Review Buku Pengantin Remaja - Ken Terate
Judul : Pengantin Remaja
Penulis : Ken Terate
Halaman : 384
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
—
Belakangan marak denger berita soal pernikahan dini, apalagi yg di Ponorogo itu. Banyak remaja lebih milih nikah daripada sekolah. Nah, menurutku buku ini bisa loh dibaca semua remaja yg lg punya love crisis diusianya. Nggak cuma cewek aja yg bisa baca, tp cowok juga boleh bgt baca ini.
Buku ini cerita tentang Pipit seorang remaja yang lagi mengalami gejolak romansa seperti remaja pada umumnya. Pipit yang duduk di kelas 11 SMA merasa masa remajanya hanya begitu-begitu saja. Sibuk sekolah dan belajar, terus bantu ibunya untuk buka jasa laundry di rumah. Sampai akhirnya, Pipit bertemu dengan Pongky yang menawarkan kehidupan baru sebagai pasangan suami-istri.
Pipit merasa kehidupannya yang membosankan akan lebih seru jika dijalankan bersama pasangannya. Dia terhasut dengan rayuan dari Pongky untuk menikah dini dan membangun rumah tangga. Pongky yang mengiming-imingi kehidupan bahagia seperti di atas awan, membuat Pipit segera menyetujui lamaran dari Pongky.
Ternyata apa yang ada dimimpi Pipit soal pernikahan hanya tinggal kenangan. Semuanya hanya kebahagiaan semu yang berjalan tiga hari saja diawal pernikahan. Dihari-hari berikutnya kebahagiaan itu berganti dg kepahitan. Keluarga Pongky yang diawal baik, ternyata itu hanya bualan semata. Hari-hari Pipit hanya diisi oleh kemarahan karena suaminya yang tidak bisa diandalkan. Dan juga hari-harinya hanya diisi penyesalan karena memilih mundur dari sekolah dan menikah.
Kenapa kok harus baca buku ini?
Buku ini ngasih sudut pandang baru soal menikah muda. Mungkin kita sering kan liat foto-foto selebgram yg nikah muda ‘tuh keliatannya enak, banyak bahagianya. Padahal kita ngga pernah tau dibelakangnya gmn. Struggling mereka dg pasangannya, finansialnya, mentalnya, dan sebagainya.
Buku ini jg ngajak kita sebagai pembaca utk memilih, mau kehidupan pernikahan yg seperti apa. Mau hidup dg pasangan yg seperti apa. Emosi kita jg ikut dimainkan bgt ketika baca ini. Karena kita akan ketemu dg karakter-karakter yg punya sifat keras kepala melebihi kerasnya batu didunia ini.
Satu hal yg perlu dihighlight dari buku ini adalah kondisi Pipit. Mungkin sejak awal Pipit jg nggak pernah kepikiran utk menikah muda. Tapi dia nggak punya sosok yg bisa bantu dia mempertahankan argumennya. Sebagai remaja pasti Pipit butuh banyak validasi dr org sekitarnya. Saat itu ketemulah dg Pongky yg manipulatif. Pipit yg di rumah merasa nggak ada yg perhatian, di sekolah pun gurunya melabeli dia dengan sebutan bodoh, maka ketika Pongky hadir dan memberikan perhatian dia merasa di dunia ini ada yg mencintai dia dg tulus.
Mungkin semua orang ketika baca buku ini akan sebel dg ke-mbanggelan Pipit. Tapi tahu nggak sih kalo sebetulnya sejak awal Pipit nggak salah kok, dia cuma perlu banyak dikasih tau. Sayangnya disekitar dia nggak ada orang-orang yg bisa ngasih tau dia.
Buku ini ditutup dg kesadaran Pipit tentang semua yg sdh dilalui. Gimana dia akhirnya melanjutkan mimpinya yg sempat tertunda sejenak. Cukuplah utk menutup emosi yg sdh larut saya keluarkan sejak awal baca buku ini. Good job kak Ken!









