"Mencari" Gerak Nada di Perkampungan Solo
Surakarta sebuah kota yang akrab di sapa Solo sering di identikan sebagai kota "Seni dan Budaya". Seni dan Budaya melekat di Kota Solo tentu tidak terlepas dari adanya 2 Kerajaan yang berada di Kota yang memiliki slogan"Spirit of java" ini.
Di Solo sangatlah terkenal dengan Kampung Batiknya ada Kauman dan Laweyan sebagai ujung tombak masih terpeliharanya Batik sebagai identitas Kota Solo. Kembali lagi di awal tadi Solo identik dengan kota "Seni dan Budaya" tidak adakah di Solo kampung para Seniman ?
Pada Mei tanggal 25 kami mengangkat tema “Gerak Nada Pusat Kota” yang bertempat di Kemlayan. Kampung Kemlayan merupakan bagian dari kampung kuno di Solo yang tempo dulu kondang dengan indentitas kampung seni/seniman karena banyak melahirkan tokoh-tokoh seni dan aktivitas kesenian yang marak disini. Kemlayan adalah Kampung kesenian di bekas wilayah kerajaan dinasti Mataram.
Sedikit sulit untuk menulusuri sejarah di Kampung Seniman ini, Kenapa ? karena banyak rumah – rumah di Kemlayan yang sudah ditinggalkan oleh pemiliknya. Siapa pemiliknya ? dari beberapa nama-nama di depan pintu terlihat pemilik rumah-rumah di Kemlayan banyak yang merupakan seorang Seniman hal ini terlihat dari nama-nama yang disandangnya yang menggunakan nama “Mlaya” di depan namanya
Baik mari coba kami ajak anda menelusuri Kemlayan melalui resume cerita berikut :)
Kami sengaja menempatkan tempat pendaftaran di Bank Panin karena pada kegiatan ini kami juga mengunjungi salah satu rumah pangeran, pasar singosaren yang letaknya tidak jauh dari tempat ini. Bank Panin merupakan bekas gedung kesenian Srikaton yang dulunya sebagai tempat pementasan kesenian ketoprak dari para seniman di Kemlayan. Setelah tempat pementasan Ketoprak itu tidak digunakan lagi maka seiring waktu berjalan gedung ini sempat menjadi bioskop trisakti yang memutaran film Bollywood. Nama trisakti sampai sekarang masih melekat dengan daerah di sekitar Kalilarangan ini.
Perjalanan kemudian dilanjutkan ke arah Pasar Singosaren. Pasar Singosaren layaknya sebuah pasar di Solo merupakan pasar tradisional yang sudah lama ada. Nama Singosaren diambil dari seorang nama Pangeran yang bernama Kanjeng Gusti Pangeran Harya Singosari. K.G.P.H Singosari putra dari Bendara Pangeran Haryo Hadikusumo dengan Raden Ayu Asmoroadiningsih. B.P.H Hadikusumo putra Sampeyan Ndalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buwono Senapati Ing Ngalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama IX (Paku Buwono IX) dengan Raden Ayu Dewaningrum. K.G.P.H Singosari mendiami ndalem (rumah) yang letaknya di utara pasar tradisional singosaren. Keberadaan pasar tradisional Singosaren sendiri sampai sekarang masih ada, walau memang sudah terhimpit di bangunan-bangunan modern. Sekitar tahun 80an Pasar singosaren dikelola oleh pihak ke-3 yang merubahnya menjadi pusat perbelanjaan. Sebagian besar pedagang Singosaren di pindahkan ke Pasar Kadipolo, akan tetapi sebagian pedagang lainya masih bertahan hingga sekarang dimana pasar tradisional ini dahulu ada.
Disebelah selatan pasar singosaren ini diperkirakan terdapat Gedung besar yang memiliki daya tampung sekitar 200 orang untuk pertunjukan Wayang Orang Panggung (WOP) kemasan Gan Kam. Pementasan dilakukan di atas pangguang yang diberi layar, oleh karena itu disebut wayang orang panggung (WOP). Panggung tersebut ditinggikan sekitar satu meter, agar penonton dapat dengan jelas melihat pementasan wayang orang sambil duduk. Menurut cerita Gan Kam merupakan seorang saudagar batik yang kaya dan merupakan salah seorang asing yang interest pada kesenian jawa pada masa Mangkunagara VII dan Paku Buwono X. Merosotnya wayang orang Mangkunegaran itu menarik minat seorang Cina kaya yang bernama Gan Kam. Gan Kam adalah seorang pengusaha Cina kaya kemudian (atas izin Mangkunagara) mendirikan rombongan wayang orang profesional pertama di Surakarta pada tahun 1895. Para pemainnya sebagian besar direkrut dari mantan abdi dalem penari wayang orang Mangkunagaran yang diberhentikan. Dapat dipastikan, bahwa Gan Kam menggunakan kekayaannya untuk mengadakan sarana, prasarana, antara lain: sebuah bangunan permanen atau semi permanen yang dilengkapi dengan panggung, dekorasi, dan seperangakat gamelan; busana wayang orang; dan tempat duduk penonton.
