Rencana
Bagaimana jika aku ingin kembali dari peraduanku yang sunyi?
Menulis cerita sedih lagi
Jangan pernah bangkit dari kematian
seen from China
seen from United States
seen from China

seen from Canada
seen from United Kingdom
seen from China

seen from China
seen from Russia
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Canada
seen from United States
seen from China
seen from South Korea

seen from China

seen from United States
seen from China

seen from Malaysia
seen from China
Rencana
Bagaimana jika aku ingin kembali dari peraduanku yang sunyi?
Menulis cerita sedih lagi
Jangan pernah bangkit dari kematian
Ziarah Kelima
: kepada yang mati muda
/1/ suara azan wangi hujan memancar : mengantar pulang
/2/ kabut turun ketakutan bermimpi : menjadi nabi
/3/ ruh, pena, kata roda-roda kereta puisi cinta
/4/ di mana kita? muka yang berjelaga dibasuh dosa
/5/ batu, namamu kita dan peristiwa : tinggal di dada
Solo, Maret 2016
* sebuah tribute untuk tulisan-tulisan @kepadayangmatimuda
terimakasih untuk kepadayangmatimuda karena sudah memperbolehkan saya untuk bereksperimen dengan narasinya di project gowithepict week 2 dengan tema musim. by the way, saya pinjam tulisan yang ada di bio untuk prolog. semoga tidak ada kematian yang saya bunuh dalam vokalisasi ini. selamat mendengarkan :)
Musim Semi yang Abadi
Aku ingat kau pernah mencariku, dengan segenap laju larimu. Sewaktu matahari masih berjerih melawan malam sampai ia kembali lindap ditelan petang, kau tidak berhenti mencari. Lantas sisa tenaga yang kau punya setelah itu bahkan tak mampu mengantarkanmu melewati pendar lampu jalanan yang mulai temaram. Iya, pada akhirnya kau tersuruk dalam gelap, menangis dengan kesedihan yang pekat.
Aku tahu kau pernah mencoba mengetuk-ngetuk rumahku, yang pada kenyataannya tak lagi berpenghuni. Dengan sekuat lantang suara kau berucap salam dan hanya berbalaskan jeda hening yang panjang. Iya, pada akhirnya tanganmu memar-memar sebab kau hantamkan di daun pintu yang cuma bisa membisu, tak membukakan jalan.
Kau mengerti bagaimana rasanya bertahan sendiri, sedang seseorang yang kau inginkan tetap tinggal malah hengkang. Kau sesumbar pada teman-temanmu; Tuhan memang kadang tak tahu diri, Dia selalu menebang bambu yang lurus lebih dulu. Dia juga selalu memetik bunga yang paling menawan di taman—bakal penghias surga-Nya.
Aku ingat, kau sedang membicarakanku.
Itu dia. Sekarang kau tertelungkup di atas pusara, masih dengan merambang airmata. Dalam sela isak yang setengah sesak kau memanggil-manggil nama yang terukir di nisannya.
Aku tahu, kau sedang menangisiku.
Maaf, aku cuma bisa bilang begitu. Dan tentu saja terimakasih, untuk semaian berupa-rupa benih bunga di atas tempat pembaringan terakhirku. Berkatmu, kematian hanya serasa seperti musim semi yang abadi. Bunga-bunga yang kau tanam akan selalu bermekaran menebar wangi kematian bersama tangismu yang pecah dalam sunyinya tanah pemakaman.
Kota Satria, 4 April 2015, 09:19
* backsound: Fjögur by Sigur Ros
* songs: Through Her Eyes (Alternate) by Dream Theater
* text: http://kepadayangmatimuda.tumblr.com/post/115443059373/musim-semi-yang-abadi