Kerja Kelompok, Yuk! (Part 1)
Salah satu rutinitas aktivitas kampus kita adalah kerja kelompok. Tapi, banyak orang yang tidak suka atau tidak bisa melaksanakan aktivitas ini. Apakah kamu orang yang kesulitan atau cenderung tidak menyukai aktivitas ini? Biasanya, pengalaman buruk pada kebanyakan kerja kelompok sebelumnya menyebabkan trauma: Tugas tidak berhasil terselesaikan dengan baik atau hasil baik tapi tidak semua ikut bekerja. Ini menandakan kerja kelompok tidak berjalan dengan efektif. Sehingga banyak yang memilih untuk menjadi “single fighter”.
Atau kita malah menjadi pihak yang magabut (makan gaji buta), a.k.a tidak bekerja apa-apa tapi dapat nilai? Atau satu tingkat di atasnya, sebagai tim hore? Hehe… jangan sampai lah ya. Tapi believers, kenyataannya posisi-posisi di atas malah banyak peminatnya loh. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga di kampus-kampus luar negeri. Ada cerita dari salah seorang dosen informatika ITB yang sangat menarik. Mahasiswa dalam posisinya bekerja kelompok menempati tiga tipe, yaitu merah, biru, dan kuning. Si merah adalah mahasiswa yang sangat rajin dan mendominasi pengerjaan. Si Biru adalah pihak yang akan melakukan finishing dengan mengetik laporan atau membuat ppt, dan yang terakhir, yang kuning. Si kuning disebut juga seksi ‘gorengan’. You know what it means. Haha… tidak bekerja dalam proyek tapi membantu menyediakan konsumsi (biar keliatan kerja dikit kali ya, hehe).
Insya Allah untuk kita, dengan berhasilnya kita masuk univ – apalagi UB – telah mengklasifikasikan kita sebagai orang yang mampu mengikuti beban akademik di kampus. Walaupun pada akhirnya ada yang A, ada yang B. Jadi, dalam berkelompok, tidaklah semestinya seorang mahasiswa tidak bekerja apa-apa. Bukankah tujuan kita kuliah untuk menimba ilmu dan mengasah skill? Dalam kerja kelompok ini berarti sama-sama dapat nilai, juga sama-sama dapat pembelajaran.
Yang kurang kita sadari adalah hakikat bekerja kelompok BUKAN sekedar jalan pintas untuk mendapat nilai. Namun lebih dari itu. Proses di dalam kerja kelompok akan membantu kita mengembangkan berbagai skill. Sebuah kelompok kerja yang terstruktur dengan baik dapat mensuasanakan kita untuk melahirkan dan mengasah skill kerja tim yang baik. Apa saja itu? Yuk simak satu persatu keuntungan yang bakal kita dapatkan dengan kerja kelompok yang terstruktur:
1. Pengerjaan tugas menjadi lebih mudah.
Ini karena dalam kerja kelompok, kita dimungkinkan untuk membagi tugas kompleks ke dalam bagian-bagian dan langkah-langkah.
2. Kerja kelompok mendorong kita untuk merencanakan dan mengatur waktu.
Yups, pastinya aktivitas yang melibatkan orang banyak membutuhkan perencanaan kerja dan pengaturan waktu yang baik bukan? Berbeda jika kita mengerjakannya seorang diri, perencanaan dan pengaturan waktu akan lebih santai semau kita.
3. Memperbaiki pemahaman melalui diskusi dan penjelasan.
Ini juga sekalian menantang asumsi, sehingga asumsi-asumsi dasar kita akan teruji kebenaran dan relevansinya oleh beragam perspektif yang datang dari setiap anggota tim.
4. mengembangkan keterampilan komunikasi yang lebih kuat.
Untuk memastikan setiap anggota memahami maksud kita, kita butuh upaya ekstra untuk menyampaikannya dengan cara yang baik.
5. Menentukan pengambilan peran dan tanggung jawab.
Sebagai iron stock, ini jadi tempat latihan yang baik buat kita mengasahnya.
6. Menerima dukungan sosial dan dorongan untuk mengambil risiko.
Kita bisa mendapatkannya melalui aktivitas memberi dan menerima umpan balik tentang kinerja bagi masing masing anggota tim.
7. Mengembangkan pendekatan baru untuk mengatasi perbedaan.
Semakin banyak kita berkonfrontasi dengan ketidakcocokan dalam kelompok, baik dalam ide atau pun personal, kita jadi lebih banyak mengambil pelajaran untuk menemukan pendekatan yang tepat dalam mengatasinya.
8. Menemukan rekan kerja yang efektif untuk ditiru.
Setiap orang memiliki kelebihan tertentu. Jadi, kalo kebetulan ketemu teman yang oke dalam skill tertentu, kita bisa meniru kelebihan tersebut.
Nah, kalau sudah mengenal tujuan kerja kelompok seperti itu, believers makin bersemangat dong untuk bekerja kelompok? Kita bisa menghindari tipe gorengan dan lebih aktif berkontribusi. Nah, dalam kasus lain, jika kita salah satu yang terkena virus individualisme (tidak suka hal-hal kolektif), mungkin ini sedikit bisa menjadi insentif bagi kita untuk melunakkan diri dalam berkordinasi dengan baik dalam kerja kelompok. Tapi yang perlu jadi catatan, setiap muslim memiliki tanggungjawab lain yang mulia dari pada umat lain. Selain membersihkan individualism dari diri kita karenapaham tersebut adalah haram, kita juga akan lebih cepat memiliki kematangan dalam menjadi bagian dari masyarakat. You know, Islam senantiasa memberi peran pada pemuda sebagai generasi pembawa solusi.
Sekarang, hal yang perlu jadi pertanyaan, bagaimana langkah strategis untuk mengefektifkan kerja kelompok? Biar traumanya hilang, yuk simak tips triknya di artikel part 2!















