Manusia dan Keteraturan
Pada kodratnya, manusia menyukai keteraturan, manusia membutuhkannya. Kalau gak teratur, mesti gelisah, mesti merasa ada yang salah. Jadi, bohong kalau ada manusia yang nyaman dengan ketidakteraturan, merasa bebas dan baik-baik saja dengan hidup yang berantakan, hingga tidak perlu mendengar masukan atau sesuatu yang menenangkan. Bohong!
Allah karuniakan banyak hal. Dengan karunia, Dia juga menjaga. Kayak ini aja. Perasaan gelisah pada ketidakteraturan, kejahatan, rasa dosa setelah melakukannya adalah bentuk penjagaan dari Allah. Daaan perjuangan seorang manusia dimulai dari sini: perjuangan melawan setan yang menjelma jadi kekerasan hati untuk berhenti melakukan hal yang menyakiti, merugikan orang lain, melawan setan yang menjelma jadi gengsi untuk mengakui kesalahan, menjelma jadi keras kepala tidak terima diingatkan, dan sikap-sikap keras lainnya. Kalau bisa melewati itu, balasannya selain pahala, adalah diri yang semakin naik levelnya.
Ngomong gampang ya? BANGET. Ini ditulis, semata untuk diri sendiri. Sebagai sarana saya bicara dengan diri sendiri, dan karena saya gampang banget lupa: butuh diingatkan (disadarkan) berkali-kali, maka itu saya menulisnya. Kalau lagi goblo, terus baca ini, seenggaknya bakal malu sendiri, bakal merasa ditampar sama diri sendiri, atau bakal keinget-inget sendiri di alam bawah sadar.








