Dunia menilai jubahmu, bukan dirimu — karena mereka tak sanggup menatap yang telanjang dari makna.

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Philippines
seen from United Kingdom
seen from Malaysia
seen from United Kingdom

seen from Malaysia

seen from Singapore
seen from Türkiye
seen from China
seen from Türkiye

seen from Czechia

seen from Malaysia
seen from United States
seen from China
seen from Russia
seen from China
seen from Russia

seen from Saudi Arabia
seen from China
Dunia menilai jubahmu, bukan dirimu — karena mereka tak sanggup menatap yang telanjang dari makna.
Terkadang nasehat dari orang itu
Seperti pisau yang bisa melukai kita...
ketika kita menggunakan sudut pandang yang sempit...
Tetapi nasehat itu bisa jadi pisau yang berguna... bagi kita jika menanggapinya dengan sudut pandang yang tepat....
#jemarimenari93 #bluesky #landscape #tree #rells
kisah
beberapa hal dalam hidup teruntai dengan begitu menarik. layaknya kisah yang dituturkan dengan teratur.
beberapa hal lainnya dikemas dalam rahasia layaknya kisah yang harus dituntaskan untuk tahu akhirnya.
beberapa hal yang lain tampak begitu kusut layaknya kisah yang gagal, tidak layak dinikmati.
mungkin hidup adalah kisah yang selalu punya banyak sudut pandang. dan kisah memang tidak melulu soal kebahagiaan.
su.dut (n)
Sudut Pandang
Orang yang merasa tinggi, sepanjang perjalanan ia takkan pernah puas dan selalu menuntut kesempurnaan pada orang lain. Sedangkan orang yang rendah hati, menganggap setiap orang itu sama dan memiliki peluang sempurna dengan jalannya masing-masing.
Pena Imaji
Tiga Dimensi Kehidupan
AKU #1
Kita semua tau bahwa dengan banyaknya hal dan kejadian yang telah kita alami hingga detik ini tidak otomatis membuat kita tau bagaimana diri kita yang sebenarnya dan apasih sebenarnya yang kita inginkan? Cepatnya dunia dan adanya social media kadang membuat kita lebih sering melihat keluar dan lupa bahwa diri kita juga butuh untuk diilihat dan dipahami.
Ketika bayi ini lahir kedunia ia pasti merasa takut akan kematian, jika nasib baik tidak melindunginya mungkin rasa cemas bahkan sedih dari raut wajah ibu dan keluarga, beruntung bayi ini masih diberikan kehangatan makanan untuk bertahan hidup dirahim seorang ibu, terimakasih telah membuatku rasa aman dan terimaksih juga tuhan atas kehangatan serta kepuasan yang kau berikan.
Terlahir dari keluarga sederhana jauh dari kata bahagia, Orang tua ku hanya seorang seniman betawi, kami hidup dibawah pelestarian budaya mau tidak mau kami harus mengikuti jejak orang tua kami yang pada intinya “jangan tinggalin budaya kalo bukan kite yang lestariin siape lagi.” Tidak sampai disini kami sungguh beruntung di besarkan dari keluarga yang dekat dengan agama.
Aku hanyalah seorang laki-laki dari 3 bersaudara, betapa berat tanggung jawab nya memberi contoh yang baik serta menjaga martabat keluarga tidak sampai disini keluarga ku hanya lulusan Menengah Atas, perlu diakui kami bukan orang berpendidikan tetapi kami memegang teguh prinsip “jangan jadi beban orang lain jadilah diri sendiri dan bermanfaat bagi orang lain”. Terimaksih telah mendidik ku menjadi laki-laki yang lebih tangguh.
Bersambung...
