Kamu Jenis Gila yang Mana?
Ada satu jenis kesedihan—yang tanpa perlu digurui—kamu pasti sudah mahir meratapinya.
Kehilangan.
Satu kata itu pasti sudah memberi banyak gambaran di otakmu, kan?
Jadi, suatu dulu, aku pernah memiliki hal yang kupikir tidak akan pernah pergi. Karena begitu gembira memilikinya, aku jadi tidak paham bahwa ternyata kata 'selamanya' hanya sebatas bermakna 'selagi ada'.
Sampai sini kamu masih paham, kan?
Jadi kalau ada yang bilang "aku akan bersamamu selamanya", maka tolong percaya padaku, itu dia katakan karena dia masih ada di hadapanmu, atau setidaknya nomor teleponnya masih bisa kau hubungi hari ini. Tapi aku sedang tidak mendoakan dia pergi atau hilang, kalau memang ternyata benar ada yang mengatakan kalimat fana seperti itu padamu. Jadi kalau dia sungguhan hilang, aku tidak boleh disalahkan. Ya?
Baik, aku akan kembali tentang jenis kesedihan yang sedang kuceritakan tadi.
Kalau kamu membaca beberapa tulisanku dan paham apa inspirasinya, kamu pastilah mafhum.
Kali ini aku ingin ceritakan sebuah rahasia, meskipun sebenarnya sudah bukan rahasia lagi jika cerita ini nanti sudah terbaca olehmu. Ini adalah sesuatu yang belum bisa aku tulis dan membuatnya terbaca oleh khalayak.
Kamu mau tahu?
Tapi kurasa kamu perlu tahu.
Aku pernah gila (dan mungkin masih agak gila). Kalau kamu benar-benar baca tulisanku, mungkin sudah ada sangka kalau aku mengatakan hal ini. Tapi tidak, permasalahannya bukan hanya karena aku gila, atau lumayan gila, atau semacam itulah.
Kegilaanku pernah membuatku hampir menggali makam seseorang, seseorang yang membuatku kehilangan. Bukan sosok orang itu saja yang hilang, melainkan kewarasanku juga. Kupikir kalau aku masih bisa mandi dua kali sehari dan makan dari piring dengan rapi maka masih genap warasku, dan kewarasan masih pula pada tempatnya. Nyatanya, ketika hilang seseorang itu, hilang pula akal yang kukira akan menetap padaku selamanya. Dan kedua hal inilah yang membuatku sedih sampai titik dimana airmata tidak bisa mengungkapkan apa-apa. Bahkan kulit kesedihannya pun tidak. Jadi aku tidak menangis, tidak bisa, sekalipun sudah ada rasa kehilangan yang menggerogoti sisi melankoliku. Lagipula aku sudah termakan stereotip bahwa airmata hanya milik perempuan cengeng saja. Padahal aku pernah melihat ibu—perempuan paling tegar yang kukenal hitam dan merahnya—menangis selagi jenazah adikku dijadikan abu.
Menurutmu, apa orang gila bisa sedih juga?
















