dari acara itu, ia mengirim pesan singkat ke saya, “Mas, saya pulang dari Rembang, dititipkan oleh Gus Yahya ke temanmu. Namanya Pak Rustam.”
Itu kali kesekian ia mengabari saya bahwa ia sedang bersama orang yang “ternyata” teman saya.
Di ruangan rumah sakit, kami hanya berdua Senin sore itu. Ia agak kurus dan pucat. Saya menanyakan kemarahan seperti apa dan pada apa yang ia simpan selama ini. Ia membenarkan bahwa ia memang sering marah, dan terakhir bahkan ia marah sampai rasanya mau meledak. Ia marah ketika berurusan dengan birokrasi yang kebangetan, pada para politisi yang tidak memikirkan rakyat, dan pada apa saja yang tidak beres menurut pendapatnya.
“Oleh Gus Mus aku diminta istirahat, tidak usah mikir negara,” katanya.
“Aku setuju pada Gus Mus,” kata saya. “Istirahatlah dan berhenti mikir negara. Semarah apa pun kau, suaramu tetap dihitung satu dalam setiap pemilu, sama dengan orang yang plonga-plongo tidak mikir apa pun.”
“Aku tolol, ya,” gumamnya. “Tapi kamu juga, hampir setiap minggu kamu marah-marah.”
Rasanya sedih melihat ia bergumam lemah. Saya bilang bahwa semula saya jengkel padanya. “Kau cerewet sekali,” kata saya. Tahun 2006 kami ketemu; ia memberi saya lima bukunya yang sudah terbit. Tiga buku terbit tahun itu, yakniLaki-laki yang Salah, Perempuan Kembang Jepun, dan Yang Liu. Dua buku lainnya adalah Pai Yin (2003) dan Kembang Gunung Purei (2004). Kelak, sampai buku terakhirnya terbit, Ciuman di Bawah Hujan (2010), ia masih mengirimi saya.
Waktu itu ia ke Jakarta dan kami ketemu untuk membicarakan penerbitan kumpulan cerpennya Kota tanpa Kelamin (2007). Saya menyunting naskah kumpulan cerpen tersebut dan kewalahan menerima teleponnya beberapa kali sehari. Di tengah saya menyelesaikan pekerjaan tersebut, tiba-tiba ia menyodorkan satu gagasan lain. “Bagaimana kalau kumpulan cerpen itu ditambahi puisi-puisi untuk membuka setiap cerita?” tanyanya.
“Tidak usah,” jawab saya. “Kalau puisimu jelek, kumpulan cerpen itu nanti malah terasa kampungan.”
“Tapi sudah saya bikin,” katanya.
Sialan. Ia bekerja cepat. Dan ia tetap mengirimkan puisi-puisinya. Saya tetap pada pendapat saya, tidak memasukkan puisi-puisi tersebut ke dalam kumpulan cerpennya. Beberapa waktu kemudian, ketika kumpulan cerpen itu sudah terbit, ia menelepon dan menyampaikan bahwa ia sedang menghadiri sebuah acara. “Saya bersama Bu Wilis,” katanya menyebut nama istri wakil walikota Surabaya waktu itu. “Ternyata ia temanmu, tho?”
Ya ampun, ia kenal siapa saja. Ia kenal banyak orang yang saya kenal. Ia kenal lebih banyak lagi yang saya tidak kenal. Dengan pembawaannya yang selalu bersemangat, ia pribadi menyenangkan.
“Kau bisa memejamkan mata dan melihat sesuatu yang menyenangkanmu?” tanya saya.
Ia memejamkan mata dan mengatakan bahwa ia melihat bunga. Saya menanyakan bunga seperti apa. “Seperti yang dikirim Bu Nani Wijaya itu,” katanya. Tangannya menunjuk karangan bunga di atas meja. “Aku melihat karangan bunga, banyak sekali. Sangat indah. Aku menyukai karangan bunga.”
Saya pamit ketika malam dan ia sudah kelelahan ketawa. “Beristirahatlah, kau perlu memberi kesempatan istirahat bagi tubuhmu,” kata saya.
Sejak sekarang, jika saya mengenang hari kelahiran saya, tahun demi tahun, saya juga pasti mengenang hari kepulangannya. [*]
*) Kolom Ruang Putih, Jawa Pos, Minggu, 1 Januari 2012
[Orbituari] Agus Anggoro Murti: Dia yang pulang dengan kebanggaan
pada suatu hari nanti | jasadku tak akan ada lagi | tapi dalam bait-bait sajak ini | kau takkan kurelakan sendiri
Senin pagi 31 Maret 2014, telah berpulang dengan tenang, bapak-rekan-saudara-penasihat-juru damai kami, Bapak Agus Anggoro Murti. Lelaki sederhana yang mencintai taman dan borobudur dengan sepenuh hatinya. Lelaki bersahaja yang kepadanya saya bisa selalu pergi untuk meminta nasihat atau sekedar berkelakar kapan saja. Lelaki berhati hangat yang selalu membukakan pintu omahe simbok untuk saya setiap saat dan membuat saya merasa tenang dan pulang
pada suatu hari nanti | suaraku tak terdengar lagi | tapi di antara larik-larik sajak ini | kau akan tetap kusiasati
Senin pagi 31 maret 2014, di suatu permulaan hari yang tenang dan bertepatan dengan nyepi, Bapak membuktikan pesan yang diulang-ulangnya kepada kami beberapa waktu belakangan. Dia akan pindah di penghujung bulan. Pindah ke rumah yang dibangunnya dengan penuh kebanggan. Dan di pagi yang damai itu, demi air mata serta untaian doa dari saudara yang mengantarnya ke rumah barunya, saya bersaksi bahwa Bapak telah tuntas tugasnya di rumah fana ini. Dia berpulang ke rumah abadi yang insya Allah lebih baik.
pada suatu hari nanti | impianku pun tak dikenal lagi | namun di sela-sela huruf sajak ini | kau takkan letih-letihnya kucari
Senin pagi 31 maret 2014, saya dengan hati yang dikuat-kuatkan, dengan isak yg terkadang tertahan, serta lafaz istighfar yang bersambung sambung, turut mengantar Bapak ke peristirahatan terakhir. 3 bulan saja sudah cukup buat saya merasa kehilangan yang demikian besar. Mohon maaf Bapak apabila masih ada rasa tidak ikhlas, rasa kurang sabar, itu semua karena kami terlalu mencintaimu. Namun saksikanlah bahwa kami akan saling menguatkan.
Ah, Bapak, banyak sekali nasihat yang kau bagi, petuah bijak yang kau beri, dalam waktu yang begitu singkat. Kamu telah menunjukkan betapa manusia bisa hidup terhormat dengan prinsipnya, betapa cinta kasih dapat menembus sekat. Beristirahatlah dengan tenang. Biarkan kami yang akan meneruskan mimpi besarmu.
Aku mencintaimu | Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu