Satu jiwa, dua raga; kita.
Bertemu kamu itu seperti bertemu dengan kembaran diriku, yang biasa orang sebut “twin flame”, satu jiwa dalam dua raga yang berbeda.
Menghadapi kamu itu rasanya seperti sedang menghadapi diriku sendiri. Layaknya sedang berkaca, terlalu banyak hal yang rupanya sama. Terutama perihal sudut pandang kita dalam menyikapi ajaibnya dunia. Mungkin itu sebabnya kenapa lebih mudah bagi kita untuk bisa saling memahami satu sama lain; katamu kita sefrekuensi dan satu visi. Itu juga sebabnya perasaan nyaman ini tumbuh dan diam-diam merekah menolak layu.
Beberapa hari yang lalu kamu bercerita bahwa aku seperti selalu ada di setiap persimpangan yang kamu temui, tanpa kamu sadari. Sama, aku juga, sampai heran sendiri. Kalau kata Yura Yunita, sih, “Intuisiku selalu mengarah kepadamu..” Kenapa, ya? hehe. Barangkali benar, karena kita adalah satu jiwa dalam dua raga yang berbeda.
Kadang aku tergelitik untuk menuangkan cerita tentang awal perkenalan kita hingga di titik sekarang dalam sebuah novel bergenre romance. Sepertinya akan menarik. Meski setelah membaca bagian epilognya akan banyak orang yang kecewa dan berkata, “Harusnya happy ending,” hehe.
Ya, meskipun bagi mereka perjalanan kita tidak happy ending, tapi semoga ini adalah jalan yang terbaik untuk kita masing-masing.
—
Selamat tinggal.
Seperti doa-doa yang selalu kulangitkan untukmu,
semoga kebaikan senantiasa besertamu.
Aku juga menyukaimu, tapi aku cukup sadar diri bahwa tidak mungkin untuk bisa memilikimu.
Kamu tahu itu.
@intansyahputria
















