Entry 06 - Malang Part I
Halo itadakimasu *salah
Cerita soal Malang tuh terjadi dibulan Oktober tahun 2019. Waktu itu aku ada acara training dari kantor yang mewajibkan harus berada disana sekitar seminggu. Ini sebuah kesempatan buat nongkrong bareng teman-teman disana pikirku. Jadi selain training aku juga akan meet and greet(?) dengan teman-temanku, ya termasuk Aki 02. Mulai dari penerbangan Medan-Malang, kepala dan perutku kayak ikan yang diobok-obok Joshua. Kaki kepala, kepala dikaki~ Bukan ngga bisa naik pesawat, tapi itu serius Jakarta (transit dulu HLP)-Malang pesawatnya kayak roller coaster, kayak naga, kayak apapun itu kalian menyebutnya disertai cuaca buruk. Mendaratlah dengan selamat di Malang setelah cobaan hidup tadi. Satu angkatan langsung bergerak ke Hotel yang sudah disediakan pihak kantor.
Malam itu aku kedatangan dua temanku, penduduk lokal yang berbaik hati membawakan bakso Malang. Ah, wonderful food after long and awful trip. Setelah makan dan ngobrol, aku menyadari ketulilan ku. Mau training di barak tentara, why my luggage full of skirts and blouse? Fak. Jadilah malam itu dua temanku tadi menemaniku membeli pakaian baru untuk training. Good job baru hari pertama uda belanja. Sebuah pasar di Malang. Saat itu purnama dan gede banget. Tibalah di salah satu store, perasaanku kok ngga enak. Pusing pake banget.
“Tapi udah makan? Fak kenapa lagi ini?” pikirku.
Berusaha cuek. Akupun shopping ria. Kepala semakin pusing ngga karuan sampe mau muntah. Pusingnya keterlaluan dan makin parah semakin lama disitu. Keluarlah aku dari toko tadi dan berdiri dipinggir jalan sambil menunggu taksi online dengan teman-temanku tadi. Kupikir akan lebih segar terkena udara bebas, malah makin berputar. Aku mulai mendengar rintihan wanita samar-samar.
“Cuek. cuek.cuek”
Akupun melanjutkan obrolan dengan temanku sampai di poin udah ngga tahan dan bilang ke mereka aku pusing banget. Oiya mereka juga berada di cult yang sama denganku dan Aki 02.
Terima kasih Cult sudah mempertemukan kami.
Salah satu dari mereka nyeletuk
“disini loh lokasi mayat mutilasi malang itu”.
SHIT.
Pusingku menjadi-jadi sepanjang perjalanan kembali ke hotel. Badanku mulai lemes gemetar. Sesampainya dihotel aku memuntahkan bakso nikmat tadi huhuhu. Ngadulah anak-anak cult tadi ke bos cult, kenapa ada apa. Jawabannya; ditabrak. Anjer ditabrak Arwah. Jadilah malam itu aku tidur lebih cepat, padahal berencana menghabiskan waktu dengan teman-temanku. Malam itu, si mbah muncul di mimpiku
“Kamu ngga apa nak. Mbah sama dia bakal jagain kamu terus. Kapanpun dimanapun. Jangan takut ya nak”.
Tidurku nyenyak sampai pagi.
H O R E 🎉
Besoknya kami langsung dibawa ke Dodikjur Brawijaya dan bakal tinggal disana selama 5 hari kedepan. Begitu masuk ke barak, berasa kena blower. wuushh. Oke sip. Aku mengucap salam dan izin buat tinggal disitu selama beberapa hari ke depan. Sungguh tempat menguji mental dan fisik *dalam hati. Ruang makannya apalagi. Gede banget anjer seruangan bisa gitu ya jadi seolah menutup separuh ruangan makan persegi panjang dengan badannya. Belum lagi Kamar Mandi bersamanya. K dimana mana astojim. MANA AKU BULANAN *kumenangis membayangkan 😭
Setiap malam kami bergantian jaga malam dan berkeliling barak. Mereka pada seliweran di jendela, kain terbang, ngetok jendela, suara orang memijak rumput di malam yang hening. I wonder kain apa itu kayaknya silky banget, mahal kayaknya. Yang paling membuatku berterima kasih adalah poci-poci setempat tidak menunjukkan diri, lebih tepatnya udah dihadang duluan *sun kucing dan si mbah. Tapi yang di barak lain ngeluh liat poci-pocian. Hamdalah barakku aman. Setiap kemana mana selalu berdoa minta dijagain, sampe mesenin ke kucing buat ngusirin yang jarak 5 meter. Gitu masuk radius(?), usir. Ngga mau tau. Hari-hariku berlanjut seperti peserta kegiatan lainnya, belajar diruangan dan luar ruangan. Training itu mengumpulkan semua pegawai seangkatan SELINDO. Dari Sabang sampe Merauke ketemu teman baru. Ketemu yang sejenis juga.
Jadi sewaktu di Aula perkenalan hari pertama, pelatihnya bertanya,
“siapa yang Indigo?”.
Aku menjawab dalam hati, “mana ada yang ngaku dimuka umum gini bla bla bla”
“SAYA PAK!”
Loh anjer masnya angkat tangan dengan lantang. The fuck is this guy? Pelatih menjelaskan ringkas(?) soal lokasi training kami. “jangan kaget” sama yang disini. Ngga pak aku ngga kaget sama yang bapak sebutkan aku lebih kaget sama masnya.