16 April 2020
Ra #1
Manusia sering kali lupa, mereka hidup di waktu bagian mana, mereka selalu sibuk mengenang dan mempersiapkan, lupa menjalani. Ra, seperti yang pernah kau ucapkan dulu, kita terjebak oleh keputusan-keputusan yang menentukan masa depan. Setiap hal yang kita kerjakan di masa lalu dan masa sekarang akan ada balasnya untuk masa depan, tapi kau menolak itu. Katamu, waktu itu tak seberapa penting, ia hanya ukuran yang tak pasti dan semu. Kau selalu mempertanyakan apa gunanya aku selalu menunggu, apa gunanya aku ditunggu, sama-sama hal yang menjenuhkan bukan?
Ra, dalam perjalanan kita, hidup kita, semua telah tertulis dalam jadwal takdir yang hanya Tuhan saja yang tahu. Tapi semua hal yang telah tertulis pun masih bisa diubah kan, Ra? Banyak orang berkata bahwa kita tak mungkin merubah takdir kita, kapan kita terlahir, kapan kita mati, bagaimana rezeki dan bagaimana jodoh kita, tapi di dunia ini apa yang tidak mungkin?
Jika kita percaya bahwa Tuhan itu ada, berarti kita pun harus percaya bahwa tidak ada ketidakmungkinan, kan?
Memang aku tak pernah tau bagaimana kau di masa lalu, bagaimana pola pikirmu itu terbentuk dan bagaimana kelembutan hatimu itu terwujud. Masa ini, masa yang kita jalani sekarang ini adalah masa di mana aku mencoba mengenalmu dan kau coba memahamiku.
Katamu, jangan terlalu memikirkan masa lalu, jangan selalu memikirkan masa depan, kita ini hidup di masa sekarang, saat ini, kau perlu hidup, bukan di belakang atau di depan sana.
Ra, memang benar orang-orang terlalu sibuk memikirkan masa depan dan masa lalu, mereka lupa bahwa mereka hidup di masa ini, di masa sekarang, hari ini, jam ini, dan detik ini. Pikiran manusia memang seperti itu kan? Selalu memikirkan apa yang seharusnya tak terlalu dipikirkan, selalu ingin tahu apa yang ada di ujung jalan, lupa bahwa mereka ini sedang berada di jalan itu sendiri.
Seperti aku yang selalu menanyakan kapan kita akan berjumpa, kapan dan kapan, bukankah seharusnya aku tak selalu menanyakan hal itu? Harusnya aku menikmati setiap detik yang terlewati tanpa pertemuan denganmu.
Malang, Juli 2020
CURCOL #1 Haruskah Perempuan Bisa Memasak?
Sore ini aku memaksa menghabiskan masakanku berupa potato wedges keasinan. Bukan dalam porsi kecil, ada sekitar 7-8 buah kentang yang dibagi menjadi 4 potongan. Jadi aku melahap sekitar 28 potong kentang goreng keasinan yang kucoba samarkan dengan saos sambal, saos tomat, dan kecap dicampur lada hitam. Perkara memaksa memakan masakan ini bukan hanya sekali ini kulakukan. Minggu lalu, dengan semangat aku berbelanja bahan di supermarket untuk memasak tumis kangkung dengan jamur dan tempe goreng. Kangkungnya tidak cantik, tidak juga lezat, dan tempe gorengnya gosong. Aku merasa sedikit frustasi (lebay kedengerannya ) tapi diwaktu itu aku udah meluangkan waktu pulang kantor (ya anggep aja pengabdianku itu ngantor karena hampir seharian) belanja dengan semangat dan berharap makan enak ditemani nasi hangat tapi jadinya adalah terpaksa memakan hasil prakarya karena kadung kelaparan dan ngga ada pilihan lain. Rasanya pengen marah-marah karena uang belanja sayur dan kelengkapannya bisa dibeliin makan jadi aja yang pasti rasanya.
Memasak kentang hari ini juga, aku membungkuk lama untuk memotong, merebus, mengupasi, menunggu dia menyatu dengan tepung di kulkas, dan ketika kugoreng sangat diluar ekspektasiku. Walaupun aku ngga kaget karena sejak melihat hasil bekunya aku sudah feeling ini failed. Padahal rasanya aku sudah mengikuti resep yang maha mudah itu lalu hasilnya keasinan dan sekali lagi kutekankan tidak cantik. Tidak cantik disini berarti tidak bisa difoto ( atau mungkin bisa tetapi aku tidak percaya diri melakukannya ) dan dipamerkan ke masyarakat media social kalau seorang Fafat memasak. Iya, ingin mendapat pengakuan bahwa aku bisa memasak dengan baik.