Setelah melewati pasar singosaren sampailah kami di ndalem yang tersisa di daerah Singosaren yaitu Ndalem R.M.T.H Harungbinang. R.M.T.H Harungbinang (R.M.Ng.Sumosugondo) putra B.P.H Hadikusumo dengan Raden Ayu Renggoadiningsih. Ndalem ini masih ditempati oleh cucu dari R.M.T.H Harungbinang. Diwilayah ini dahulunya terdapat tiga bangunan ndalem namun seiring berjalannya waktu bangunan itu hilang hanya meninggalkan satu ndalem. Konon ceritanya di ndalem inilah dahulu K.G.P.H Singosari tinggal.
Setelah mengunjungi ndalem ini kami melanjutkan perjalanan ke sumur bandung, sumur ngampok dan sumur kamulyan. Sumur ini merupakan cikal bakal kampung kemlayan yang dulunya sengaja dibuat untuk tempat mengambil air wudhu S.I.S.K.S Paku Buwono IV.
Sinuhun PB IV belajar gendhing sampai lupa waktu untuk menjalankan sholat, kemudian memerintah abdi dalem “Yasakna sanggar pamujan (kamulyan), ana ing empok” atau sanggar kemuliaan ada di Ngampok. Sumur yang digunakan untuk wudhu :
1. Sumur bandung, tidak cocok karena yang keluar bukan air melainkan lumpur.
2. Membuat sumur dekat tempat sholat juga tidak cocok.
3. Membuat di sebelah selatan cocok.
Setelah mendapat sumur yang cocok, kemudian menunaikan sholat. Kanjeng Gusti kemudian berkata :
“Para kawuloku lan poro abdi dalem, mulo podo seksenono, wiwit sakiki desa iki tak jenengi Desa Kamulyan” yang artinya “Para warga dan abdi dalemku, kalian semua jadi saksi , mulai saat ini desa ini dinamakan Desa Kamulyan”.
Asal dusun Kamulyan jadi Kemlayan kala itu adalah yang pertama tinggal di dusun Kamulyan para abdi dalem karawitan keraton Kasunanan, yang disebut Mlaya. Dari kata Mlaya kemudian berkembang menjadi Kemlayan. Para abdi dalem tinggal di Kemlayan Kidul.
Ketika masa PB X, tidak hanya para abdi dalem yang mendapat gelar, namun para empu-empu karawitan juga mendapat gelar. Terlihat dari rumahnya yang berbentuk Joglo
Kampung Kemlayan bagian barat ditinggali anak/cucu dari keturunan Kraton Kasunanan:
1.Kanjeng Tjokrokoesoema
2.Kanjeng Natadiningrat
3.Kanjeng Singosari
Kampung Kemlayan sebelah timur selain ditinggali para abdi dalem juga para priyayi-priyayi
1.Kyai Demang, di belakang rumah Kyai Demang terdapat makam Mbah Berak (sesepuh/pepundhen warga Kemlayan kala itu)
2.Sindoepraja
3.Darsanagara
4.Pradjaloekitan
5.Bah Leutnant
Selesai mengunjungi ketiga sumur itu para rombongan juga mengunjungi rumah Alm.S.Ngaliman. S.Ngaliman adalah seniman tari di kampung kemlayan. Beliau adalah seorang abdi dalem keraton di bidang tari, Empu Tari ISI Surakarta sekaligus pemrakarsa perkumpulan kesenian masyarakat Kemlayan. Di saat Kemlayan mengalami keterpurukan dalam generasi penerus pengrawit, beliau mempelopori berdirinya BARADA ( Bina Raga Budaya ) serta Sanggar Pamungkas yang berhasil menumbuhkan kembali semangat generasi muda pada zamannya.
Kami kemudian melanjutkan perjalanan ke rumah Bapak Sardono W. Kusumo. Rumah yang terletak di tengah kemlayan ini dahulunya berbentuk Joglo. Menurut cerita disi dahulu merupakan tempat tinggal selir Mangkunegoro 7. Ndalem (rumah) ini dahulu bernama Ndalem Handoyoningrat. Seiring berjalanya waktu Ndalem ini dimiliki oleh Bapak Sardono W Kusumo.
Bapak Sardono merupakan seorang seniman yang bergerak dibidang Tari. Beliau sekarang menetap di Jakarta. Sewaktu berpindah rumah bangunan inti dari ndalem ini juga ikut dibawa ke Jakarta. Keputusan ini diambil lantaran beliau sekarang ini lebih banyak menetap di Jakarta, untuk itu pendopo dan ndalem turut dibawa agar senantiasa dapat di rawat keaslianya.
