CERPEN | Kembang Api
"Kembang api lagi!"
Celetuk gadis belia itu.
"Mengapa anak-anak itu suka sekali bermain kembang api? Ini membuat telingaku sakit saat mendengarnya. Tidakkah mereka tahu bahwa di Palestina, Suriah, dan negeri Islam yang terjajah lainnya, kembang api telah terganti dengan rudal-rudal yang dijatuhkan tiada henti?"
Ia menggerutu.
"Anak-anak itu belum paham, mereka menyukai hal-hal yang baru dan yang membuat mereka senang. Biarkanlah mereka bermain terlebih dahulu, nanti kapan-kapan kamu bisa mengajak mereka bercerita. Tentang kepedihan anak-anak yang terjajah negerinya, tentang perjuangan orang-orang luar biasa dan keharusan memiliki mimpi menjadi seorang pejuang. Suatu saat, jika kau menjadi ibu, berilah anak-anakmu pemahaman yang benar."
Seorang wanita yang tak jauh usianya dari dirinya menimpali seraya tersenyum.
Gadis belia itu mengangguk tanda paham.
Lantas ia bergegas membuka lembaran kertas dan mulai menggoreskan pena.
Pada malam ku dengar lagi sengatan petasan yang membisingkan pendengaran,Juga euforia orang-orang saat kembang api memunculkan semburan api dengan bentuk-bentuk yang indah, aku hanya dapat meringkuk dan menutupi telinga, mataku basah teringat dengan sanak saudara di belahan negeri sana.
Wahai kalian yang dengan santai membakar petasan, tak sampaikah cerita duka tentang rudal-rudal yang meledak di atas bangunan orang-orang muslim?
Petasan itu tak berarti apa-apa dibandingkan dengan nyala api dari senjata-senjata yang membombardir tubuh dan kediaman saudara kita.
"Dik, kemarilah sebentar! Biar ku bisikan sesuatu untuk membuatmu berhenti memainkan petasan. Dik, jika kau mendengar gemuruh kembang api itu terasa indah di telingamu, ketahuilah bahwa bagiku itu mengganggu. Kenapa? Mungkin kau belum tahu, bahwa saudara-saudara seusiamu di belahan bumi sana tengah berjuang menebalkan telinga-telinga mereka dari gemuruh rudal-rudal pembuat makar. Mereka sudah terbiasa dengan itu. Bahkan sampai saat ini mereka mungkin tak sempat memikirkan pakaian apa yang akan dipakai untuk hari raya idul fitri besok. Dik, kembang api mu mungkin indah saat ia meletus di udara. Namun di sana, langit-langit tergores kuas jingga dan abu-abu. Kepulan asap-asap roket yang meledak, debu-debu dari reruntuhan bangunan, bahkan percikan darah segar yang membuat bumi yang mereka pijaki merona. Dik, suatu saat kembang api mu harus kau ubah dengan rudal-rudal yang lebih canggih dari rudal-rudal bengis milik Israel. Kamu mau ya? Sebab, suatu saat, kamu yang akan membantu mereka untuk membebaskan Al Quds, membuat panji Islam ini tegak kembali, hingga keadilan dapat dirasai. Dik, kemarilah sebentar! Biar ku beritahu bagaimana caranya uangmu dapat bertambah. Maka kuncinya adalah sedekah. Uang yang kau habiskan untuk dibakar itu, lebih baik kau sisihkan untuk membantu saudara-saudaramu. Mau kan?"
@penaalmujahidah














