Sudah sejak lama semenjak kita mengurungkan niat untuk bersama. Tak terhitung berapa banyak waktu yang mungkin seharusnya kita lewati bersama tawa berbalut rasa.
Sejak aku menghentikan langkah untuk menujumu, saat itu juga aku terluka. Tetapi aku tahu kau-pun tidak baik saja. Kesetiaan kita pada sang pencipta rupanya mengalahkan seluruh asa.
Meski telah menelan kalah, nyatanya hingga kini kita mampu mempertahankan ikatan agar tetap merekah. Walau tak lagi dalam bentuk yang indah, setidaknya kita mampu melangkah tanpa membahas luka yang sudah-sudah. Hebatmu adalah menahan tanya yang meledak-ledak di kepala. Hebatku adalah membekam sang renjana meski dengan sejuta sesak di dada.
Kali ini diam ku menggiring ingatan masa lalu saat kita terjajah pilu. Sesekali pikirku mengarah pada segenap ragu; benarkah keputusan kita kala itu? Mengapa tak saling mengadu untuk menemukan jalan yang baru? Mengapa memilih berlalu tanpa menjelaskan satupun sendu?
Karena luka yang tetap dibiarkan menganga, kita tidak lagi membagi suka. Sejak saat itu pula kita menjadi dua orang asing yang tidak pernah peduli akan hidup masing-masing. Padahal kita pernah saling memberi bahkan dalam porsi yang orang lain tidak bagi.
Di lain hal, semesta tetap menyediakan ruang untuk kita bertukar pikir dan juga berbagi tawa. Hanya saja kali ini dikemas dalam bentuk yang berbeda. Tak sehangat yang pertama.
Maksudku kali ini tidak tercampur harap ingin kembali, hanya saja terkadang aku menerka-nerka pada apa yang pernah kita punya. Pun kadang kala aku hanya merasa heran ketika bisu ku beralih menjadi rasa penasaran.
Meskipun wujudmu dapat kupandang jelas, namun seluruh tanya nampaknya tak ingin lidah ku ulas. Mungkin memang Tuhan menakdirkan sebatas pelajaran tanpa sangkut paut rasa yang berlebihan. Tetapi sekali lagi, aku hanya penasaran
‘Mengapa semesta menuai perasaan pada kita yang jelas tak sejalan?’
~ Oct, 16th ‘19 | © Dea Savitri















