GUNUNG PANDERMAN (2.045 Mdpl)
“ Suaramu tak ada hentinya di telinga
mendengung kencang
bagai sebuah samurai
melukis di atas batu “
“ keelokan tubuhmu
membuat mataku malu
untuk melihatmu
wahai pandermanku “
Tak ada niat sebelumnya untuk menunggangi Gunung Panderman di Batu Jawa Timur, memang jarak tempuh dari basecamp -/+ 1 jam, memang jarak antara aku dan pos pertama Gunung panderman dibilang dekat, namun tak ada niatan untuk kesana. Saya sendiri tidak menamakan diri saya sebagai pecinta alam, namun saya menyebut diri saya “penyaji alam”, terlebih karna saya tidak pernah ikut komunitas pecinta alam, dan saya sering solo hicking. Namun tidak ada larangan seorang yang tidak ikut komunitas alam tidak boleh mencintai alam kan?
19.30 terbelesit ingin menikmati sebuah kopi di pagi hari diatas sebuah Gunung yang jaraknya tidak terlalu jauh, karena kesibukan perkuliahan masih menunggu. Akhirnya, tidak mengambil waktu yang lama “Gunung Panderman” menjadi korban acungan jari telunjuk saya karena menunjuk ke arahnya. Mulai dari mempersiapkan bekal yang biasa saya bawa, kotak p3k, tenda, matras, sleping bag, kompor, nesting, carrier. Meskipun banyak orang berkata bahwa Gunung Panderman ini mudah di lewati dan track yang landai tidak membuat saya menyampingkan peralatan savety saya, karena alam tidak bisa ditebak, kita tidak akan tahu apa yang terjadi di atas sana, “savety is number one in my mind”.
22.00 kaki saya mulai melangkah keluar dari kamar yang saya beri nama “MontBlanc”, saya tidak sendiri, seorang gadis menemani di samping saya untuk bersama melakukan penanjakan di Gunung Panderman, ya gadis itu adalah calon istri saya tepatnya, yang selalu menemani saya ketika membeli peralatan gunung dan juga ketika saya melakukan ber-petualang
23.00 kaki sampai pos pertama Gunung Panderman dengan membayar 7000/orang. Petualangan dimulai, mata kaki sudah tidak sabar melangkah. Meskipun banyak jalan yang bercabang, namun sangat mudah untuk mencapai puncak Gunung Panderman karena banyak petunjuk arah. Akhirnya ada 2 jalan percabangan yakni kekiri ke Gunung Panderman dan kekanan ke Gunung Bhutak Via Panderman. Dalam hati berkata “suatu saat aku akan menikmati kopi di punggunggmu”.
01.30 kaki menginjak tanah di atas oro oro ombo, ini merupakan tempat dimana view dan tempatnya luas untuk mendirikan tenda dari pada di puncak Gunung Panderman. Saya langsung mendirikan tenda selanjutnya gadis yang menemani saya menyiapkan kebutuhan konsumsi. Setelah semuanya selesai dengan baik saya menyeduh mie yang menghangatkan tubuh saya…..
02.30 saya mulai menyiapkan tempat untuk tidur, jelas gadis tadi tidur di dalam tenda sedangkan saya tidur diteras tenda untuk menjaganya, hal itu yang selalu saya lakukan ketika ber-petualang dengan dia. Kita harus menjaga alam, menyajikan alam agar alam merasa nyaman dengan kita, dan mencintai alam tentunya…
04.45 mata saya terbuka dan bergegas membuka tenda,,, di depan saya duduk seorang gadis yang membelakangi saya dengan 2 gelas kopi di samping kanannya. Dan saya bergegas duduk di sampingnya…. Sebuah kegiatan inilah yang akan dirindu bagai ngilunya sebuah kopi…..
09.00 tangan bergerak mengambil sampah sampah berserakan yang membuat lekukan tubuh Gunung Panderman ternodai.
10.00 kaki mulai bergegas turun bersama seorang gadis didepan saya tentunya……
“ hangatnya mentari pagi
menyeduh sebuah kopi
memanjakan mata
diatas sana
rasa-mu ngilu
duduk disampingku
diatas kota batu
namun selalu ku rindu”