Seingatku selama uji coba memasak, yang berhasil hanya satu kali. Saat itu memasak beef teriyaki menggunakan resep temanku karena tergerak melakukan sesuatu dengan daging-daging hasil kurban idul adha. Kuanggap berhasil karena aku memasak dalam porsi lumayan dan memohon ke teman kelasku agar mencicipi. Aku puas karena hasil masakannya lumayan cantik dan lumayan enak. Hari itu moodku bagus karena berhasil masak makanan yang aku suka. Ibu bilang minimal aku bisa masak makanan yang aku suka. Dan sampai kegagalanku sore ini, aku belum memutuskan berpisah dengan memasak hanya terkadang gemas memikirkan kapan aku bisa masak enak dan dinikmati tanpa paksaan oleh orang-orang disekelilingku.
Ibuku, selain menaruh harapan idelalis tentang masa depanku punya cita-cita aku bisa memasak lebih pandai dari ibu. Tiap mbak (rewang yang membantu keluargaku) memasak aku diminta turut untuk memasak atau ketika ada acara hajatan besar yang ibu akan turun memasak aku diminta bergabung. Tapi sungguh aku males. Aku sering kabur malah. Karena ribet pasti, mulai belanja, ngeluar masukkin peralatan, beres-beres, sampai menata hidangannya. Aku ngga kebayang dan aku memilih bayangin aja ketimbang nimbrung di dapur kecuali memang ngga bisa kabur.
Aku ngga tahu salah siapa. Tapi figure ibuku dari dulu adalah ibu ngga pernah siapkan makan dan dia suka bepergian. Sebelum akhir-akhir ini beliau jadi peduli banget sama makanku sampai segala macam makanan dimsukkan ke kamarku ketika melihat aku tidak makan sesuatu. Dan biasanya kukeluarin lagi karena tidak sesuai mauku (iya aku anaknya kadang susah emang). Baru selama beberapa hari karena corona yang membuat kita semua sebisa mungkin dirumah saja ibuku tampak sibuk memenuhi stok makanan dan meja makan selalu ada makanan yang hampir berbeda menu 3x sehari.
Sejak aku mulai kuliah dan tidak asrama, uang sakuku sering habis hanya untuk makan. Padahal sebagai anak rumahan, harusnya cost di makan bisa ditekan. Tapi gimana ya, mbaknya suka ngga paham jam harus ada sedia makanan-aku males mahaim-dan ibu kebiasaaan dengan budaya yang ia bangun yaitu siapkan sendiri yang bisa disiapkan sendiri. Yaudah kan ngga salahku kalau aku milih membeli. Dan sebetulnya aku juga hanya akan makan saat ada teman makan, kalau tidak aku memilih membungkusnya atau ya ngga makan sekalian. Aku tahu ini bukan kebiasaan baik dan aku dalam upaya untuk lebih tertib terhadap diriku.
Bapak juga sebetulnya tanpa sadar mendidikku untuk jadi perempuan yang berpenghasilan banyak ketimbang ibu rumahan yang bisa memasak, mencuci, dan rapih-rapih. Dan aku selalu setuju kata-kata dan doa beliau supaya esok ketika waktunya aku adalah perempuan yang pintar mencari uang. Bahkan itu sudah kulatih sejak dini. Ibuku juga sudah melihat anak gadisnya yang lebih suka aktivitas diluar dan khuatir aku akan kagok dengan pekerjaan domestik. Tapi kata-kata bapakku tu selalu memberikan penguatan bahwa ya ngga apa apa lemah di urursan domestik asalkan bisa punya penghasilan yang mencukupi untuk memenuhi gaya hidupku. Dengan begitu aku bisa menyuruh orang untuk memasak dan bersih-bersih rumah. Walaupun cita-citaku bukan yang njuk wanita karier ngga nikah atau wanita karir yang menikah bisanya masak mi sama telur goreng. Sekalipun aku menyetujui pendapat bapakku untuk menikah di usia 27 yang dibantah ibuku untuk menikah di usia 24-25.
