Aku akan menjawab, Andrea Hirata. Sebab Laskar Pelangi adalah tulisan yang telah membuatku jatuh cinta pada novel untuk pertama kalinya.
Orang tuaku juga adalah manusia yang berproses. Saat anaknya SD, jangankan membelikan buku bacaan, memberi uang jajan pun mereka harus berjuang. Akhirnya ketika itu aku hanya suka membaca buku pelajaran, atau cerpen-cerpen dalam koran yang terbengkalai.
Kelas 1 SMP, aku menemukan buku Laskar Pelangi tergeletak mengenaskan di perpustakaan, begitu kucel dan dekil. “Eh ini kan yang di film itu?” kubacalah iseng-iseng, padahal ke perpus niatnya mau rebahan. Dan hey! Beritahu aku cara berhenti membacanya. Dari situ mulai membaca novel-novel lain, berkembang pada buku puisi dan berbagai buku lain hingga buku pelajaran tereliminasi seutuhnya.
Perpustakaan yang dikunjungi juga semakin menjadi, ada perpus desa, perpus kota, perpus nasional, sampai banyak taman baca tempat nyewa buku pernah kujamah. Dompet isinya kartu anggota semua, bukan duit atau ATM. Aku lebih senang pinjam buku karena akan lebih cepat menyelesaikan bacanya, di-deadline kan … meski pun … wkwk, sering telat ngembaliin juga sampai berbulan-bulan dan jeduarrr! Dendanya lebih mahal dari harga buku barunya mampus.
Ada juga sih buku yang kubeli. Dan sebelum membelinya, akan kupastikan itu adalah buku yang layak dibaca berulang kali. Kalo nggak, ya aku giveaway untuk pembaca wattpad sebagai tanda terima kasih karena udah mau-maunya membuang waktu untuk tulisanku yang gaje parah.
Yaudah, terima kasih Pak Cik Andrea Hirata karena sudah menulis, meski aku tidak pernah memberi bintang lebih dari empat, harus diakui bahwa semua tulisan beliau tidak pernah membuatku menyesal barang setitik pun ketika membacanya. Bahkan tidak merasa bosan kalau harus membaca ulang, dan kembali nangis padahal udah tahu jalan ceritanya. Satu bintang yang tersisa itu adalah sebuah harap, bukan kolaborasi, tapi apresiasi lain.
Satu bintang yang tersisa itu, milikku.