Halusnya Prasangka
Saya bukanlah seorang yang rasis. Itu benar dan pasti sampai tubuh saya berkata lain.
Ini adalah kejadian sekitar 5 tahun silam. Suatu siang di bilangan Senayan, di bawah tv billboard yang besar, saat sedang menunggu bis pulang, sebuah mobil menepi dan berhenti di depan saya. Jendela otomatisnya turun perlahan, dan
“Excuse me,”
sapa suara dari dalam. Saya segera membungkuk, dan seketika itu juga menarik tubuh saya, ketakutan. [Adegan ini, dan yang akan saya ceritakan selanjutnya, berlangsung sangat singkat, hanya beberapa detik.] Dengan tubuh tegang dan kaku saya menegapkan sikap. Suara bising di sekitar seketika berganti senyap, dan yang saya dengar hanyalah hardikan itu.
“Sis, apa yang kamu lakukan? Mengapa kamu memalingkan wajah dari orang-orang kulit hitam ini?”
“Hey, kamu rasis! Please, don't do this to me, they are waiting!”
Setengah mati saya bertarung dengan kesadaran yang tiba-tiba menampar wajah saya itu, sampai kemudian dengan perlahan saya membungkukkan badan, dan tersenyum pada mereka.
“Is Bintaro far from here?”
Nalar kita begitu agung, logis dan rapi, sampai kemudian tubuh kita berkhianat dan meruntuhkan bangunan argumennya.











