“Bagaimana keadaanmu saat ini?”
“Cerah, tapi agak hujan. Hujan, tapi cerah.”
Ya. Hujan deras mulai perlahan hilang lagi. Entah kemana. Akhir-akhir ini hanya terlihat mendung. Pernah malah cerah sekali. Matahari itu nyatanya kembali mengintip. Hanya mengintip. Sinarnya tak sama--seperti kubilang dulu. Membawa sedikit cahaya dan cerah dalam hari-hari terakhir ini. Hujan deras yang dulu mengguyur bagian bumi ini perlahan berganti dengan sedikit sinar mentari. Sinar itu………selalu datang bersama kebahagiaan.
Tapi, tetap saja ada raut kesedihan di muka bumi.
Masih diselimuti mendung rupanya. Sinar matahari itu dianggapnya tak pasti. Membingungkan.
Kadang ada cahaya, tapi rintik hujan masih menyapa. Atau terkadang hanya agak-agak mendung dengan sebersit cahaya yang nampak.
Pernah tidak sih kalian bingung? Itu sebenarnya mendung, tapi kok tidak hujan-hujan yah?
Atau mungkin…… Itu hujan, tapi kok ada matahari yah?
Pada awalnya sinar itu memang membawa kebahagiaan. Kebahagiaan yang besar. Kejutan malah. BIG SURPRISE! Kan aneh, saat mendung, saat musim hujan, tiba-tiba matahari muncul lagi, membawa cahaya, menghangatkan lagi. Bukan berprasangka buruk yah… tapi kok tumben matahari muncul lagi setelah sekian lama menghilang. Jangan-jangan ada sesuatu lagi kan. Entahlah, bumi hanya bisa mensyukuri apa yang terjadi kali ini. Positive thinking aja, musim sekarang kan sudah menjadi tak pasti. Iklim berubah. (Ya seperti kita tahu, pemanasan global penyebabnya). Bumi pun pasti menyambut baik, senang akan kemunculan si mentari itu. Bumi pasti kangen sama sinarnya. Sinar yang telah lama menghilang, kini kembali.
Matahari bilang, ia rasa ia sudah cukup menyinari bagian itu----bagian yang selama ini disinarinya. Tempat itu telah mendapat cukup cahaya dan kehangatan.
Dan ia merasa sekarang ia hanya akan focus menjalani tugasnya sebagain mentari.
Tak mengerti. Maksud focus disini apa yah? Tugasnya kan dari dulu memang begitu kan?
“Tapi suatu saat kau akan kembali padanya?” tanya bagian bumi itu.
“Entahlah, lihat saja nanti.”
Beberapa hari ini cerah kembali.
Tidak secerah musim panas, sih. Tapi setidaknya ada raut-raut bahagia di bagian bumi ini. Ia dapat sinar mentari lagi, walau tak banyak, dan tak seindah dulu.
Tak terlalu gelap sekarang. Awan-awan hitam pekat sedikit-sedikit menghilang sementara. Diganti dengan semburat cahaya mentari pagi, indah dan bersahaja.
Sinar itu…..kembali membawa semangat (walau sebenarnya tidak terlalu ngaruh).
Tapi kecerahan itu nyatanya tak berlangsung lama. Sekitar 4 hari kemudian, awan-awan hitam mulai berarak mendekati bagian bumi ini.
Rintik hujan yang tertahan rasanya akan tumpah. Hujan deras sepertinya.
Ia sekarang benci (lagi) dengan matahari.
Nyatanya selama menyinari bagian bumi ini beberapa hari lalu, ia membagi sinarnya dengan bagian bumi lainnya. Pantas saja sinarnya tak terlalu cerah, tak terlalu hangat. Tapi kan, dia sudah bilang kalau dia sudah merasa cukup menyinari bagian itu? Dia bilang dia hanya ingin focus menjalani kehidupannya.
Egois gak sih kalo bagian bumi ini merasa kesal? Marah malahan. Ia hanya beranggapan, kalau sudah pergi ya jangan kembali dulu sampai waktunya nanti.
Egois memang…… Ia kan memang tak memiliki sang mentari seutuhnya.
Mentari itu milik bagian lain saat ini.
Tapi……di lain sisi, matahari seperti menjanjikan sesuatu. Suatu harapan (lagi) yang indah bagi bagian bumi ini. Kemunculannya, kehadiran sinarnya. Itu semua membuat bagian bumi ini kembali mendapatkan bagian sinarnya yang hilang selama ini. Sinar yang (mungkin) ditunggunya.Tapi, kenapa matahari itu harus kembali lagi sih kemarin? Belum saatnya, kan? Ia seharusnya datang di musim depan, musim panas selanjutnya.
Semua harapan itu kini pupus, sirna, mati, meninggal, hangus, hilang. Apalah itu. Bagian bumi ini saat ini kesaaaaaal, sekesal-kesalnya.
Ia hanya merasa ia telah dipermainkan (lagi).
Diberi sesuatu yang tak pasti. Sebenarnya ia hanya perlu kejelasan. Sudah. Itu saja.
Diberi harapan, tapi nyatanya belum lama harapan itu sudah dihancurkannya lagi. Salah dia juga sih, kenapa harus berharap (lagi) sama matahari yang sama? Padahal bagian bumi ini kan sudah tau, kalau matahari itu sudah harus berada di tempat ia seharusnya, bagian bumi lainnya.
Tidak seharusnya juga ia mengaharap lagi. Bodoh. Selalu seperti ini.
Sekarang hujan deras, sederas-derasnya hujan. Ditambah petir. Gelap. Menakutkan.
Ia tak akan menyapa mentari lagi, menyambut baik kedatangannya—yang penuh maksud dan alasan. Yang tak jelas. Tak pasti.
“Tapi bagaimana kehidupan di bagian bumi ini kalau mentari itu tak datang?” Entahlah. Bagian bumi ini pasti bisa survive. Memang waktunya hujan juga kan saat ini?
"Sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead”
-Adelle, Someone Like You.
I keep coming back like a boomerang
I keep coming back like a boomerang
Around around around back again
Around around around back again……..”
-Plain White T’s, Boomerang
“You come to pull me close
I've cried out all my tears
I push my feelings to the side
But then you bring them back
Now you got me singing…..”
-Selena Gomez, Round and Round
”It messed me up, need a second to breathe
Hey, whataya want from me
-Adam Lambert, Whataya Want From Me
Copyright of Rachma Mutia Bakhtiar,