DI ANTARA KITA
Tak pernah ada pemenang di antara kita.
Kau dan aku, kita bukan sedang bertanding, melainkan hanya terjebak di ruang semu yang terasa asing. Serupa tali kusut, kita membuang jarak meski dengan ikatan semrawut. Sikap abai kita telah sempurna, meniadakan segala opsi dan fakta bahwa kita tak pernah tahu kelak akan bersandar di dada yang mana, milik siapa. Kita menutup mata pada semua area yang terdapat orang lain di sana.
Entah memang kita tak tahu atau pura-pura tak tahu karena tak pernah ingin tahu, bahwa ada jeda yang sengaja dicipta, spasi yang sengaja dicari. Hanya saja, kita seakan tak peduli pada tanda dan rambu, hingga kembali sibuk merajut simpul yang entah bagaimana, entah untuk apa dan untuk siapa.
Bertahan pada stagnasi yang nyata, kepala kita masih dipenuhi perdebatan yang sama: siapa yang lebih hebat, yang lebih cepat menjerang luka, dan siapa yang berhak lebih dulu bahagia. Kita sama-sama keras kepala perihal mengikhlaskan, hingga tak bisa memutuskan siapa yang harus lebih dulu pamit dan meninggalkan.
Memang benar, tak ada menuai bagi mereka yang tak menyemai. Seperti itu pula kita, tak mengenal kata usai karena kisah yang tak pernah dimulai.
Selamanya, aku dan kamu, kita, masih sama, masih sebatas fatamorgana.
Tasikmalaya, 08-08-2020














