Kamu dan Amarah
Pada sebuah tulisan, dia mengatakan bahwa dia sedang bersama yang bernama amarah. Aku sedang membayangkan dia yang matanya sedang memerah, batinnya sedang luka tapi tidak sampai berdarah ataupun bernanah. Namun pada situasi yang demikian, aku sedikitpun tidak ada bayangan untuk menjamah, beramah tamah. Imanku masih lemah untuk menemani dia yang sepertinya gelisah. Aku hanya seseorang yang untuknya, masih bersedia menjadi tempat berbagi kisah. Katanya lagi bahwa amarah yang sedang bersamanya adalah hasil dari dirinya yang kecewaBarangkali ada harapan dan asa yang titik temunya tidak sampai terbawaAku jadi ingin bercerita padanya tentang memaafkan diri atas risau-risau yang sedang menahan gelak tawaBahwa masih ada nyawa yang ingin berbagi banyak rasa pada sepinya jiwa. Kautanya siapa aku? kujawab aku adalah orang yang sejak lama ingin menyampaikan bahwa aku sedang rindu Padamu aku ingin mengutarakan banyak cerita, bahkan jalan kaki malam itu adalah satu memori yang menjadi candu Kalau sudah begini, kau tau kan pada siapa aku bisa mengadu? Saat ini, apakah amarah yang sedang bersamamu masih saja mengganggu? Bisakah aku membacakan puisi untukmu atau menyanyikan sebuah lagu? Agar kamu tidak lagi merasa sendiri dalam membersamai diri yang sedang melawan ragu Kutahu berat memang tugasmu, tapi aku juga yakin bahwa kamu orang yang mampu Mengubah suasana hati yang sedang kelabu
Seiring berjalannya waktu Api nanti akan mengubah kayu menjadi abu Akan ada luka yang sembuh setelah lama membiru Akan ada aku yang masih menunggu
Katamu, menunggu apa? Tentu menunggumu dengan redamnya amarah, dengan jalan yang lebih terarah Nanti akan kupastikan langkahku selurus anak panah Kita bisa bertemu di jalan tengahJadi, bisakah kamu berjanji untuk tidak akan menyerah? untuk terus melangkah? Hari esok sepertinya akan datang dengan lebih cerah, dengan lagkah yang lincah, dengan semangat yang terus membuncah Tetap semangat untuk terus berbenah (c) Rama Wulan Surabaya, 04.04.2020 (on late post)









