Semenjak kepergian mamak, aku tahu rumah tidak bisa dibilang sama lagi. Terutama soal masak-memasak. Kedua anak perempuan yang sedang belajar jauh dari rumah pun tak dapat membantu apa-apa.
Kemarin, kami (aku dan kakak) nelpon ke rumah lagi. Setelah ngobrol panjang tentang apa saja dengan bapak, sampailah ke bagian ini:
N: Jadi, apa sayur orang bapak di sana?
B: Ayam lah, gulai ayam. Bapak yang masak sendiri.
B: Orang itu -red: adik kami- apapun dimakan-nya itu. Enaknya rasa orang itu.
Sampai di sini aku berpikir, kenapa setiap kali aku nelpon selalu saja masak ayam. Dan kemudian aku tersadar bahwa bapak gak mau kami khawatir soal rumah. Khawatir akan mengganggu pikiran, mengganggu belajar kami. Padahal entah apa makanan yang ada di rumah saat itu :”
Namun, walaupun begitu aku tetap membalas “Wah, udah pandai bapak masak ya”, dan bukan malah menjawab “bohong!”. Karena terkadang ketidaktahuan kita lebih baik untuk mereka. Jadi, pura-puralah tidak tahu.
Jadi teringat, sebenarnya hal ini sudah terjadi beberapa kali. Misalnya, gak bilang kalau lagi sakit, ada masalah di rumah, dll. Pas aku pulang baru diceritakan semuanya. Kadang aku merasa kesal. Iya, kesal. Tapi ketika pulang dan lihat semuanya baik-baik aja, ‘ah syukurlah’, batinku.
Pernah suatu kali keadaan berbalik. Saat aku liburan di rumah dan kakak sedang kuliah di luar kota. Saat itu bapak sakit, tapi mamak dan bapak bersikeras tidak memberi tahu. Dan akhirnya memang tidak ada yang memberi tahu. Saat sakitnya sudah lumayan sembuh, baru diberi tahu ke kakak. Ia marah, tentu saja. Tapi tahu semuanya baik-baik saja, Alhamdulillah, tidak terjadi apa-apa.
Jadi, aku yakin setiap orang tua itu pasti gak ingin anak-anaknya khawatir. Tidak hanya dengan cara ini, tapi pasti banyak lagi cara lainnya. Makanya, kalau lagi jauh, usahakan yang terbaik untuk banggain mereka, belajar yang benar, kerja yang benar. Nah, nanti kalau pulang ke rumah, bahagiain! Bantu-bantu di rumah dan masak untuk mereka :)