Kita adalah penulis buku kehidupan
Kita adalah penulis buku kehidupan. Kita menulis dengan tangan kita sendiri. Seperti para penyair sebelum Masehi. Tintanya akan terus melekat. Tak bisa dihapus. Kita harus tetap menulis. Membalik halaman demi halaman. Menambah jumlah bab demi bab.
Kita rasakan tokoh demi tokoh berhenti di tengah perjalanan. Perasaan-perasaan yang tumbuh itu kita bunuh. Kita mesti bertemu dengan tokoh baru. Meninggalkan yang lama. Plot harus dikembangkan. Bab harus dilanjutkan.
Kita rasakan halaman demi halaman menggores jari kita. Menumpuknya tiap bertambah. Ada halaman kosong yang harus ditulis. Dengan tangan kita sendiri tapi bukan dengan ide kita. Ada ide agung yang lebih berkuasa. Jalan seperti apa yang Ia tawarkan dan kita mesti menentukan. Apa-apa yang harus ditinggal dan dilupakan. Apa-apa yang mungkin ada di depan. Plot harus dikembangkan. Bab harus dilanjutkan.
Di dalam jeda menulis yang amat berat itulah, aku merindumu. Merindu tokoh-tokoh yang kukasihi. Merindu beberapa halaman yang pernah ku tuliskan. Merindu setting yang pernah menjadi tempatku pulang. Merindu musim yang pernah kita lewati bersama. Merindumu yang pernah ku harapkan. Menjalani semua bab hingga akhir.
Tapi, aku harus terus berjalan. Aku harus terus menulis. Bukan aku yang menentukan. Siapa yang bisa tinggal. Siapa yang harus pergi. Siapa yang mesti kutinggalkan. Aku harus terus berjalan. Aku harus terus menulis.
Maka, seperti biasa. Untuk menutup bab ini, ku tikam hatiku dalam-dalam. Bersiap menumbuhkannya lagi apabila musim itu datang.
Dalam jeda Bab 22/Hlm.365
--- Kala Lail











