Setelah menikah, entah kenapa aku menemukan sisi diriku yang lain, yang belum pernah aku temui sebelumnya.
Apa mungkin karena aku merasa memiliki rumah? Rumah yang nyaman untuk menjadi apa adanya diriku tanpa merasa takut dihakimi, disepelekan, atau direndahkan. Di dalamnya aku bebas berekspresi, menunjukkan sisi-sisi tersembunyi yang belum pernah aku tunjukkan kepada dunia, bahkan kepada diriku sendiri.
Aku yang terbiasa begitu mandiri dalam pandanganku, yang selalu tahan banting dalam hal apa pun, terbiasa menyimpan segala rasa sakit sendirian, tiba-tiba menjadi perempuan yang manja, yang sering minta dipeluk, yang mudah kesel karena hal-hal sepele, dan merajuk hanya karena ingin diperhatikan.
Terkadang ada kalanya aku merasa bersalah telah menunjukkan sisi lemahku. Namun, begitulah adanya. Ternyata aku tidak sekuat, setegar, dan seindependen yang aku sangka.
Betapa aku bersyukur mendapatkan rumah berwujud suami yang begitu sabar menghadapi aku yang tiba-tiba berubah mood. Dia begitu tentram untuk aku yang suka tantrum.
Pernah suatu ketika, aku bilang padanya,
"Sepertinya aku perlu ke psikolog untuk mengobati luka batinku yang masih mengendap."
Jawabannya justru membuat aku terharu,
"Daripada ke psikolog, sini ke aku aja. Biar aku yang bantu buat sayang mengeluarkan itu."
Sungguh jawabannya menenangkanku. Dirinya bisa memperlakukanku dengan lembut.
Meluruskan aku saat aku salah dengan teladannya, karena katanya sebagai kepala keluarga harus memberikan teladan yang baik untuk keluarga, bukan sekedar banyak berkata tapi tidak ada aksi nyata.
dengan orang yang tepat, kita bebas menunjukkan diri, melucuti topeng yang mungkin kita pakai selama ini.
Diri kita bebas berekspresi tanpa takut merasa dihakimi, disepelekan, atau direndahkan.
Kekonyolan kita tidak dipandang sebagai sesuatu yang menjijikan, tetapi justru dijadikan pemantik tawa yang dapat menciptakan momen romantis penuh makna meski sederhana.
Kekurangan kita akan diluruskan dengan lembut dan penuh kasih sayang, diisi dengan banyaknya kelebihan yang ada padanya.
Dengannya, syukur kita bermekaran layaknya kuncup bunga di musim semi.
Dengan orang yang tepat, kita dipandang sebagai manusia utuh yang tidak sempurna. Kelebihannya disyukuri, kekurangannya disabari dan dilengkapi.
Namun, setepat apa pun orang yang membersamai kita, tak akan berarti apa-apa jika kita tidak ikut mengusahakan yang terbaik baginya. Karena dalam suatu hubungan, ada saling yang harus terus diutamakan. Tak boleh ada merasa paling. Karena kita menuju garis finish bersama, bukan untuk mencari siapa juaranya.
Saat Istirahat di Sekolah, 11/12/24