Balik ke soal makan dan memasak. Aku sebetulnya susah makan karena makanannya yang tersedia dalam sehari menu untuk 3x sehari ngga ada bedanya. Dan orang rumahku yang sarapan cuman ibu kayaknya dengan lauk seadanya. Aku dan bapakku ngga bisa kaya gitu. Dan ibu kalau pas mau ya siappin pas engga ya engga. Sekali lagi aku ngga nyalahin ibuku karena itu udah terjadi sejak bertaun-taun yang lalu. Aku bisa menerima itu. Dan aku tahan lapar. Hahahaha. Walau belakangan alarm tubuhku mulai membunyikan protesnya.
Mungkin secara psikologis ini tu bentuk protes karena adikku selalu diperhatikan makannya sama ibu dan mbak rewang sedangkan aku selalu disalahkan ketika malas makan tapi tidak disediakan. Dan kadang mba rewangku tu kalau aku ngga makan seharian yaudah. Pengen nangis kan. Aku lebih sebel lagi ketika ada sepupuku dirumah, ibuku akan nyiappin makan. Sedangkan aku yang jadi penghuni rumah bertaun-taun ibu jarang nyiappin. Ya balik kayak yang aku bilang baru-baru ini aja ibuku peduli sama makanku karena beliau udah ngga sesibuk dulu . Mungkin menurut beberapa dari kalian ini berlebihan mengingat aku sudah dewasa dini dan bukan remaja lagi apalagi anak-anak yang harus disiapkan. Tapi aku pengen aja. Kadang ibu atau mbak rewang nyiappin tapi ngga menarik di aku dan aku udah keburu ngampus atau harus pergi dari rumah. Dan makannya aku suka pengen masak makanan baru untuk diriku sendiri. Tapi bapak, ibu, dan adekku suka banget ngeledekin hasil makananku. Termasuk potato wedges-ku sore tadi yang kumasak dari pagi sengaja kuhabiskan karena aku malas mereka mencicipi atau mengomentari. Walaupun ibuku kayaknya kepengen banget nyicipin karena terus membahas sapai habis jamaah maghrib tapi bodo amat. Jadi sedikit pesan di aku, sebisa mungkin kita memikirkan komentar yang akan kita sampaikan karena bisa jadi narasi kita bikin kagol kaya aku gitu. Wkwkw.
Setiap ngebayangin nikah, aku bayangin misalnya suamiku tu ibunya yang masak enak terus istrinya aku yang ngga suka makan, pemilih, dan masaknya masih belum enak sekalipun pakai bantuan bumbu instan (Aku bikin mi isntan aja ditimer). Pengen nangis sih, walaupun sekarang banyak kampanye dari bu-ibu yang bilang ngga masalah ngga bisa masak sebelum nikah. Cuman ni, misal suamiku tentara yang pindah-pindah distrik terus susah sinyal buat lihat resep dan ngga memungkinkan bawa rewang terus cari bahan ngga mudah karena ke supermarket jauh ya masa sih aku ngga bisa masak. Kejauhan ya mikirnya, tapi itu salah satu jadi pikiranku walaupun belum tahu jodohnya siapa.
Dan sebenernya di luar itu, aku bercita-cita menekuni karir psikologku dengan prestatif tapi juga urusan domestik termasuk memasak jago. Semacam harapannya bikin suamiku kelak kangen masakanku kalau lagi dinas keluar. Oke, let say ini halu dan obsesif dan blabla. Tapi sungguh aku pengen jadi perempuan yang utuh versiku. Maksudku disini bukan berarti terus perempuan-perempuan yang ngga bisa masak tu ngga utuh. Sekali lagi ini versi aku yang bercita-cita menjadi paket komplit. Karena aku bukan ngga suka belanja dan masak, cuman kurang sabar, tekun, dan passionate aja sama urusan dapur.
