Tentang Ku
Aku yakin setiap orang di luar sana pasti memiliki kesedihannya masing" hanya saja mereka selalu pandai menutupi kesedihannya dengan senyuman. Malam ini aku ingin mengutarakan sesuatu yang selama ini aku pendam. Sesuatu yang mungkin menurut sebagian orang akan berkata "halah kamu cengeng, terlalu mendramatisir dll". Aku ingin menumpahkan semuanya menjadi kelegaan. Tulisan ini sengaja aku buat untuk menguatkan setiap orang di luar sana yang merasakan hal yang sama dengaku, semoga mereka menjadi orang yang kuat dan membanggakan untuk orang tuanya. Sudah lama aku ingin menulis tentang jati diriku hanya saja masih banyak kekhawatiran yang menyerang. Bukannya aku malu atau apa jika aku harus memposting kepada orang banyak. Hanya saja aku tidak mau mereka menghubungkan semua yang ada pada diriku dengan status ku sebagai anak "broken home". Tidak ada yang salah dengan anak broken home tapi stigma masyarakat membuat aku selalu merinding jika mendengarkannya. Aku tidak sedang berusaha menutup"i siapa diriku yang sebenarnya hanya saja aku ingin membuktikan kepada semua orang bahwa aku mampu, aku bisa lebih baik seperti mereka yang berasal dari keluarga harmonis pada umumnya. Sebenarnya berat menjalaninya ketika harus tetap tersenyum di tengah badai kehidupan. Tapi tidak apa" cara Tuhan mendewasakan umatnya sangat menakjupkan.
Seperti benih, kita tidak bisa memilih untuk di tanam di mana dengan siapa tapi kita bisa memilih bagaimana kita tumbuh. Sama hal nya denganku, aku tidak bisa memilih lahir dari rahim siapa, dengan keluarga yang seperti apa dan keadaan yang bagaimana. Namun, aku tidak mau di kalahkan oleh keadaan. Aku selalu meyakinkan diriku bahwa akulah yang harus mengalahkan keadaan. Aku memang tidak tumbuh dari tanah yang subur tapi tanah yang aku tempati cukup untuk membuatku menjadi orang yang kuat. Seperti benih yang baru di tanam dia akan di beri pupuk yang bagus di rawat dengan baik agar bisa menghasilkan buah yang ranum, begitupun dengan mereka yang berasal dari keluarga yang begitu hangat akan tumbuh dalam dekap kasih sayang yang begitu baik. Namun, aku harus hidup dalam terpaan angin dan melawan derasnya hujan agar tetep bisa kokoh berdiri menyambut matahari.
Bohong jika aku berkata, kasih sayang yang aku dapat selama ini sudah lebih dari cukup. Kasih sayang itu ada namun tak pernah utuh. Masih ada ego masalalu yang terbawa. Mereka tidak bisa berdamai dengan keadaan yang telah mereka ciptakan. Saling melempar batu satu sama lain. Meskipun begitu aku tidak pernah membenci keduanya. Aku menerima segala apapun itu dalam diri mereka; ego mereka, keras kepala, semuanya aku menerima.
Tuhan selalu datang dengan sentuhan yang sangat menakjubkan. Sebagian orang mungkin tidak akan kuat menerimanya, dengan segala pelik dan juga lika likunya. Tuhan begitu baik telah mengizinkan aku menjadi orang yang lebih kuat lagi. Ternyata begitu hebat keadaan membentuk watak manusia.















