seen from Germany

seen from Poland
seen from United Kingdom

seen from Poland

seen from Canada
seen from United States
seen from United States
seen from Jordan

seen from United States

seen from Canada
seen from China
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Canada
seen from United States

seen from United States
seen from Maldives

seen from Egypt
seen from Syria
seen from Türkiye
I found a little monster in the woods ❤.
Juli-August 2019
Happy fluffball in action 😍!
The heat is...to much...
Thunder and rain on Saturday but still not below 33°C.
HATI-HATI, PENYAKIT INI MENJANGKITI MAYORITAS MUSLIM
Indonesia memiliki jumlah umat Islam yang sangat besar. Jumlahnya sekitar 225,25 juta Muslim, atau 87,2 persen dari total penduduk Indonesia (258,32 juta jiwa) per tahun 2016. Jumlah ini membuat Indonesia layak menyandang predikat negara mayoritas muslim terbesar di dunia sampai saat ini. Meski memiliki muslim sebagai mayoritas, namun ternyata negeri ini telah terjangkit sebuah penyakit yang menyebar luas di negeri mayoritas muslim. Penyakit apa itu?
Penyakit itu bernama Islamofobia. Islamofobia atau ketakutan terhadap islam dinilai sebagai suatu tindakan rasis terhadap muslim, baik secara individu, kelompok maupun organisasi. Biasanya, provokasi Islamofobia terjadi karena ketidaktahuan tentang Islam secara benar. Definisi Islamofobia tersebut disampaikan oleh Dr. Michael Privot, Director of the European Network Against Racism (ENAR), saat menjadi pembicara pada diskusi panel I di International Conference of Islamic Scholars (ICIS) ke IV di UIN Malik Ibrahim, Malang, Selasa (24/11/2015).
Di luar negeri, terutama Eropa sendiri islamofobia menyebar dengan luas dan cepat terutama lewat media online dengan 70% diantara korbannya adalah muslimah akibat cara berpakaiannya yang berbeda. Di Indonesia islamofobia marak terjadi setelah kasus bom bali, dan bom sarinah. Uniknya, Islamofobia di Indonesia tidak hanya berasal dari masyarakat non muslim tapi masyarakat muslim sendiri. Umat islam yang mengenakan cadar, burqa, bercelana cingkrang dengan janggut tebal, ditambah mengenakan aksesoris berlafadz laa ilaa ha illallah , hingga membawa bendera tauhid (liwa’ dan raya’) menjadi sasaran masyarakat yang terjangkiti islamofobia.
Parahnya, virus ini tidak hanya menjangkiti individu dalam masyarakat tapi juga pemerintah Indonesia secara umum. Lihat saja reaksi kementrian agama Lukman Hakim Syarifuddin saat siswa siswi MAN 1 Sukabumi mengibarkan bendera Tauhid Liwa & Raya secara spontan. Menteri Agama langsung mengaitkan dengan Hizbut Tahrir Indonesia (kelompok dakwah yang badan hukumnya dibekukan negara), serta memoresnya secara hukum. Meski pada akhirnya Polda Jawa Barat menjelaskan tidak ada tindak pidana dalam kasus tersebut. Dan memang sejatinya liwa & raya bukanlah symbol organisasi tertentu melainkan bendera umat islam di seluruh dunia. Kegegeran Pemerintah melihat symbol terkait islam mengindikasikan kuatnya virus islamofobia menyerang Indonesia.
Seperti dikatakan Michael Privot, islamofobia tumbuh akibat ketidaktahuan masyarakat tentang wajah islam yang sesungguhnya. Sehingga penting dan genting bagi kita untuk terus mendakwahkan dan menyuarakan islam sebagai ideology bagi musim dan mengetahui setiap ajaran dalam Islam termasuk ajaran khilafah yang saat ini dianggap menakutkan oleh sebagian oknum di tengah dinamika masyarakat yang terus dijajal paham-paham anti islam dari luar negeri. Jangan sampai yang terjadi justru malah muncul muslim dan muslimah yang fobia dengan ajaran agamanya sendiri.
Di susun dari berbagai sumber.
Bandung, 27 Juli 2019