Ayah dan Ibu itu seperti dua mata. Bila salah satunya tiada, maka berkuranglah pandanganmu. Jika hilang keduanya, maka kau menjadi buta.
Jagalah keduanya seperti halnya kau menjaga dua matamu🌻
Bekasi, 8 Mei 2020
21.25
@wirdaariyanti
seen from Türkiye
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Spain
seen from United States

seen from Türkiye
seen from Spain
seen from Spain

seen from United States
seen from United States
seen from Moldova

seen from United States
seen from Türkiye
seen from Austria
seen from Germany

seen from United States

seen from Austria
seen from Mexico
seen from United States
seen from United States
Ayah dan Ibu itu seperti dua mata. Bila salah satunya tiada, maka berkuranglah pandanganmu. Jika hilang keduanya, maka kau menjadi buta.
Jagalah keduanya seperti halnya kau menjaga dua matamu🌻
Bekasi, 8 Mei 2020
21.25
@wirdaariyanti
Menengadah ke atas,
Menengadah bukan berarti membandingkan diri dengan mereka yang kondisinya lebih baik. Tapi melihat bahwa dia yang diatas memiliki usaha dan latar yang berbeda. Berbeda dengan kamu dan segala keunikanmu. Mereka menanggung sesuatu yang lebih besar, tapi toh kamu juga sama, menanggung sesuatu yang mungkin tidak bisa dibayangkan mereka. Melihat ke atas tidak melulu melihat ke orang lain yang lebih tinggi dari kamu. Itu juga berarti kamu melihat lebih jauh dari orang lain. Kamu punya mimpi, dan itu berharga.
Bermimpilah. Asal kau ingat untuk berbuat sesuatu, mengusahakan sesuatu. Karena jika tidak, tentu kamu akan menyakiti dirimu sendiri.
Manusia dan Keteraturan
Pada kodratnya, manusia menyukai keteraturan, manusia membutuhkannya. Kalau gak teratur, mesti gelisah, mesti merasa ada yang salah. Jadi, bohong kalau ada manusia yang nyaman dengan ketidakteraturan, merasa bebas dan baik-baik saja dengan hidup yang berantakan, hingga tidak perlu mendengar masukan atau sesuatu yang menenangkan. Bohong!
Allah karuniakan banyak hal. Dengan karunia, Dia juga menjaga. Kayak ini aja. Perasaan gelisah pada ketidakteraturan, kejahatan, rasa dosa setelah melakukannya adalah bentuk penjagaan dari Allah. Daaan perjuangan seorang manusia dimulai dari sini: perjuangan melawan setan yang menjelma jadi kekerasan hati untuk berhenti melakukan hal yang menyakiti, merugikan orang lain, melawan setan yang menjelma jadi gengsi untuk mengakui kesalahan, menjelma jadi keras kepala tidak terima diingatkan, dan sikap-sikap keras lainnya. Kalau bisa melewati itu, balasannya selain pahala, adalah diri yang semakin naik levelnya.
Ngomong gampang ya? BANGET. Ini ditulis, semata untuk diri sendiri. Sebagai sarana saya bicara dengan diri sendiri, dan karena saya gampang banget lupa: butuh diingatkan (disadarkan) berkali-kali, maka itu saya menulisnya. Kalau lagi goblo, terus baca ini, seenggaknya bakal malu sendiri, bakal merasa ditampar sama diri sendiri, atau bakal keinget-inget sendiri di alam bawah sadar.
Katanya...
Katanya siap jadi kader dakwah, tapi baru dapet sedikit amanah aja udah kalah.
Katanya akhirat jadi prioritas, tapi urusan dunia malah mayoritas.
Katanya bekerja harus ikhlas, tapi sering kali masih menuntut balas.
Maafkan hamba yang munafik ini Yaa Robb.
Pertama
Pertama,
Waktu mengawali kata mereka
Rasanya aneh
Karena akhirnya mereka memangku namamu
Tapi bahkan ketika kau menoleh
Yang terasa hanya abu-abu
Perasaan hilang dan tak berjiwa
Semua hal itu harus kau lalui
Tanpa suara, tanpa bersuara
Tak ada yang terasa menghampiri
Seolah-olah tak patut kau merasakannya
Pertama,
