Cornelia Funke Beralih ke Self-Publishing
2015
KALAU kamu sudah membaca Inkheart, atau menonton film adaptasinya, kamu pasti tahu siapa gerangan Cornelia Funke yang saya sebut di judul tulisan ini.
Dia adalah penulis The New York Times Best Seller yang buku-bukunya sudah banyak diterbitkan dan sudah banyak pula diterjemahkan ke berbagai bahasa. Yang paling terkenal memang Inkherat. Namun, buku-buku lain dari pengarang asal Jerman ini pun tidak boleh dilewatkan karena cerita-ceritanya sangat bagus, antara lain; The Thief Lord, Dragon Rider, Reckless, serta tentu saja Inkspell dan Inkdeath, dua buku lanjutan dari Inkheart. Semua buku yang saya sebut barusan adalah buku-buku Ibu Funke yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama. Beberapa ada yang sudah susah dicari dan statusnya langka karena sudah lumayan lama diterbitkan. Namun, beberapa masih bias didapatkan di toko buku. Dan, saya sangat merekomendasikan buku-buku Ibu Funke karena kisah-kisah fantasi di dalamnya sangat seru dan patut dikoleksi. Jadi, jangan lupa baca ya.
Oke, sekian intro tulisan ini. Sekarang, mari kita membahas inti masalah yang mau saya tulis, yaitu kenapa penulis laris seperti Ibu Funke malah beralih untuk menerbitkan buku-bukunya secara self-publishing?
Menurut artikel yang saya baca dari The Guardian online pada Kamis, 24 September 2015, hal ini karena Ibu Funke tidak setuju dengan saran penerbit bukunya untuk mengubah plot cerita.
Jadi, tahun 2015 ini adalah tahun yang direncanakan untuk menerbitkan buku ketiga dari seri MirrorWorld di Amerika Serikat. Dua novel sebelumnya, Reckless dan Fearless sudah terbit pada 2010 dan 2013. Jika jadi terbit, buku ketiga itu akan diberi judul Heartless. Namun, hal itu tidak terjadi karena Little, Brown Books For Young Readers (LBBFYR), penerbit novel serial ini untuk wilayah Amerika Serikat, menyarankan untuk mengedit beberapa bagian dalam novel. Ibu Funke merasa perubahan itu tidak perlu. Selain karena buku ketiga itu sebelumnya sudah diterbitkan di Jerman, Ibu Funke menganggap akan sangat aneh jika isi buku tidak sama antara versi Amerika Serikat dan versi negara lain.
“Aku pulang dengan perasaan sangat puas, tidak mengharapkan apa-apa, tapi penerbit Amerika-ku akan senang dengan bukuku, dan aku mendapati kabar ‘Kami suka buku ini, tapi kami ingin Anda mengubah bab pertama dan mengganti juga akhir cerita menjadi epilog’.” kata Ibu Funke, setelah pulang tur buku dari Eropa dan mendapati surel dari penerbitnya, LBBFYR, untuk buku ketiga seri MirrorWorld.
“Aku katakana, ‘Apa yang kalian bicarakan? Itu adalah buku yang sudah terbit, tidak bisa diedit’… Aku sudah melalui proses edit yang sangat melelahkan dengan editor Jerman-ku. Aku mengedit bukuku sendiri, sekitar enam sampai tujuh kali… Aku juga melakukan edit untuk terjemahan, tapi bukan untuk plot cerita. Jadi, aku sangat kaget, aku katakana ‘Maafkan aku, tapi aku tidak akan mengubah cerita’. Pembacaku di Amerika dan di Inggris mendapatkan buku yang sama seperti yang di Jerman.”
“Bab pertama berkisah tentang Dark Fairy, cinta yang gagal, dan tentang anak adalah buah dari cinta. Banyak sekali motif dalam bab itu, yang mengapa aku inginkan hal itu menjadi pembuka cerita. Aku tidak bisa kompromi untuk hal ini. Bab kedua bukanlah pembuka cerita,” lanjut Ibu Funke yang kini tinggal di Los Angeles bersama keluarganya.
For your information, bab pertama menggambarkan adegan Doll-Pricess melahirkan dan menurut LBBFYR, lebih baik adegan tersebut dipindahkan ke bagian lain dalam buku. Asal, bukan sebagai pembuka.
“Mereka tidak pernah bilang kenapa… Aku pikir mereka akan mendapatkan masalah dengan pustakawan atau toko buku. Tapi, aku tidak mengerti karena itu bukan adegan berhubungan seks, itu adegan kelahiran,” ujar ibu dua anak ini.
“Jadi, sekarang aku harus menerbitkan buku itu karena pembacaku menunggunya… Satu-satunya jalan untuk menerbitkannya adalah ‘Cornelia, kau harus melakukannya sendiri’.” pungkas penulis yang tidak hanya menulis, tapi juga menggambar untuk ilustrasi buku-bukunya ini.
Selain itu, Ibu Funke juga tidak setuju dengan advis penerbit untuk mengganti akhir cerita di bukunya menjadi epilog. Karena menurutnnya, cerita keseluruhan MirrorWorld belum selesai. Alhasil, karena dua hal hal tersebut, Ibu Funke memutuskan untuk menerbitkan buku ketiga yang kini berjudul The Golden Yard, secara self-publishing. Dan, nama penerbit yang dibentuknya itu adalah Breathing Books. Untuk sekarang, Breathing Books hanya menerbitkan buku-buku Ibu Funke.
Jadi, begitulah. Karena perbedaan idealisme, penulis besar dan laris sekalipun berani untuk mengambil langkah yang lumayan nekat, yaitu menerbitkan sendiri karya-karyanya. Tidak melalui penerbit mayor lagi. Menurut saya, hal tersebut sangat berani dan patut diapresiasi. Karena, kita tahu menerbitkan buku sangat tidak murah dan butuh biaya yang besar. Apalagi jika diterbitkan secara self-publishing. Penulis harus turut serta terlibat untuk mengurus penjualan. Sehingga, tugasnya tidak lagi menulis saja.
Namun, saya yakin langkah yang diambil Ibu Funke ini akan baik-baik saja dan sukses karena dia sudah memiliki pembaca yang loyal. Sehingga, baik buku-bukunya diterbitkan secara mayor atau self-publishing, pembaca akan selalu mencari, membeli,dan membacanya. Mungkin, masalah utama dari self-publishing adalah persediaan buku di took buku dan perpustakaan agar pembaca bisa mudah mencarinya. Marketing yang bagus memang diperlukan sekali untuk self-publishing. ***