Setelah menikmati brambang asem dan gempol pleret rombongan melanjutkan perjalan ke rumah maestro keroncong yaitu Gesang . Gesang memiliki nama lengakap Gesang Marthartono lahir di Surakarta tepatnya di jalan Bedoyo Nomor 5 kelurahan Kemlayan 1 oktober 1917. Beliau telahir bukan dari keluarga seniman. Gesang terlahir dari keluarga yang merupakan pengusaha batik. Orang tua gesang bernama Mantodiharjo merupakan salah satu pengusaha batik di kawasan Kemlayan. Entah kenapa Gesang memilih jalur seni sebagai jalan hidupnya, bukan memilih jalur seni sebagai jalan hidupnya, bukan memilih melanjutkan perusahaan Batik milik orang tuanya. Mungkin hal ini juga tak lepas dari kehidupan di Kemlayan jaman dahulu yang sangat kental dengan seni nya. 1940 di tepian bengawan Solo di daerah Langenharjoter ciptalah sebuah lagu yang hingga sekarang sudah di alih bahasakan sedikitnya di 13 Negara. Jepang merupakan negara yang paling mengagumi lagu Gesang yang berjudul Bengawan Solo. Sebagai bentuk penghargaan atas jasanya terhadap perkembangan musik keroncong, pada tahun 1983 Jepang menderikan Taman Gesang di dekat Bengawan Solo.Pengelolaan taman ini didanai oleh Dana Gesang, sebuah lembaga yang didirikan untuk Gesang di Jepang.
Terik matahari yang mulai menyengat pada siang hari itu tak menyurutkan semangat teman-teman Blusukan Solo untuk mengunjungi salah satu rumah Bapak Haryono. Rumah ini dahulunya ditempati oleh Ha yin, seorang seniman ukir dari China. Ha yin merupakan seorang China yang merupakan langganan dari Sinuhun Pakubuwono X dalam hal pembuatan perabotan mebel Keraton. Setelah berjalanya waktu rumah ini berpindah tangan ke Matowiharjo. Matowiharjo merupakan abdi dalem keraton yang bekerja di Water Scrap (perairan). Sedangkan istri dari Matowiharjo bekerja sebagai pembatik. Rumah ini terlihat besar dikarenakan untuk menyimpan kayu untuk pembuatan perabotan mebel yang merupakan pesanan Keraton. Pemilik rumah yang sekarang bernama Bapak Haryono merupakan keturunan Matowiharjo. Bapak Haryono menikah dengan RAJ Diah Kusmurniati yang merupakan cucu dari Pangeran Kusumobroto seorang pangeran yang merupakan anak dari Sinuhun Pakubuwono X. Pangeran Kusumobroto sendiri dikenal memiliki kecerdasan yang luar biasa, sehingga pada masa beliau menimba ilmu di Belanda beliau sempat dipulangkan ke Solo karena Belanda takut akan kecerdasan beliau yang berpotensi bisa menimbulkan kudeta di tanah jawa.
Setelah dari rumah pak haryono kita berhenti di masjid dan memberi waktu rombongan untuk melaksanakan sholat sebelum mengunjungi rumah bapak samsul Setelah melaksanakan sholat rombongan kembali melanjutkan perjalanan ke rumah pak samsul Rumah ini sedikit berbeda dengan beberapa rumah disekitarnya. Tidak bergaya Joglo melainkan bergaya indis yang merupakan campuran Arsitektur belanda. Rumah ini dahulunya memiliki Pabrik batik. Bentuk asli dari rumah ini masih terjaga hingga sekarang. Rumah ini dibangun oleh Abdul Fattah selaku pemilik masa lalu di tahun 1830.
Setelah mendengarkan ceria dan berfoto bersama rombongan melanjutkan perjalanan ke Ndalem Roesradiwidjojo. Ndalem ini dahulu merupakan tempat tinggal dari Mloyosetika. Mloyosetika merupakan seorang seniman yang berhasil menciptakan not rantai. Putri dari Mloyosetika kemudian menikah dengan Roesradiwidjojo yang menciptakan wayang wahyu. Pada tahun 2005 di tempat ini digunakan untuk latihan sanggar tari Pamungkas yang digawangi oleh Bapak Ngaliman.
Di tempat ini kami menikmati makan siang dengan menu Lodoh Ingrris. Makanan ini konon katanya dahulu kesukaan dari warga kemlayan. Lodoh Inggris sekarang ini sudah tidak dijual dimanapun. Selain makan siang ditempat ini pula kami diajari beberapa gerakan tari tradisional.
Tibalah kami di penghujung kegiatan. Kami berjalan menuju objek terakhir. Sebuah rumah bergaya Jawa yang sering disebut Ndalem masih berdiri kokoh ditengah himpitan bangunan-bangunan beton di kiri kanan nya. nDalem Prodjoloekitan namanya, ndalem ini merupakan kediaman seorang arsitek keraton Kasunanan yang didirikan tahun 1874
Itulah tadi sedikit Resume kegiatan Blusukan “Gerak Nada Pusat Kota” sebuah perjalanan menyusuri kampung Seniman yang berada di tengah Pusat Kota Solo, semoga dengan adanya resume ini akan semakin banyak yang tahu dan mau menjaga bahwa di Pusat Kota Solo ada sebuah kampung Seniman yang harus dipertahankan keaslianya dan fungsinya.
Foto oleh : @gilarhargi, #littleAji, @ariniZJ
Artikel terkait Blusukan Kemlayan lainya oleh @halim_san “Kampung Seniman itu Bernama Kemlayan”