Mereka coba memberikan harapan
Yang cemerlang dan membawa harapan
Berlomba bersuka cita di akhir
Dan berebut merancang awal tahun
Bercahaya,
Cantik dan pantas untuk dipandang
_____
Sayang, segalanya dilalui tanpa kurasa berarti
Segala yang kurasakan
Tiada mereka tahu adanya
Tapi itu juga berarti tidak kuketahui adanya mereka
Aku atau mereka yang tak ada?
Aku yang tak ada
Aku
Yakin mau jadi PNS?
Yakin mau jadi PNS?
Ola!
Setahun kerja di kantor pemerintahan, beberapa kali kerja sebagai pekerja lepas di beberapa kantor pemerintahan, bikin gue cukup tau bagaimana dunia pegawai negeri sipil atau istilah sekarang itu aparatur sipil negara (ASN). Mungkin banyak yang beralasan mau jadi ASN karena gaji yang tetap, pensiun pun tetap, jelas juga jenjang karirnya. Ga bohong sih, kalau di dalamnya memang menjanjikan.…
View On WordPress
buku catatan dosa
lagi nginput kerjaan, rata-rata kasus tipikor dan pidsus lainnya tebal banget catatan perkaranya dan sudah pasti beraaaaat. itu baru 1 kasus, sudah setebal itu. tiba-tiba kebayang apa kabar buku catatan dosa gue dari jaman lahir sampai sekarang, setebal apa dia seberat apa timbangan dosa-dosa gue :’( rabbana, ampunkanlah...
Dijadikan Baik
Sejak dulu sampai detik ini, bisa dibilang aku selalu berada dalam lingkungan yang baik. Kadang aku heran hingga terkagum-kagum atas cara Allah menjagaku tetap di dalam berbagai kebaikan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Sebenarnya keluargaku bukanlah keluarga yang begitu religius. Biasa saja. Asal sholat dan mengaji, sudah. Antara membaca dan mengaji, aku lebih dulu bisa membaca tulisan huruf latin. Urusan mengaji, aku dan seorang sepupuku pernah diajar iqra oleh ustdzah killer. Satu halaman akan terus diulang sampai betul, sampai kami bosan. Lulus iqra, lanjut mengaji Al-Qur'an di TPA. Tapi tetap saja ustadzah-ustadzahnya setipe itu. Biasanya sih aku ngebut biar bisa lebih dulu keluar buat main dan jajan :v Kelas 2 sd, pertama kalinya khatam Al-Qur'an. Tentu aku senang apalagi dirayakan dalam bentuk syukuran pakai payung kembang tujuh rangkap. Setiap malam aku mengulangi surah-surah yang akan dibacakan olehku saat syukuran, Ad-Dhuha sampai Al-Baqarah: 7. Ternyata mengaji di rumah sama saja mengaji di TPA. Ibuku akan terus menyuruhku mengulang suatu ayat jika aku membacakannya dengan 'janggal'. Aku bahkan sampai menitikkan air mata saking kesalnya disuruh terus mengulang -_- Sekarang aku sangat bersyukur telah diperkenalkan dengan Al-Qur'an sejak kecil. Walaupun memang tidak sebagus bacaan seorang qori'ah, setidaknya aku bisa melafalkannya dengan lancar. Beruntung pula aku punya ibu yang berprinsip: Bisa ngaji itu no. 1 sebelum bisa yang lain-lain :) Mengenai sholat, aku punya cerita semasa sd yang mungkin tidak akan terlupakan olehku. Begini, aku suka sekali membaca koran khususnya rubrik Si Palui, semacam cerita humor Si Kabayan berbahasa Banjar. Setiap hari aku selalu menanti ayah pulang kantor membawa surat kabar itu. Bagiku, membaca koran seperti sudah menjadi kewajiban harianku. Ibuku sepertinya kesal dengan hobiku yang satu ini. Pasalnya aku lebih memilih membaca koran daripada menghapal bacaan sholat. Akhirnya, ibuku mengambil tindakan juga. Koran disita, aku dilarang baca koran kecuali bacaan sholat sudah tuntas dihapal. Karena tidak ada pilihan, akhirnya aku menghapal juga -_- Aku mulai mengenakan kerudung sejak pindah sekolah, kelas 3 sd. Bukan karena suruhan orang tua tetapi karena guru agama yang galak. Kalau