Ada figure-figur perempuan yang di karir sukses, urusan rumah juga sukses. Contohnya dosen pembimbing akademikku, Bu Dinni namanya, beliau termasuk lulusan profesi terbaik di kampusnya, cantik(pandai merawat kulit dan badanya),trendi (fashionnya kekinian dan harganya menengah ke atas), tapi sering kulihat dia memasakkan anaknya berbagai macam hidangan. Itu belajarnya kapan ya kira-kira gaes memballancekan peran antara ibu, istri, dan dosen. Ada lagi business woman, aku kurang tahu posisi pastinya apa di Indonesia Kaya, tapi aku tahu mungkin beliau semacam senior manager atau diatas itu tetapi sangat sangat pandai memasak namanya Bu Nita. Salah satu anaknya sekolahnya di Dwiwarna yang kita bersama tahu bahwa harga sppnya tidak murah. Atau misal Nagita Slavina yang uangnya dan uang suaminya kayaknya sampai 7 turunan ngga abis,tapi doi pinter masak. Balik lagi, poin kekagumanku selain mereka pada prestasi untuk dirinya dan untuk anaknya bahkan suaminya mereka pandai memasak. Tapi aku kadang juga punya pemikiran supaya aku jadi Tipang istrinya youtuber dan creativepreneur Arif Muhammad yang pinter ngembangin bisnisnya sama suaminya atau Dian Pelangi yang tetap bisa menyediakan makanan enak dirumah untuk keluarga maupun hajatan dengan jasa boga alias mengkaryakan orang lain, aku tinggal menekuni pekerjaanku agar menghasilkan jadi bisa memmbayar jasa orang lain.
Cuman tu gini gaes, adalah cerita dari pasangan baru kala itu yaitu tanteku yang dokter dan omku yang tentara. Tanteku ini dokter pns di Jakarta dan omku saat itu sudah bertugas di pusat markas besar tni ditambah bisnisnya bisa dibilang ngga mungkin ngga punya uang. Tapi suatu waktu, saat mereka ngga mudik ke Jogja dan ditinggal mudik keluarga Jakarta karena omku bertugas. Kalian tahu, mereka kelimpungan cari makan di hari mendekati lebaran, saat lebaran, dan sesudah karena hampir semua rumah makan tutup padahal lebaran identik dengan makan besar tapi karena tanteku ngga bisa masak jadilah mereka cukup kewalahan dimana anaknya juga waktu itu masih kecil. Jadi maksudku uang juga ngga menjanjikan terus semua jadi mudah walaupun uang itu juga memudahkan.
Setelah panjang lebar, kusimpulan hasil curhat ditambah opiniku perempuan tetep kudu punya ketrampilan memasak. Ya minimal yang basic-basic mungkin kaya masak nasi, numis sayur, goreng telur-tahu-tempe dan memanfaatkan bumbu instan dengan sebaik-baiknya karena memakai bumbu instan bukan jaminan juga hasil masakannya enak.
Aku menulis keresahanku ini setelah melihat beberapa teman seusiaku maupun senior diatasku yang cantik terus sering ngestory lagi masak macem-macem. Memang social media hanyalah social media yang katanya wang sinawang, tapi tetep itutu bikin aku cukup lumayan mikir mau sampai kapan malas belajar memasak ataupun menekuni memasak sebagai bagian dari kehidupanku. Karena mereka yang cakep terus mungkin udah laku aja memasak dengan gembira kenapa aku ngga punya semangat yang sama juga!
Terimakasih sudah membaca.
Semoga tulisan ini akan diikuti dengan tulisan lainnya. Dan aku berharap kita bisa tukar pikiran dengan kalian bisa menabahkan opini atau memberiku masukan yang membangun, atau bahkan kita bisa mendiskusikan sesuatu bersama.