Selama 19 tahun (tidak lama lagi 20 tahun) saya menjadi orang Kristen, cerita Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya pada Yohanes 13:1-20 hanya menarik bagi saya saat pertama kali mendengarnya, di sekolah minggu. Itupun saya tertarik hanya karena itu hal yang tidak biasa orang lakukan. Selanjutnya, setiap mendengar kisah ini, saya merasa biasa saja.
“Oh, saya sudah tahu cerita ini. Ya, Yesus begitu mengasihi manusia dan kita harus meneladani-Nya.”
Hari ini saya mengikuti ibadah Kamis Putih di GKI Maulana Yusuf. Dengan tema “Saling Mengasihi Sampai Akhir”, Pdt. Esther kembali mengingatkan bahwa kasih yang sejati adalah kasih yang mau merendahkan diri sampai batas akhir kemampuan kita. Kasih sejati itu sudah dilakukan oleh Yesus kepada murid-murid-Nya dan Ia mau setiap murid-Nya, termasuk kita, meneladani-Nya (Yohanes 13:15). Sehingga, keluaran dari ibadah ini adalah setiap jemaat boleh memiliki komitmen untuk saling mengasihi. Dan, lagi-lagi, ini bukan sesuatu yang baru yang saya dapatkan dari kisah ini.
“Komitmen kita untuk saling mengasihi ini akan kita tandai dengan pembasuhan kaki.”
Dalam tata ibadahnya, dilaksanakan prosesi saling membasuh kaki. Pendeta dan penatua membasuh kaki salah seorang jemaat lalu jemaat tersebut membasuh kaki jemaat di sebelahnya dan begitu seterusnya sampai setiap orang dibasuh dan membasuh kaki. Prosesi “reka ulang” kisah di Alkitab selalu menarik untuk saya. Dan, sesuai harapan saya, ada pengertian yang lebih dalam yang saya dapatkan setelah prosesi ini.
Ketika kaki saya dibasuh oleh penatua (kebetulan saya duduk paling ujung), saya merasa tidak enak hati. Duh, orang yang lebih tua, seorang penatua pula, membasuh kaki saya yang kotor. Rasanya tidak sopan membiarkannya. Tapi saya pikir, “Ah, kalau beliau sudah mengambil pelayanan di ibadah ini, ya pasti beliau sudah maklum.” Saya pun menyingkirkan perasaan tidak enak di hati saya.
Ketika saya membasuh kaki jemaat di sebelah saya (kira-kira seumuran dengan saya), saya merasa sangat ‘hina’.
“Ya ampun, saya harus megang dan cuci kaki orang seumuran saya yang kotor, baru lepas sepatu, pasti bau.”
“Duh, masih oke deh kalau disuruh cuci kaki orang tua anggap aja rasa hormat.”
“Kurang ajar sih ini orang kalau dia gak ngerasa gak enak hati.”
Selesai membasuh kakinya, saya kembali duduk dan saya kembali membaca bacaan firman hari ini dan merenungkannya.
Ketika kaki saya dibasuh, awalnya hati saya menolak seperti Petrus. Tetapi saya bersyukur saya mau menerima pelayanan itu dan menjadikan itu sebuah ‘teladan’ untuk saya kerjakan ke orang di sebelah saya. Seandainya saya benar-benar menolak, saya tidak akan dilayani dan saya tidak akan ikut melanjutkan pelayanan tersebut.
Ketika membasuh kaki orang lain, saya sangat mengerti (bukan hanya ‘teori’ tetapi ‘pengalaman’) bahwa pekerjaan membasuh kaki adalah pekerjaan yang sangat ‘hina’. Kita dapat menerima jika kita diminta untuk menolong membasuh kaki orang tua kita. Tetapi sulit untuk kita melakukannya ke orang yang sederajat dengan kita atau bahkan ‘lebih rendah’ dari kita.
Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.
Yesus adalah Guru dan Tuhan. Itu bukan hanya sekedar yang Yesus katakan tentang diri-Nya. Murid-murid-Nya pun mengakui hal itu. Dan, lihatlah, Guru-mu, Tuhan-mu, membasuh kakimu yang kotor itu. Tidak ada tertulis bahwa Ia melakukannya dengan terpaksa. Derajat-Nya lebih tinggi daripada para murid. Ia tidak berdosa, para murid-Nya adalah manusia berdosa, tapi Ia tidak segan untuk merendahkan diri-Nya. Inilah kasih yang sejati yang Ia mau kita, para murid-Nya, meneladani-Nya.
Dalam perenungan setelah pembasuhan kaki, Pdt. Esther mengatakan bahwa nyatanya, merendahkan diri dan melayani sesama itu sulit. Kita merasa seharusnya kita yang dilayani karena kita berpikir kita adalah ‘tuan’. Sulit untuk menempatkan orang lain lebih utama dari diri kita. Sulit bagi kita untuk meneladani Kristus, mengasihi sampai akhir kekuatan kita, sampai akhir kehidupan kita.
Dalam masa perenungan, saya flashback ke kehidupan saya selama ini. Dan saya mengingat kembali ke masa pelayanan saya di Weekend LPMI 2017. Tiga hari dua malam Weekend itu menjadi masa paling menguras fisik dan perasaan saya sebagai korlap, pengendali acara. Di tengah mulai habisnya kekuatan fisik dan perasaan saya, saya merasa sendirian. Tidak ada yang menolong saya. Semua orang, orang-orang yang berkata akan membantu saya kalau saya kesulitan, orang-orang yang berkata mau ikut melayani di Weekend ini, ‘memberontak’ dengan apa yang saya katakan. Saya katakan, “5 menit lagi acara mulai ya”, mereka masih ha ha hi hi dan beracara sesuka hatinya. Bahkan ini dilakukan oleh sesama pelayan di Weekend. Saya merasa lelah dan muak. Secara jujur saya katakan, saat itu, rasa benci saya kepada setiap panitia dan peserta hidup. Saya menolak dengan keras untuk berdoa bagi mereka. Saya menolak dengan keras untuk melayani mereka. Ada yang ajak saya bicara, saya anggap gangguan. Ada yang bertanya kenapa saya menangis, saya anggap itu cari muka. Hati saya benar-benar sekeras itu.
Hari ini saya mengerti betapa hinanya saya sebagai seorang pelayan saat itu. Saya mengambil pelayanan tetapi meninggikan diri saya sebagai seorang tuan. Saya mau dibantu, saya mau dilayani dalam pelayanan saya. Suatu hal yang kontradiksi tetapi itu yang terjadi.
Hari ini saya mengerti apa yang Yesus maksud dengan “saling membasuh kaki”. Rendahkan diri, berhenti meminta untuk dilayani, tetapi mulailah melayani. Berhenti meminta untuk dikasihi, tetapi mulailah mengasihi. Dengan begitu, orang akan tahu bahwa kita adalah murid-Nya :)