diingat, lucu. Apalagi pas awal pindah masih dengan seragam lama: berkerudung dengan rok sedikit di bawah lutut yang ditambal dengan kaos kaki sampai atas lutut. Begitu naik kelas, baru aku minta dibelikan seragam baru yang panjang. Lulus sd, aku lanjut ke mts. Walaupun sekolah agama, jangan dikira akan terbebas dari hal-hal terkait kenakalan remaja. Aku beruntung waktu itu aku belum punya hp sendiri. Sempat minta dibelikan karena teman-teman yang lain sudah punya, tapi begitu ditanya buat apa, aku gak bisa jawab. Sejak saat itu aku tidak lagi minta dibelikan hp dan urusan komunikasi bisa diatasi pakai hp orang tua. Baru setelah un, ibuku beli hp baru dan aku diizinkan pakai hp lama ibu dengan nomor sendiri. Ngomong-ngomong un, aku semakin bersyukur saat itu aku belum punya hp sendiri. Di saat yang lain grusa-grusu soal kunci jawaban yang beredar, aku bisa belajar dengan tenang. Sebenarnya ibuku khawatir dengan kondisi itu, tetapi ayah yang menenangkan. Kata ayah, gak usah terpengaruh orang lain, yang penting sudah berdoa dan berusaha maksimal. Hasilnya, alhamdulillah memuaskan :) Selain karena belum punya hp, kurasa ada faktor lain yang mengkondisikanku urusan un. Sebelum un, tv di rumah mendadak rusak, mati total. Tapi ayah sengaja tidak memperbaikinya ataupun membeli tv baru sampai aku selesai un. What a great coincidence! Perfect timing! Kemudian aku menyadari, ini bukan sekedar kebetulan melainkan campur tangan Sang Maha Kuasa :) Berangkat dari hasil un, aku bersama 9 orang lainnya dari kabupatenku berhak untuk mengikuti seleksi beasiswa sma internasional dari pemprov. 8 dari 10 orang perwakilan kabupatenku dinyatakan lulus seleksi, dan alhamdulillah aku merupakan salah satu dari 8 orang itu. Sama sekali belum pernah terbayangkan akan merantau ke luar pulau secepat itu. Khawatir? Pasti! Apalagi soal pergaulan remaja di Pulau Jawa yang konon katanya terlampau bebas. Tapi ternyata justru sebaliknya. Di sma, aku dipertemukan dengan orang-orang hebat. Guru-guru, teman-teman, dan ablalar. Di asrama pun sebenarnya begitu. Agenda hariannya kadang menyebalkan. Dari bangun tidur hingga tidur lagi serba diatur-atur. Kalau subuh, biasanya akan terjadi tarik-tarikan selimut dengan ablalar. Kalau etut, mesti dikejar-kejar. Telat etut, dapat extut alias extra etut. Hp harus dikumpul setiap hari. Belum lagi kalau harus isi cetele, mulai dari sholat jama'ah, tesbihet, sholat sunnah, mengaji, baca buku, sohbet, puasa, dll. Tapi, lihat saja! Lagi-lagi aku digiring dalam lingkungan yang baik Lulus sma, kukira di perkuliahan aku tidak lagi menemukan hal-hal seperti itu. Ternyata aku salah. Sekarang aku justru kuliah di kampus kedinasan yang katanya semi pesantren. Aku kembali dipertemukan dengan orang-orang hebat lainnya, berlomba-lomba dalam kebaikan. Padahal tidak sedikit di antara mereka yang sebelumnya tidak berada dalam lingkungan baik. Cukup membuatku malu dan tertampar! Mungkin aku lebih dulu mengenal Al-Qur'an, tapi mereka jauh lebih mesra dengan Al-Qur'an. Mungkin aku lebih dulu mengenakan kerudung, tapi mereka bahkan tak lagi sekedar kerudung. Mungkin aku memang lebih dulu ditempatkan pada lingkungan baik, tapi kurasa mereka jauh lebih baik. Allah Maha Adil. Akselerasi perbaikan diriku memang lambat, mungkin karena itulah aku dikondisikan dalam lingkungan baik sedari dulu. Melihat mereka, sudah seharusnya aku memecut diri. Sampai kapan mau jalan di tempat, Zein? *** Sebuah catatan untuk diri, Zeini Afifah Jakarta, 21 Agustus 2015.