🔸 K A S U N A N A N 🔸 . Atap Istana Keraton Kasunanan atau Keraton Surakarta Hadiningrat yang tetap kokoh dan menjadi simbol destinasi Kota Solo . Keraton Kasunanan Surakarta tetap dibuka untuk menjadi destinasi wisata Kota Solo. Ketika berkunjung ke keraton, pengunjung akan disajikan berbagai peninggalan keraton kasunanan dan akan dijelaskan setiap detailnua oleh para abdi dalem Keraton . Sudah pernah berkunjung ke Istana Keraton Kasunanan gan? . Credit: Photo by @cerita.siang Edited by @cerita.siang Shot on Iphone 6 . #keratonsolo #keratonsolohadiningrat #keratonkasunanan #wisatasolo #jalanjalansolo #destinasisolo #ceritasiang (at Keraton Solo Hadiningrat) https://www.instagram.com/p/CBZ8fZyhGgT/?igshid=14bgq1jze109g
Aksara Jawa - - #ready_lawassoke #aksarajawa #keratonsolo #keratonkasunanan #keratonkasunanansurakarta https://www.instagram.com/p/B2x4LcNl3M3/?igshid=1t4le0wwtb9rq
#30hbc1908 #30haribercerita @30haribercerita MACET Suatu siang, saya diantar seorang bapak tukang becak ke Kampung Batik Kauman di Kota Solo. Belum terbayang sebelumnya seperti apa kampungnya, karena ini kali pertama kesana. Memasuki kampungnya, ternyata jalanan di dalamnya berupa gang yang tidak begitu lebar. Mungkin hanya cukup untuk 2 becak berpapasan. Itulah mengapa disini banyak yang memilih untuk berjalan kaki, naik sepeda dan naik becak. Tapi meskipun begitu, ternyata kemacetan pun tak bisa dihindari. Sampai di perempatan, becak kami bertemu dengan becak-becak lainnya. Semrawut. Tak berlangsung lama, bapak-bapak tukang becak saling mempersilahkan becak yang lain untuk lewat duluan. Beberapa yang lain mengalah dan memberikan jalan untuk becak yang mau lewat. "Monggo, Pak. Njenengan riyin." "Njih, suwun." Disela-selanya, banyak penumpang yang diam-diam mengabadikan momen tersebut, termasuk saya dan bulik @mutiara.gita . Januari 2019 ❤ #kampungbatikkauman #keratonkasunanan #solo (at Kampung Wisata Batik Kauman - Surakarta) https://www.instagram.com/p/BsXgYheFr5P/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=nd3d9tkxxff4
Tradisi tahunan yang jamak dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Jawa menyambut datangnya 1 Muharram - yang dijadikan sebagai awal penanggalan Islam ini - sebenarnya tak hanya dilakukan di Solo. Tradisi ini banyak dilakukakan oleh masyarakat Jawa dimanapun berada, diluar atau dibeberapa daerah di Pulau Jawa. Solo merupakan kota dengan budaya dan adat Jawa yang sangat kental menjadi salah satu kota di Jawa yang melaksanakan acara ini secara meriah. Bahkan rangkaian acara Grebeg Sura 2012 ini sudah dimulai beberapa hari sebelum puncak acara tanggal 14 November lalu.
Perjalanan ke Solo sebelumnya memang sudah direncanakan karena ada sebuah acara family gathering yang sayang untuk dilewatkan begitu saja. Beberapa hari sebelum keberangkatan saya mendapat informasi tentang acara kirab pusaka dalam rangka memperingati 1 Muharram di Solo. Beruntung kini informasi dapat dengan mudah didapatkan hanya dengan menggunakan media internet. Setelah mendapatkan gambaran acara dan rencana kegiatan melaui riset kecil-kecilan, saya pun memutuskan untuk berangkat satu hari lebih awal dari rencana sebelumnya agar bisa meliput acara Grebeg Sura.
Tiba di kota dimana Gubernur DKI Jakarta sekarang ini sempat menjadi Walikota melalui jalur udara adalah pertama buat saya, sebelumnya saya melewati kota Solo dengan mengendarai mobil saat mudik lebaran. Kota ini cukup tertata rapih dan bersih, paling tidak itu kesan pertama saya mengenai kota ini, dan tentunya bebas dari kemacetan dan kesemerawutan lalu lintas. Sesuai jadwal, acara akan dilakukan malam hari, tepatnya tengah malam. Waktu yang ada saya sempatkan untuk melanjutkan riset dan mengatur rencana liputan. Hal ini cukup penting agar saya tahu tempat dan spot untuk meliput.
Pintu gerbang Keraton Kasunanan, Solo siang hari sebelum acara Grebeg Sura. Sampai disini suasana khas tradisional Jawa sangat terasa, berpadu dengan kehidupan modern yang mempunyai ciri khas tersendiri.
Solo sendiri mempunyai dua keraton, Keraton Kasunanan dan Keraton Mangkunegaran. Kedua keraton ini juga menyelenggarakan acara menyambut tahun baru Islam. Setelah melakukan riset, saya memutuskan untuk meliput di Keraton Kasunanan. Saya pun segera melengkapi kebutuhan dan persyaratan untuk bisa meliput acara.