Mas ini dengan selo menceritakan apa yang dilihatnya ke teman-teman yang bertanya, namun kadang dia menjadi diam dan seperti ketakutan. No one knew i knew too what he saw sampai di titik ini. Sampai suatu ketika, salah seorang temanku yang dari Bali tiba-tiba bertanya padaku.
“Mbahmu ramah sekali ya? tersenyum terus”
HOH? Bisa liat? Setelah kulihat-lihat lagi, diapun ‘dijaga’. Lalu besoknya semakin banyak yang nanya, “mba bisa liat juga ya mba?” “mba dimana aja mereka?”. Loh ada apa ini kenapa mereka semua mendatangiku dan bertanya macam-macam padahal aku ngga pernah cerita apa-apa. Aku bertanya balik pada temanku, ada apa kenapa bertanya seperti itu.
“Oh itu mas yang kemarin itu bilang kalau mba juga sama kayak dia”.
Mas.. kui bgst tenan.
“Iya dia bilang. Dia heran sama mba kok bisa santai banget. kayak ngga terganggu”.
Lalu saat istirahat sebelum tidur kami duduk-duduk dibelakang barak yang penerangannya ala kadarnya. Aku mendatangi masnya yang lagi memesan ketoprak.
“Hei mas. Mesen apa?”
“Ketoprak mba..”
Lalu hening. Diem aja gitu kayak lagi pedekate.
“mbaknya lagi bulanan?”
“iya mas. jadi rame ya”
“iya hehe”
Hening lagi. Gitu aja terus sambil liatin abangnya bikin ketoprak.
“mba itu dilengannya ada jari..”
“oh...” *mengibas dengan tangan
“udah biasa banget ya mba?”
“mas juga. yang jagain mana mas?”
“sudah saya buang sblm menikah”
LOH YA NGIRA KALAU UDA NIKAH LO BAKAL NORMAL GITU? NGGA SAIPUDIN. *ini dalam hati
“kucing mba nya bagus ya. gede gitu. pantes pada ngga berani deketin”
“cuma kucing rumahan kok mas”
Masnya cuma senyum lalu percakapan absurd kami berakhir dengan datangnya ketoprak masnya. teman-teman disekitar kami pada bisik-bisik melihat kami dan salah seorang diantaranya mendekat dan nanya kami ngomongin apa. harus gimana supaya enak tinggal disini selama training. Jadilah kami seperti ibu-ibu yang menasehati anaknya supaya selalu izin ketika melakukan apapun dan berdoa.
Nungguin cerita jurit malam? Kaga ada.
Ini juga sebenarnya udah hal yang kutunggu. Tapi sayang sekali esmeralda, tidak ada jurit malam. Pelatihnya bilang kami ngga seru, terlalu banyak yang indigo dan mentalnya kuat karena sampe hari ketiga ngga ada satupun yang kerasukan, kecuali mas nya yang tadi. Kakinya tau-tau bengkak parah karena “kesandung”. Aku cuma berkomentar,
“Mas nya apa ngga liat itu kok sampe tersandung gitu”
“ngga mba hehe..”
jadilah dia tidak bisa ikut pelatihan hingga hari terakhir.
Malam terakhir di Dodikjur, kami mengadakan Bon Fire. Sekaligus Upacara akhir. Lokasinya? DI lapangan bawah pohon beringin yang sudah jelas ramai sekali. Temanya adalah Para Pahlawan. Otomatis muter lagu Gugur Bunga. Lagu-lagu kebangsaan. RAME COY! huhu. Tentara PETA muncul.Tentaranya jadi banyak banget. Ada warga lokal juga yang ngumpul, bentukannya? sama. berdarah, kepotong, hancur, dlldkkdsbetc. Ada juga yang normal.Satu hal yang kupelajari. Mereka masih mengira perjuangan belum selesai. Ya bener sih. Berasa banget rasa cinta tanah air mereka. Aku sampai menangis tersedu-sedu padahal lagi dibarisan, didepan pula.
“Biar badan kami hancur. Indonesia harus merdeka”
Aku menangis. Banyak juga yang sepertinya sensitif dan merasakan hal yang sama. Sampai disatu momen, lapangan yang besar itu menjadi super sesak saking ramenya. Aku mulai ngga tahan dan untungnya para pelatih paham (pastinya) momen seperti ini akan bagaimana akhirnya. Mereka mendatangkan orang “pinter”, ngga tau dia minum tolak angin apa antangin ya, ke lokasi kami. Pelan-pelan atomosfirnya kembali netral. Selesai lah upacara kami dengan aman tanpa ada yang pake acara pingsan. Padahal aku pengin gitu ada yang “AING MAUNGGG AIING MAUUUNGGG”
Selesailah pelatihanku selama 5 hari dan kami semua berpisah, ada yang langsung kembali ke kota masing-masing, ada yang menghabiskan waktu dulu sepertiku. Aku langsung menuju rumah temanku untuk selanjutnya ngabisin sisa weekend bareng di hotel. ADA AKI 02 loh, dia uda tiba dari Jogja.
Bersambung ke Part II. Ini pasti Aki 02 malu lagi bacanya. Ku jamin.
-Aki 01












