Berjalan Sendiri
Di perjalanan ini, biarkan aku bercerita dengan angin. Tentang masa berganti tahun yang sudah sekian lama berlalu. Tentang hampa nya dari renungan salah juga kealpaan, atau congkak melenggak seakan selalu berada di jalan yang benar. Pada angin -yang tak pernah ingkar membawa titah Tuhan- ku bertanya, apakah rahmat kasih sayang yang kurasa, atau siksanya yang kadangkala terasa nikmat namun diri semakin menjauh dari cahaya?
Di perjalanan ini, biarkan aku merasa terasing. Berdiri diantara juta manusia yang berdoa dan berharap. Lalu mengalir dari lisan penuh khilaf segala macam pinta dan harap. Pada Dia yang Maha Mendengar hambaNya yang menghadap. Akhirnya rasa asing ini mengajari, bahwa apapun yang ku punya tak akan pernah memberi arti. Dalam dimensi tanpa sangka dan curiga, pantulan itu samar menampakkan antara puja dan cerca. Atas semua pilihan hati, untaian lisan, juga tindak tanduk kaki dan tangan.