Tradisi Malam Satu Sura
Bagi sebagian orang, malam satu Sura diidentikkan dengan mencuci benda-benda pusaka atau benda-benda keramat yang biasanya berupa keris. Hal ini adalah satu dari beberapa tradisi yang dilakukan saat malam satu Sura. Mencuci pusaka bisa dilakukan sendiri atau dengan bantuan ahlinya, karena perlu keahlian dan perlakuan khusus. Jika tidak, maka nilai magis yang ada pada pusaka tersebut bisa berkurang bahkan hilang aura-nya.
Selain mencuci benda-benda pusaka, ritual lainnya yang sering dilakukan adalah Tapa Bisu atau mengunci mulut tidak mengeluarkan kata-kata selama menjalankan ritual yang bermakna sebagai ritual untuk mawas diri dan refleksi apa yang telah dilakukan pada tahun yang lewat. Ritual ini biasanya dilakukan sambil berjalan mengelilingi alun-alun atau keraton.
Malam satu Sura identik pula dengan lek-lekan atau tidak tidur semalam suntuk, biasa dilakukan di halaman rumah, pos ronda, atau tempat lainnya, tuguran, ruwatan, tirakatan, hingga kirab kebo (kerbau) bule di Solo.
Keraton Kasunanan bersiap mengadakan acara Grebeg Sura.
Kirab Pusaka Keraton dan Kerbau Kyai Slamet
Malam itu tepat pukul 8 saya sudah bersiap. Keraton Kasunanan malam itu ramai sekali oleh abdi dalem dan kerabat keraton yang menghadiri acara. Panitia terlihat sibuk lalu-lalang menyiapkan ritual besar orang Jawa. Memasuki Keraton aura magis terasa kuat sekali, aroma bunga dan kemenyan menusuk hidung. Acara malam itu dimulai dengan pengajian oleh kerabat keraton dan abdi dalem. Terlihat diantara keramaian ada yang mulai kusyuk melakukan ritual tirakatan, memanjatkan doa kepada yang Kuasa.
Kerabat keraton, abdi dalem dan para tamu undangan yang sudah bersiap memulai acara pengajian.
Pengajian dimulai, mereka khusyuk memanjatkan doa-doa berharap keselamatan, berkah dan kemakmuran kepada Sang Pencipta. Aroma bunga dan kemenyan kuat menusuk hidung.
Tepat tengah malam ritual kirab pusaka pun dilakukan. Para abdi dalem dan panitia yang ada pun terlihat sibuk menyiapkan pusaka-pusaka yang dikeramatkan oleh Keraton yang akan dikirab. Satu persatu barisan yang terdiri dari para abdi dalem disiapkan untuk membawa pusaka.
Setelah didoakan, pusaka keraton siap untuk dikirab.
Yang menarik, barisan paling depan kirab ini adalah kebo (kerbau) bule Kyai Slamet sebagai cucuk lampah (pembuka jalan). Kulit berwarna terang mendekati warna merah muda yang sekilas mirip dengan Tedong Bonga di Toraja, Sulawesi Selatan membuat kebo bule ini berbeda dengan kerbau biasanya. Kebo bule ini dipercaya sebagai keturunan asli Kyai Slamet yang telah ada sejak zaman Pakubuwono II. Keunikan ini membuat sebagian besar masyarakat Solo mempercayai bahwa Kebo Bule mempunyai tuah tersendiri dan menjadi simbol dan sebagai salah satu pusaka keraton.
Kebo bule Kyai Slamet sebagai pembuka jalan kirab pusaka Keraton.
Kebo Bule Kyai Slamet ternyata sangat sensitif oleh kilatan flash kamera dan elemen warna merah, sehingga kirab pun sempat tertunda karena kebo bule tersebut ngambek tidak mau jalan. Pawang kebo bule pun tak henti-hentinya mengingatkan kepada warga yang memadati keraton untuk tidak menggunakan flash dan jika ada yang mengenakan kaos atau atribut berwarna merah untuk sejenak meninggalkan area kirab.
Pusaka-pusaka Keraton mulai dari keris, tombak dan sebagainya dikirab mengitari kompleks Keraton Kasunanan Solo.
Antusiasme warga Solo yang ingin menyaksikan kirab sangat luar biasa memadati halaman keraton dan sepanjang rute kirab. Ribuan orang berdesakan untuk menyaksikan kebo bule yang diyakini akan mendatangkan berkah hanya dengan melihat kebo bule yang dikirab pada malam satu sura, bahkan dan beberapa warga yang sengaja menunggu kebo-kebo bule tersebut untuk buang hajat dan berebut kotorannya. Jika kotoran tersebut ditanam di pekarangan atau kebun, dipercaya dapat menyuburkan tanaman. Tak sedikit pula yang terlihat berebut janur yang menghiasi keraton, tak lain untuk mendapatkan berkah. Ritual kirab pusaka ini berlangsung hingga subuh dengan rute mengelilingi kompleks Keraton Kasunanan.
Kompleks Keraton Kasunanan dipadati oleh warga Solo yang juga ingin mendapatkan berkah di malam satu sura.
Tradisi tahunan ini menjadikan Indonesia sangat kaya akan budaya-budaya daerah, yang tentunya memperkaya keragaman Indonesia sekaligus menjadi pemersatu bangsa. Tradisi seperti ini memang sudah sepantasnya dilestarikan.