Mengubah Arah Hidup
Pernah nggak mengambil keputusan yang cukup ekstrim yang pernah diambil pas masih belia? (Sekarang masih muda sih, punten). Misalnya yang awalnya pengen ke jalur A, tapi karena mengambil keputusan B, pindah lah jalur B.
Aku juga pernah beberapa kali mengambil keputusan ekstrim bin ngaco tersebut. Keputusan itu ternyata mengubah arah hidupku, (juga karakterku).
Berikut keputusan (yang bagiku ekstrim), yang pernah aku ambil:
1. Mencalonkan diri jadi Ketua MPK pas SMA, pengalaman sebelumnya OSIS, daftarnya malah MPK. Tapi yaudah lah, untung terpilih!
2. Kuliah lintas jurusan, SMA jurusan IPA tapi daftar jalur undangan FISIP Unair, untung lolos 😭
3. Daftar pengajar muda Indonesia Mengajar. Gak pernah rantau dan ke luar kota sendirian, tapi daftar kerelawanan setahun di pedalaman (sejauh ini, ini keputusan paling gila), lolos lagi.
4. Keputusan gila lainnya kubuat lagi tahun ini; daftar AAS buat beasiswa S2ku, dalam kondisi aku masih sakit autoimun yang gejalanya fluktuatif ini.
Kadang aku juga ga habis pikir sama diriku sendiri. Kenapa sih bikin keputusan yang menyulitkan hidupku wkwkw. Tapi rasa-rasanya, ada satu output yang sama dari keputusan-keputusan tersebut; aku menjadi diri yang jauh berbeda jika dibandingkan dengan versi diriku sebelum mengambil keputusan tersebut.
Bikin keputusan ekstrim kayak gitu capek ga si Ra?! Capek!!! Adaptasinya sungguh mantap jiwa. Tapi lebih capek lagi kalo aku membiarkan diriku ikut arus, yang kutahu itu arusnya berlawanan dengan nilaiku. I've been there, done that :) So i decided to change the roadmap (as much as I need)~
Akan kuceritakan satu-persatu keputusanku tersebut di tulisan-tulisanku berikutnya.
Stay tune, bagi yang mau-mau aja :))))
Surabaya, 5 Mei 2026





