3 Perspective Kontribusi
Menjadikan visi sebagai visi “mengerjakan apa” bukan “menjadi apa”. terdapat pemutaran cara memandang kita tentang visi dan cita-cita. Namun tentunya dalam perjalanannya dihadapkan pada kebingungan tentang visi dan kontribusi apa yang akan dilakukan oleh seorang manusia di masa kini dan mendatang. Dalam kutipan buku ini disebutkan
“ Seorang pemuda muslim, jika saat ini rencana kontribusi belum terumuskan, maka berhentilah sejenak. karena iya tidak perlu dicari. pesan itu sudah dititipkan dalam kehidupan, saat ia memilih islam, saat ia meyakini Quran”
dalam rangkaian kalimat dan kutipan ini disebutkan, kita sebagai makhluk dalam perjalan hidup sudah diberikan petunjuk tentang pesan kehidupan, memilih menyediakan waktu untuk meninggalkan sejenak kebisingan hidup tentang kebijaksanaan kehidupan.
kita tidak akan asing dengan rangkaian kalimat berikut
“ Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah”, “Aku jadikan bumi ini para khalifah (pemimpin”, atau pesan kehidupan tentang “rahmatan lil ‘alamin”. Kurang lebih 3 konsep ini yang menjadi rangkaian visi kontribusi manusia, Allah SWT sudah berikan petunjuk dalam Al-Quran. Maka dari rangkain tersebut, Kontribusi adalah ibadah dan ibadah terunggul adalah kontributor kemunisaan (rahmatan lil “alamin). kita diberikan kebebasan untuk meneruskan dan memilih jalan kontribusi dengan kondrat manusia dan keunggulanya. Tidak semua menjadi seorang alim ulama, tidak semua menjadi bangsawan dan ilmuan, kebebasan memilih ini menjadi pesan Qadha dan Qadhar manusia.
Kontribusi terunggul dapat dilihat dari 3 arah perspektif
Kontribusi apapun yang kita pilih, setidaknya membekali kita untuk perjalanan kehidupan seorang manusia menuju pengadilan akhirat. artinya adalah segala yang kita lakukan didunia akan menjadi saksi.
Rencana kontribusi unggul tidak cukup hanya untuk mengumpulkan pahala, namun kontribusi itu harus relevan sesuai kebutuhan zamannya. Ibnu Qayyim berucap “alam yang paling dibutuhkan dan diwajibkan di waktu tersebut atau disebut kebutuhan zaman”. jika kita merujuk pada definisi ini maka kembali manusia diberikan keleluasan untuk memilih rencana kontribusi yang dibutuhkan dengan kebutuhan zamannya. meningkatkan kemampuan analytical thinking tentang kondisi fenomena zaman kini dan pergerakan zaman yang akan mendatang serta bagaimana posisi kita dalam berkontribusi ini.
Rencana kontribusi unggul harus berefek pada manusia lainnya. arah ketiga ini menjadi acuan, tentang keberlangsungan dampak yang kita bisa berikan. untuk pribadi, keluarga, wilayah desa, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, negara, wilayah benua, benua, dunia ? kita diajak untuk bervisi rencana kontribusi yang berdampak umat manusia.
Manusia dibatasi oleh waktu, maka merencanakan dengan waktu yang tersedia adalah opsi untuk mempersingkat sekaligus mempercepatnya. Tidak asing dengan ungkapan “biarlah manusia berencana, Tuhan yang menakdirkan” menurutku ini jalan yang memang manusia lakukan, merencanakan dan melakukannya terkait hasil memang ranahnya tuhan. namun setidaknya kita menentukan titik awal kita berada dan titik akhir kita akan menuju dan berhenti.
Dalam kutipan buku ini diceritakan, bahwa dalam melakukan kontribusi unggul itu dilakukan bersama-sama, powerful impact akan lebih effective. pesan kehidupan ini sesuai dengan Surat Al’Ashar “Demi masa, sesungguhnya manusia dalam kerugian, kecuali yang beriman dan beramal salih dan saling menasehati tentang kebenaran dan saling menasihati untuk bersabar”









