Ia datang; melangkah dengan tegap tanpa berderap, membawa carrier di punggungnya, memasuki ruangan dengan wajah penuh pelita. Salah satu di antara sekian banyak insan yang menginspirasi buatku.
Tak lama kemudian duduklah Ia di meja di hadapanku, mengeluarkan laptop, dan sibuk menelusuri isi dalam layarnya. Tak kuketahui sukacita yang hadir di wajahnya itu, sampai akhirnya di penghujung sore, ruangan penuh dengan canda pengantar keberangkatannya ke Surabaya.
Ya, Surabaya. Malam ini. Menggunakan pesawat. Jakarta—Surabaya, sekian ratus kilometer jauhnya. Sebagai pengguna kereta, aku terbiasa menempuh jarak sejauh itu belasan jam lamanya, terduduk kaku di atas bangku sembari menatap satu-satunya tayangan hidup paling asli di samping tubuhku: jendela, yang kerap menampilkan hamparan sawah kehijauan yang terlihat di siang hari, maupun kegelapan berbintang di malam harinya. Tapi tidak dengannya, Ia hanya akan menempuh jarak sekian ratus kilometer itu hanya dalam waktu beberapa puluh menit saja, mungkin tak sempat melihat ke jendela dan menikmati beragam pemandangan, namun apa yang bisa menebus monotonitas pandangan, selain tekad untuk bertemu?
Surabaya bukanlah domisili aslinya. Surabaya masih berjarak ratusan kilometer dari Bandung, rumah sekaligus kampung halamannya. Tidak, tentu kita semua tahu apa yang bisa menyebabkan seseorang tak mempedulikan jarak sejauh itu.
Lagi-lagi, aku (harus) dipaksa melihat tekad bulat dari seorang manusia, menempuh perjalanan jauh demi berjumpa dengan kekasih hatinya. Agak dramatis dan hiperbola memang, tetapi apa yang membuatku salut juga kagum melihatnya?
Siapa yang tak terharu dikunjungi seseorang yang dicintai, sekian ratus kilometer jaraknya, hanya untuk jangka waktu puluhan jam (terhitung akhir pekan ini—2 harian mungkin). Waktu yang begitu terbatas dapat dikupas menjadi begitu luas. Hanya ketulusan yang dapat mematikan lelah dan mengebalkan pengaruh jarak jauh.
Aku masih ingat, sekian bulan lalu ada tindakan nekat serupa yang kulakukan, meski tidak ingin aku biasakan seperti Ia yang sedang kuceritakan. Aku berkunjung ke Malang—nekat, izin hendak menjenguk teman yang sakit pada atasan (memang hendak melihat sahabatku yang tengah menderita berbagai macam komplikasi penyakit), bahkan berbohong pada orangtua agar mendapat izin. Ternyata ada pula hal lain yang bisa menyebabkan kekebalan seseorang menempuh jarak sejauh itu dalam waktu sesingkat-singkatnya.
Nyatalah aku begitu takut tak bisa lagi melihat sahabatku ini. Dengan kondisinya saat itu yang kurus kering berwajah tirus, siapa tidak khawatir mencium bau kematian malaikat maut yang bisa jadi datang sebentar lagi? Tentulah, aku akhirnya mengambil keputusan senekat dan sebebal itu.
Tak ada yang bisa mengalahkan ketulusan dan rasa takut, terlebih jika mereka berpadu dengan cinta—yang katanya, penyedap rasa tiap insan manusia. Ah, aku tak mau muluk. Aku tak (ingin) mencintai siapapun, kecuali Dia yang mencintaiku, Si Maha Tulus.
Lagi dan lagi, aku menyaksikan Ia (yang sedang kuceritakan ini) menyandang carrier nya dengan bersemangat, melangkah tegap, bersiap menjemput bis yang akan membawanya ke bandara—ke dalam pesawat, turun kembali ke daratan, lalu menjumpai cinta penuh pengharapan.
Sungguh, aku begitu iri dan kagum terhadapnya. Belum lama ketika Ia berkunjung ke Surabaya, sekitar dua bulan yang lalu, di tengah rusuhnya tugas kantor dan dinas luar ke Jogjakarta. Ia menempuh jarak ke Surabaya usai dinas di Bandung, kemudian tidak sampai beberapa hari, meluncur kembali ke Jogja untuk tugas.
Satu hal yang terpenting: cinta membuat jarak sedemikian jauh, menjadi begitu kecil tak terasa, bahkan membuat nihil segala penghalang di antaranya.
Ratusan kilometer jadi 0? Sangat mungkin.
Selamat menempuh jarak tak terhingga, kalian yang masih berperasaan.
Tangerang Selatan, 21 Februari 2015