Kembalian Rupiah & Permen
“Kak, totalnya Rp14.500”, mbak-mbak kasir menyebutkan total belanjaan snack ber-MSG yang dikemas rapi kantongan putih. Dari layar mini yang menjulang seperti antena parabola segiempat dari mesin hitung kasir tertulis Rp14.410. Pembulatan ke atas? 90 rupiah? Padahal kan bisa dibulatkan menjadi Rp14.450? Pembulatannya hampir Rp100. Apa memang begini standar pembulatan untuk transaksi dengan nominal yang tidak ada pecahannya? Bila ada 10 orang konsumen dengan pembulatan Rp90, maka mbak-mbak kasir bisa mengumpulkan Rp900. Lantas kelebihan transaksi akan diapakan? Dan mengapa pula para retailer menetapkan harga jual retail barang-barangnya dengan harga yang tidak ada pecahan rupiahnya?
Saya membanyar dengan tiga lembar pecahan Rp5.000 dan mbak-mbak kasir memberikan saya selembar struk dan 3 biji permen mint lunak.
“Maaf mbak, saya tidak beli permen ini”, saya sodorkan kembali permen ke mbak-mbak kasirnya. “Kembaliannya Rp500 Kak, tidak ada uang kecil” mbak-mbak kasir tersenyum ragu. “Kalo uang seribuan punya tidak? Saya kasih Rp500, mbak kasih saya seribu, cukup kan?” koin bulat berwarna perak kusodorkan ke mbak-mbak kasir minimarket. Mbak-mbak kasirnya kelihatan kikuk menyerahkan uang kertas berwarna hijau pecahan seribu.
“Mbak, kembaliannya seribu diganti vitac*m*n ya…tidak ada uang seribu”, mbak-mbak kasir apotik menyerahkan potongan struk dan satu strip vitamin C berwarna kuning terang.
“Maaf Mbak, stok vitamin C saya masih banyak. Bisa diulang totalnya berapa?Saya punya recehan”, dompet bulat berbahan plastik berwarna pink yang berisi koin saya keluarkan. “Saya punya recehan seratus perak sampai seribu perak. Berapa totalnya semua?” saya mulai menghitung recehan untuk membayar harga obat ke mbak-mbak kasir apotik.
Dan banyak cerita lainnya yang “memaksa” saya, sebagai konsumen, untuk diberikan kembalian selain rupiah, tapi permen atau barang lain seperti vitac*m*n atau barang lainnya yang “dianggap” memiliki nilai yang sama oleh si penjual. Substitusi kembalian uang menjadi barang lebih sering dilakukan oleh jaringan-jaringan minimarket atau swalayan besar berskala lokal ataupun nasional. Warung-warung kecil bahkan hampir tidak pernah saya dapati melakukan substitusi kembalian rupiah dengan barang. Karena mereka sudah membulatkan terlebih dahulu dan bahkan kadang mencapai 2 kali lipat dari harga retail. tapi tidak pernah dengan nilai yang ganjil dan berakibat membayar kembalian dengan permen.
Selamanya heran dengan kebiasaan dan (mungkin) budaya kembalian di negeri ini. Dan mungkin hanya di negeri ini yang punya 2 mata uang, rupiah dan permen (atau dengan barang lainnya yang dianggap bernilai sama).
Cara kembalian ala substitusi ini dari perspektif penjual mungkin sebagai strategi cross selling. Terutama untuk barang-barang yang kurang laku atau barang-barang keluaran terbaru atau (mungkin) yang akan kadaluarsa. Tapi praktik organik cross selling tidak memaksa dan konsumen memiliki alternatif keputusan “ya” atau “tidak”. Sedangkan “cross selling” dengan substitusi kembalian ini bersifat (sangat) memaksa karena konsumen harus menerima produk cross selling yang diberikan, terlepas apakah suka atau tidak. Tapi bagi konsumen yang kritis, seperti saya, kondisi tersebut pasti akan berlangsung rumit karena konsumen pasti akan mempertanyakan cara pengembalian yang aneh ini dan meminta hak kembaliannya sesuai dengan seharusnya diterima.
Konsumen sebenarnya sudah dilindungi undang-undang dari layanan kembalian ala substitusi rupiah menjadi barang ini. Namun dalam transaksi sehari-hari, praktik kembalian substitusi masih banyak dan sering terjadi. Mungkinkah penjual atau retailernya tidak tahu tentang aturan tersebut ? Atau mungkin tahu, tapi bersikap masa bodoh? Atau mungkin konsumennya pun menerima saja kembalian pembelanjaannya dengan cara substitusi karena mungkin suka dengan (rasa atau merek) permennya? Atau konsumen tidak punya pilihan lain dari kembalian substitusi ini?
Saya sekarang gemar mengumpulkan pecahan-pecahan kecil seperti Rp50, Rp100, Rp200, Rp500 dan Rp1.000 untuk membayar belanjaan yang berekor ganjil dengan pecahan kecil. Dan untuk transaksi senilai minimal penggunaan kartu debit atau kartu kredit, saya memilih menggunakan kartu.
“Mbak, kalau uang saya kurang lima ratus rupiah, saya boleh ganti dengan permen 3 biji ?”
“Kenapa tidak bisa? Permen 3 biji kan harganya lima ratus?”
“Tidak bisa Kak, takutnya saya bisa selisih kurang lima ratus”
“Tapi kalau kembalian saya lima ratus, kenapa kembaliannya permen 3 biji? Gak takut tuh selisih lebih dari haknya orang? Kalau saya gak ikhlas, selisih lebihnya itu bisa jadi haram lho , buat mbak dan buat toko tempat kerja mbak ini”
Mbak-mbak kasir diam tertunduk dengan wajah memerah.