Kus, kalo kamu mendapatiku sebagai orang yang menyebalkan, perlu kamu tahu; itu cuma acting saja. Kita emang harus acting, kan. Kita sedang berada diatas panggung sandiwara yang belum sampai akhir acara. Selama itu pula, kita harus tetap ber-acting.
Sebenarnya, kus, sang sutradara tidaklah terlalu mengekangku. Dia ngasih kelonggaran gimana aku ngebawain karakter yang kuperankan. Tapi kalo kamu tanya kenapa jatohnya aku malah menjadi orang yang menyebalkan; aku juga nggak tahu kus. Aku hanya mengikuti insting seorang aktor. Sementara, karakter yang kumainkan adalah karakter yang tidak kamu pilih untuk mendampingimu. Sebagai aktor, aku perlu menahan-nahan agar aku tidak terlalu baik terhadapmu. Emang gitu, kus, biar ada perbedaan antara karakter yang kamu pilih dengan yang tidak kamu pilih.
Itu tadi actingnya, kus. Nah kalo yang sebenarnya, sih; yang ada cuma kamu, kus. Iya, kus, kalo tentang kamu, yang ada cuma kamu saja.
Entahlah. "Cuma kamu" itu udah bahasa yang paling pas, kus. Tapi dengan penulisan yang paling tepat, harusnya "cuma Kamu".
Sebenarnya lagi, nafasku buatmu, kus. Kalo aku makan, semua kalori yang kuserap adalah hakmu. Kalo aku tidur, biar setelah bangun, aku bugar untukmu. Kalo aku sikat gigi, biar nafasku segar buat ngomong sama kamu. Kalo aku jogging, biar kakiku terdidik menjadi kuat, biar nantinya kuat untuk memenin kamu jalan. Kalo kamu lagi capek, biar aku bisa gendong kamu, dengan kaki yang sudah kuat. Ya pokoknya aku padamu, kus.
Eh tapi nggak segitunya juga sih, kus. Tapi itu yang aku rasain. Dan itu yang sebenarnya. Hidup ini memang apa yang kita rasakan, kan? Selebihnya, segalanya, adalah objek-objek dan faktor-faktor perangsang saja.
Perlu aku tekankan, kus. Apa yang sebenarnya, adalah yang sebenarnya. Adapun kita memang perlu acting demi panggung sandiwara ini. Tapi buatmu, kus, aku bisa dan siap ninggalin panggung ini. Eheheh
Tapi aku nggak akan sekonyol itu, kus, kalo kamu nggak memilihku.