Nama yang Menunggu di Tepi Bait
Tampaknya semua aksara ini sedang berjalan ke arahmu,
menyusuri lorong kertas seperti sungai mencari muara.
Entah siapa dirimu, hanya siluet yang kupeluk lewat doa,
namun kuyakin kaulah hujan yang mereda panas dada.
Tenanglah.. Tuhan sedang menyiapkan ruang belajar,
mempertemukanku dengan orang-orang penuh hikmah,
menulis cerita dari tiap luka dan tawa,
untuk nanti diceritakan sebelum kita terlelap.
Kupastikan setiap kata cinta dan sayang di baitku,
terbang menembus langit, menyebut namamu dalam diam.
Dan pada saatnya tiba, engkaulah yang jadi alasanku menulis,
alasanku menggubah kata menjadi ibadah yang hidup.
Lalu kelak ketika kita menua dan tiada,
namamu dan namaku hanyalah huruf di buku orang lain,
namun semoga huruf itu jadi cahaya
yang menginspirasi, meneduhkan, dan menuntun jiwa.
Sebab kasih sayang ini tak sekadar kisah manusia,
melainkan ibadah yang ditulis bersama-Nya.
Semoga di ujung jalan nanti kita temui
cinta yang tumbuh dari tanah ridha Ilahi.