Tania hanya bisa tersenyum saat dirinya akhirnya kembali lagi ke kampung halamannya. Kota kecil di ujung Tenggara Nusantara, orang-orang biasanya menyebutnya dengan kota tepian air begitulah kota Bima biasa disebut oleh kebanyakan orang. Tania merasa bahwa puing-puing surga sengaja ditempatkan disini dengan sejuta keindahannya. Tidak banyak yang berubah dari setiap sudut kota yang tetap tertata rapi sejak dahulu itu. Masyarakat yang ada masih tetap ramah. Sungguh, Bima bukanlah kota seperti kota metropolitan yang mayoritas masyarakatnya mempunyai sifat individualis. Kenangan-kenangan terdahulu seolah terputar kembali di sini, setiap kali arah mata tania menatap seolah-olah semuanya menarik ke arah dimensi waktu yang telah lalu. “Tidak ada yang berubah disini, semuanya masih tetap sama” gumamnya pelan. Tania masih terus berjalan menyusuri setiap celah jalan yang membawa memori ingatannya terus berputar. Langkah kaki Tania terhenti tepat di depan sebuah taman bermain. Senyum yang sedari tadi terpancar dari wajahnya seolah-olah terhempaskan oleh hembusan ringan angin dikala sore hari “Dan nyatanya kamu belum benar-benar bisa melupakan semua yang pernah terjadi di sini Tan, bahkan ini sudah hampir 12 tahun setelah kejadian itu berlalu.” Tania tersentak kaget saat suara berat seseorang tiba-tiba membuyarkan lamunanya. “Dia pergi karena kecerobohan aku Di, mana mungkin aku bisa lupa akan semuanya.” Ucap tania dengan nada sendu “Tania, Fia pergi karena emang takdirnya begitu, tuhan lebih sayang dia. Semua yang terjadi 12 tahun lalu itu murni kecelakaan. Dan kamu, tolong berhenti menyalahkan dirimu sendiri.” Ucap Aldi lembut. “Aldi, andaikan dulu Fia tidak menyusulku ke sini, mungkin dia nggak akan pergi ninggalin kita secepat ini. Aku nggak bisa Di lupain semuanya.” Ucap Tania pelan Lanjut di kolom komentar 👇👇 @liviaoktora @iindahriyana @mediaberkarya #kmmdk #kmmdk05 #mediaberkarya






